Launching Program Doktor UNKAFA: Renungan Kebangsaan dan Pendidikan
KhazanahSaya tentu tidak menyangka akan diminta untuk memberikan ceramah kebangsaan dalam acara Launching Program Doktor Pendidikan Islam di Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik. Rabo, 21/08/2024. Seharusnya Habib Luthfi Pekalongan yang akan memberikan renungan kebangsaan, akan tetapi Beliau masih ada acara penting di Jakarta, maka beliau tidak sempat hadir. Panitia lalu berinisiatif meminta Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA untuk menggantikannya, tetapi atas kerendahan hati Prof. Ridlwan, maka saya yang dimintanya untuk menyampaikan orasi ilmiah kebangsaan dimaksud. Sebagai yunior, maka saya sami’na wa atho’na saja.
Acara ini dirangkaian dengan penandatanganan Memory of Understanding (MoU) antara UNKAFA dengan Perguruan Tinggi Islam di Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro dan Mojokerto. Sebuah acara yang sangat prestisius dalam kerangka untuk membangun jejaring dengan perguruan tinggi dalam upaya untuk meningkatkan kerja sama kelembagaan dan akademik yang terjangkau di masa depan. Tetapi yang paling penting adalah acara Grand Launching Program Doktor Pendidikan Agama Islam UNKAFA, yang ditandai dengan penekanan tombol sirine, yang dilakukan secara bersama oleh Rektor UNKAFA, Mohammad Majduddin, Lc, MA, Prof. Ridlwan Nasir dan Prof. Imam Suprayogo.
Hadir di dalam acara ini adalah KH. Masbuchin Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Mambaush Shalihin, Rektor dan seluruh jajaran serta para mahasiswa program magister dan doktor serta para santri. Hadir juga para professor dari Surabaya dan Malang, yaitu Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, Prof. Dr. Imam Suprayogo, Prof. Dr. M. Junaidi Ghoni, Prof. Dr. Arif Furqon, Prof. Dr. Abdul Haris, Prof. Dr. Mas’an Hamid, Prof. Dr. Nur Syam, dan pengurus PCNU Gresik dan sejumlah habaib.
Saya memberikan ceramah dalam tiga hal, yaitu: pertama, kita harus merasa senang dan bahagia karena bisa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kita menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang besar dan berwibawa. Kita bisa menjadi bagian dari bangsa yang hidup dalam kedamaian dan kerukunan, harmoni dan selamat. Semua ini tentu karena kita berhasil menjadi negara yang merdeka, selama 79 tahun semenjak hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia kepada para pemimpin bangsa Indonesia, para founding fathers negeri ini yang memiliki pandangan jauh ke depan tentang Indonesia yang plural dan multikultural dengan menjadi Pancasila sebagai dasar negara dan NKRI sebagai bentuk negara. Memilih Pancasila sebagai common platform negeri yang plural dan multukultural ini betapa pentingnya, sehingga semua anak bangsa bisa menjadi bagian yang setara satu dengan lainnya.
Oleh karena itu janganlah goyah sedikitpun kaki kita dari Pancasila dan NKRI karena di sinilah sesungguhnya kekuatasan terbesar dari bangsa Indonesia. Apalagi di negeri ini juga mayoritas umatnya beragama Islam dalam coraknya yang wasathiyah atau yang moderat. Dengan kebanyakan warganya adalah kaum Islam ahli sunnah wal jamaah, maka agama dapat menjadi pilar dalam membangun kerukunan, harmoni dan selamat. Hakikat keselamatan hanya akan terjadi jika seluruh komponen bangsa berada di dalam kerukunan dan keharmonisan.
Kedua, kita terlibat di dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan. Kita semua ini adalah orang yang berkhidmah di dalam meningkatkan kecerdasan bangsa. Kita telah menjadi bagian dari upaya pembangunan sebagai tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa tujuan kemerdekaan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita mencerdaskan bangsa melalui Pendidikan Islam, melalui pesantren dan Pendidikan Islam.
Kita bersyukur sebab memiliki UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Di dalam UU ini, ditegaskan tentang rumpun Ilmu yang khas keindonesiaan. Selama ini di dunia internasional, rumpun atau bidang ilmu itu hanya tiga, yaitu Natural Sciences, Social Sciences dan Humanities. Akan tetapi di dalam UU tersebut dijelaskan bahwa rumpun ilmu khas Indonesia adalah Ilmu Agama, Ilmu Humaniora, Ilmu Social, Sains dan Teknologi serta ilmu formal dan ilmu terapan. Ilmu agama berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan yang otonom. Artinya bahwa negara telah memberikan pengakuan atas keberadaan ilmu agama dan juga mengakui akan hak dan kewajiban atas penyelenggaraan ilmu agama. Semoga UU yang menjadi basis bagi penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan ini tidak direvisi.
Ketiga, kita tentu perlu berfikir tentang bagaimana UNKAFA ke depan. Ada beberapa pemikiran yang diperlukan untuk pengembangan UNKAFA, yaitu; 1) pengembangan ilmu untuk tafaqquh fiddin. Mengembangkan ilmu keislaman, seperti fi ilmi tarbiyah atau ilmu Pendidikan Islam, fi ilmi ijtimaiyah atau ilmu social keislaman, fi ilmu iqtishadiyah atau ilmu ekonomi Islam dan fi ilmi politikiyah atau siyasiyah Islamiyah. Ilmu ini perlu dikembangkan ke depan untuk menyongsong perubahan social religious yang sedemikian kuat. Kita harus mengantisipasi perubahan dengan ilmu pengetahuan.
2) Kita juga harus mengembangkan ilmu umum, yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan misalnya biologi, matematika, kimia, ilmu fisika, kedokteran, teknologi dan sebagainya. 3) kita juga harus mengembangkan integrasi ilmu, yaitu upaya untuk mengintegrasikan antara ilmu keislaman atau keagamaan dengan ilmu umum. Tugas UNKAFA di sini. Tugas mengembangkan ilmu keislaman, ilmu umum dan mengintegrasikan keduanya dalam suatu system sebagaimana diamanahkan untuk universitas Islam dan juga KKNI.
4) UNKAFA jangan tertinggal dengan teknologi informasi. Kita sedang hidup di dalam dunia digital. UNKAFA harus mengikuti perubahan zaman di Era Revolusi Industry 4.0 dan sebentar lagi akan memasuki Era Revolusi Industri 5.0. Coba sekarang dengan Chat GPT kita dapat menjelajah dunia ilmu pengetahuan dengan sangat mudah, kita dapat meminta bantuan atas hal-hal rumit dalam ilmu pengetahuan melalui aplikasi ini, dan seterusnya. Marilah kita jadikan UNKAFA sebagai perguruan pesantren yang leading dalam penerapan teknologi informasi. Digitalisasikan pelayanan pendidikan, administrasi pendidikan, dan juga program pembelajaran berbasis teknologi informasi. Semuanya terintegrasi dalam satu aplikasi atau one apps.
Kita harus terus bergerak agar tidak ketinggalan kereta. Kehidupan akan semakin mengarah seirama dengan perkembangan teknologi dan kita harus bisa mengadaptasinya. Saya percaya pesantren akan dapat mengantisipasinya dengan kearifan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

