Dampak Konten Media Atas Unjuk Rasa Di Madura
OpiniPeristiwa unjuk rasa di rumah Ibu Khadijah, orang tua Mahfud MD, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Kabinet Kerja tentu merupakan peristiwa yang menarik untuk dicermati. Bukan dari dimensi unjuk rasanya tetapi dari sisi pelaku dan tempatnya. Demonstrasi tersebut dilakukan di rumah Ibu Khadijah di Kelurahan Bugih, Pamekasan Madura. Ratusan orang melakukan unjuk rasa di rumah itu untuk melampiaskan “amarahnya” terhadap Mahfud MD, yang dinilai oleh para pengunjuk rasa telah melakukan kriminalisasi terhadap Habib Rizieq Syihab (HRS), seorang ulama yang dihormati dan menjadi panutan para pengunjuk rasa. (01/12/2020).
Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius dan memiliki sikap penghormatan yang sangat tinggi terhadap para kiai atau ulama. Begitu tawadlu’nya maka ada sebuah anekdot “Ketika ada orang Madura santri yang bertemu kiainya dan tidak memakai kopyah, maka tangannya dijadikan sebagai penutup kepalanya”. Hal ini sebagai cara untuk menghormat kiai dan memohon maaf atas kesalahannya tidak menggunakan kopyah di luar rumah. Bagi masyarakat Madura, kiai atau ulama adalah sumber spiritualitas yang sangat penting. Makanya, kiai atau ulama di Madura masih berfungsi polimorphik atau berperan ganda di kalangan masyarakat, yaitu sebagai tokoh agama dan sekaligus tokoh masyarakat. Kepada kiai atau ulamalah semua urusan diserahkan.
Mahfud MD memang bukan ulama dalam konteks seorang yang mengabdikan diri pada dunia ilmu keislaman sebagaimana kiai di pesantren. Namun demikian Mahfud tetaplah tokoh masyarakat Madura yang berhasil menembus sekat-sekat kewilayahan. Mahfud MD berhasil menjadi tokoh nasional baik dalam dunia politik, hukum maupun birokrat. Mahfud MD adalah simbol orang Madura yang sukses menembus keganasan dunia politik yang carut marut dan menjadi birokrat yang sukses. Oleh karena itu, Mahfud MD tentu merupakan teladan bagi orang Madura lainnya tentang success story orang Madura dalam blantika kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mahfud MD memang loyalis pemerintah Jokowi karena posisinya sebagai Menteri. Mahfud MD dikenal dengan komentarnya yang lugas dan berciri khas orang Madura. Termasuk dalam kaitannya dengan HRS yang baru saja datang Kembali ke Indonesia. Komentar Mahfud MD di berbagai media tentang HRS dianggap oleh para penganutnya sebagai proyek pendiskreditan dan kriminalisasi ulama. Bagi mereka HRS adalah pimpinan umat Islam, dan seorang ulama yang memperjuangkan Islam dengan tanpa lelah. Makanya, Ketika seseorang melakukan perlawanan terhadap HRS, maka dianggaplah juga lawannya.
Pamekasan memang wilayah Madura yang tensi konservatifnya tinggi. Berbagai kejadian tensi perseteruan memang seringkali terjadi. Hal ini difasilitasi oleh realitas bahwa di pamekasan banyak penganut HRS. Mereka adalah para pengikut setia HRS meskipun mereka hanya menjadi santri media sosial saja. Artinya, bahwa ikatan kiai-santri tersebut berbasis pertemanan di media sosial. Jadi bukan relasi santri-kyai sebagaimana di masa lalu, seperti menjadi santri di pesantren tertentu. Di masa lalu, relasi antara santri dan kiai bercorak paternalisik dan fungsional sebagaimana konsepsi Antony Giddens, yang disebut sebagai dualitas subyek-obyek. Dengan demikian, relasi itu sangat dekat tetapi cair, saling membutuhkan dan berjalan dalam waktu panjang.
Era sekarang adalah era transisi. Banyak kiai senior digantikan oleh para kiai muda. Era transisi adalah era yang paling rawan, sebab di dalamnya terdapat proses untuk menemukan tokoh baru atau kiai baru yang memiliki talenta sebagaimana kiai sepuh telah melakukannya. Ketika mereka di dalam proses transisi, maka bertemulah mereka dengan para penganut ajaran Islam versi HRS, misalnya ungkapan amar ma’ruf nahy munkar. Dan kemudian, yang menjadi idola adalah HRS yang dengan lantang menyatakan akan melawan terhadap berbagai kemungkaran dengan dalih membela Islam.
