(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Kiai Haji Mas Ahmad Muhajir: Ulama Pejuang

Khazanah

Kebahagiaan seorang guru adalah di kala muridnya bisa menulis karya ilmiah atau karya ilmiah popular yang outstanding. Yang membuat saya bangga adalah di kala Dr. Wasid Mansur, memberikan buku karya ilmiahnya beberapa hari yang lalu, tepatnya pada saat saya menjadi narasumber pada acara yang digelar oleh Kabid Urais dan Zawa di Hotel Swiss Bel in Surabaya, 25-26 November 2021. Kala saya memasuki ruang, maka saya lihat Dr. Wasid dan kemudian memberikan buku yang sangat menarik dengan judul “Jejak Nasionalisme Kiai Haji Ahmad Muhajir, Pejuang Laskar Hizbullah dari Surabaya”.

  

Melalui pengkajian yang medalam Dr. Wasid bisa menceritakan bagaimana perjuangan Kiai Haji Mas Ahmad Muhajir dalam masa kemerdekaan Indonesia terutama ketelrlibatan Beliau dalam Laskar Hizbullah yang merupakan kelanjutan dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Terbentuknya laskar jihad merupakan bagian tidak terpisahkan dari aksi sebagai akibat Resolusi Jihad di dalam mempertahankan kemerdekaan Republic Indonesia, yang kala itu usianya baru seumur jagung. Menurut Prof.  Imam Ghazali Said bahwa keputusan kolektif NU untuk melakukan resolusi jihad fi sabilillah adalah  yang memompa semangat para santri dalam melakukan jihad untuk membela negara Indonesia. Pengungkapan sejarah KH. Mas Ahmad Mansur ini merupakan bukti bahwa para santri kala itu memang total membela negara, meskipun dalam sejarah resmi peran para santri itu tidak diungkapkan oleh para ahli sejarah, lupa atau sengaja dilupakan. 

  

Kiai Haji Mas Ahmad Mansur merupakan tipe santri kelana. Banyak sekali kyai yang menjadi gurunya dalam ilmu keislaman, di antara kiai yang turut serta mengembangkan keilmuan Kiai Mas Ahmad Muhajir adalah KH. Mas Abdul Qohar Ndresmo, Kiai Hasyim Sepuh Tenggilis Surabaya, Kiai Zainuddin Loceret Nganjuk, KH. Khalimi Sukaraja Banyumas, dan KH. Muntaha Bangkalan. Ndresmo adalah kampung santri yang sangat terkenal. Tidak hanya di masa lalu tetapi juga sampai sekarang. Di Ndresmo inilah Kiai Mas Muhajir memperoleh pengakuan sebagai ulama pejuang, yang tidak hanya mengabdikan diri sebagai guru atau ulama yang mengajar para santri tetapi juga pejuang di dalam jalan Allah untuk membela NKRI. Beliau menjadi pejuang melalui Laskar Hizbullah. Pesantren Ndresmo dikenal sebagai pesantren yang sangat kuat dalam pandangannya untuk NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Di sini titik perjuangan pesantren, santri dan NU dilakukan. Pada saat melawan Belanda di seputar kemerdekaan Indonesia, maka santri Ndresmo menjadi palang pintu untuk mempertahankannya. Demikian pula Ketika PKI akan mengganti dasar negara dengan Ideologi Komunisme, maka Ndresmo juga menjadi garda depan dalam mempertahankan Pancasila, NKRI dan UUD 1945. 

  

Sebagai pesantren yang berafiliasi kepada NU, maka di dalam pesantren ini diajarkan kitab-kitab klasik yang menjadi khazanah pesantren. Di antaranya adalah Kitab Takhalluq al Akhlaq, Kitab Mafatih al Abwab, Kitab Tarjaman Tarbiyat al Murid, dan kitab lain yang senafas dengan dunia pesantren pada umumnya. Pesantren inilah yang menjadi penyangga bagi kelestarian tradisi Islam yang khas sebagaimana terdapat di Nusantara. Para santri yang telah menamatkan belajarnya kemudian juga menjadi aktivis bagi kehidupan masyarakat, baik sebagai guru, pendakwah, hingga menjadi aktivis organisasi Islam (NU) dan juga bahkan menjadi wirausahawan. 

  

Tidak salah jika di pesantren ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki pandangan tentang Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil alamin. Para santri diajari agar menjaga pertemanan, menebarkan salam dan menjaga kualitas waktu. Semua ini diperkenalkan kepada para santri agar di dalam kehidupan terdapat kerukunan dan keamanan atau keselamatan, dan dapat merajut moralitas berbasis pada ajaran islam yang agung.

  

Pesentren ini juga terkenal sebagai pesantren yang mengajarkan ilmu bela diri. Hal ini tentu sebagai konsekuensi atas sejarah masa lalu pesantren ini yang berbasis pada perjuangan melawan kebatilan dan kedhaliman, misalnya Belanda dan sekutunya hingga PKI. Maka di dalam pesantren ini diyakini terdapat karomah, misalnya tepuk tangan untuk menghentikan hujan, hidup bersama macan manting, keris bengkok di tangan dan kopyah ajaib tanda isyarat pergi haji. Tentu ada banyak cerita tentang kehebatan para kiai di pesantren Ndresmo yang diyakini oleh para santrinya.

  

Pengungkapan sejarah para santri dan kyai dalam perjuangan bangsa Indonesia tentu sangat layak untuk diapresiasi. Saya tentu berharap bahwa ke depan akan terdapat semakin banyak para akademisi yang terlibat di dalam penulisan sejarah bangsa, khususnya para Kiai dan santri dalam rangka agar para generasi muda tidak melupakan jasa para pendiri bangsa, para pejuang bangsa, dan tokoh-tokoh yang membela negeri ini untuk tegaknya Pancasila, UUN 1945, NKRI dan kebinekaan. 

  

Saya berharap agar para dosen UIN Sunan Ampel, baik secara individual atau kolektif terus speak up tentang Islam Nusantara yang menyimpan banyak khazanah masa lalu, terutama para ulama, para kiai, santri dan tokoh agama serta teks-teks karya agung para kiai atau ulama yang bisa dikaji dan diterbitkan untuk generasi sekarang dan akan datang. Selamat membaca buku yang hebat ini.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.