Para pengikutnya ini sesungguhnya bukanlah para santri sebagaimana yang lazim terjadi di dunia pesantren, di mana relasi kiai dengan santrinya terjadi secara intensif. Relasi antara HRS itu dapat dinyatakan sebagai relasi baru guru-murid, di mana hubungan itu di antarai oleh media sosial, dan tokoh kunci ring ke2, yang berada di setiap wilayah. Jadi pola relasi baru guru-murid ini merupakan relasi kepengikutan dan bukan relasi langsung yang berjalan secara intensif. Jadi jika dicermati, maka polanya adalah HRS, tokoh Ring 1 lalu ke tokoh Ring2 dan baru ke penganut atau pengikutnya.
Oleh karena itu, mereka yang melakukan unjuk rasa ini adalah orang yang terbuai oleh konten media sosial dan kemudian melakukan tindakan sesuai dengan agenda setting Ring 2 dimaksud. Sebagaimana biasa bahwa ciri media sosial yang mengusung misi gerakan selalu mengungkapkan konten media yang mengajak untuk melakukan tindakan melawan kezaliman, melawan kriminalisasi tokoh agama, dan menyulut emosi massa dengan sentuhan konten yang membakar amarah. Jadi tujuannya memang agar massa melakukan tindakan dengan berdalih membela agama atau membela orang yang ditokohkan.
Membaca terhadap realitas sosial ini, maka ada beberapa hal yang bisa diuraikan: pertama, sedang terjadi perubahan kepatuhan masyarakat Madura dalam menerjemahkan tokoh umat Islam. Jika di masa lalu, tokoh umat Islam itu adalah para kiai yang berada di sekitarnya, yang mengajarkan tentang ilmu agama, yang menjadi panutan dalam kehidupan beragamanya, maka sekarang ini tokoh umat Islam itu bisa saja orang yang jauh dan tidak terjangkau secara pisikal, tetapi pesan-pesannya dapat disimak melalui media sosial. Mereka tentu sama sekali tidak mengenal HRS sebagai tokoh kunci, bahkan tidak tahu siapa yang bersangkutan. Namun dengan pesan-pesannya yang menggema untuk membela Islam akan bisa menjadi acuan kepenganutannya.
Kedua, agen-agen perubahan tersebut bisa orang lokal dan juga orang dari tempat lain, tetapi intensitas penyebaran informasi lewat media sosial sangat gencar. Dengan ungkapan viralkan, maka apapun informasi itu akan langsung dishare kepada sesama orang yang semisi. Dan ketepatan misi yang diusung adalah membela Islam, melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Agen Ring1 dan Ring2 memiliki agenda tertentu, bisa politis, sosial ekonomi dan juga budaya. Tetapi yang dominan adalah agenda politis. Misalnya dukungan 212 terhadap pasangan capres/cawapres 2019. Jadi mereka sebenarnya orang-orang yang memiliki hasrat politik untuk menjadi penguasa dalam leveling yang jelas.
Ketiga, mereka yang terpapar pengaruh media sosial ini sesungguhnya orang yang melakukan tindakan karena faktor eksternal. Mereka melakukannya bukan karena dorongan factor internal atau tindakan yang benar-benar dipahami, akan tetapi tindakan “mengikuti” seruan yang datang secara bertubi-tubi. Semakin sering orang menerima konten media yang berisi pesan melakukan tindakan, apalagi disertai dengan konten yang menyulut emosi dan mempengaruhi kejiwaan, maka pesan itu akan menjadi kesadarannya. Jadi semula factor eksternal atau because motive, namun seiring dengan tingkat keseringannya menerima pesan serupa dan bertubu-tubi, maka kemudian akan menjadi in order to motive atau motif tujuan. Jadi jika selama ini yang dominan adalah motif internal dalam melakukan tindakan, maka untuk tindakan unjuk rasa ini yang justru dominan adalah motif eksternal.
Keempat, yang tentu memprihatinkan jika mereka tidak menyadari akibat dari tindakannya itu. Disebabkan karena hanya sebagai kepengikutan saja, maka sebagaimana watak kerumunan (crowd), maka siapa yang bersuara keras itu yang akan diikuti. Padahal sesungguhnya mereka tidak menyadari sepenuhnya bahwa tindakannya itu mengandung resiko hukum atau melanggar aturan perundang-undangan. Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya mereka adalah kelompok yang rentan untuk dipermainkan dengan tujuan yang tidak diketahui secara jelas.
Wallahu a’lam bi al shawab.

