(Sumber : Tribun Jabar )

Matahari Dakwah dari Tumbang Titi: Al-Hajj Muhammad Said

Khazanah

  Oleh: T. Indra Kusuma

  

Artikel ini diambil dari tulisan Agus Kurniawan yang mengangkat secara singkat peran seorang ulama Ketapang yang terkenal pada zamannya, Al-Hajj Muhammad Said, yang berdakwah di wilayah Kecamatan Tumbang Titi, Ketapang, Kalimantan Barat.

  

Sejarah Keislaman Ketapang

  

Sejarah keislaman di Ketapang adalah sejarah yang seiring sejalan dengan naik dan turunnya kekuasaan Kerajaan Tanjung Pura dan Kesultanan Matan. Hal ini terlihat dari makam bergaya Muslim yang menghadap ke barat, menggunakan huruf Arab dengan kalimat tauhid bertarikh 1418 M. Makam ini menjadi salah satu tanda kehadiran seorang tokoh Islam yang menjadi matahari dakwah pada periode awal masuknya agama Islam di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat.

  

Kesultanan Matan, yang menggantikan Kerajaan Tanjung Pura dan Sukadana, didirikan oleh Panembahan di Baruh (wafat 1590) dan Panembahan di Giri Kusuma (wafat 1609). Mereka menjadikan istana Kerajaan Matan sebagai sarana mendakwahkan Islam di seluruh tanah kekuasaannya yang meliputi Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara saat ini, serta mempengaruhi sepertiga Pulau Kalimantan.

  

Gerakan Dakwah Kesultanan Matan

  

Gerakan dakwah Kesultanan Matan terus dilakukan dalam lindungan payung kesultanan tersebut hingga entitas kesultanan hilang karena penjajahan Belanda yang dimulai pada 1828 Masehi. Namun, para raja dan pangeran tetap mendakwahkan Islam, terutama pangeran-pangeran yang berada di hulu Ketapang. Salah satu pangeran terkenal yang berperan penting dalam dakwah ini adalah Al-Hajj Muhammad Said bin Sultan Zainuddin Kedua.

  

Kehidupan dan Pendidikan Al-Hajj Muhammad Said


Baca Juga : Membangun Jiwa Bangsa melalui Agama, Negara, dan Karakter

  

Al-Hajj Muhammad Said, yang saat itu masyarakat sekitar menyebutnya Pangeran Sepuh, Gusti Muhammad Said, atau Kiyai Haji Muhammad Said, dikenal dalam laporan pegawai Belanda bernama Von Dewall (1845) sebagai Oetie Said dan oleh JPJ Barth dalam laporannya pada 1895 sebagai Pangeran Muda Uti Hazeran. Beliau menghabiskan masa kecil dan remajanya pada 1832 hingga 1845 untuk menuntut ilmu di Makkah bersama saudara tuanya, Gusti Sabran.

  

Kedua Pangeran Matan tersebut mengambil jalur yang berbeda dalam pembelajaran keislamannya. JPJ Barth pada 1896 mencatat bahwa Gusti Muhammad Sabran mengikuti laku Tariqat Naqsabandiyah. Sabran kemudian menggantikan ayahnya menjadi Panembahan (Sultan) Matan pada 1847 dan wafat pada 1908. Panembahan Al-Hajj Gusti Muhammad Sabran memindahkan pusat kerajaan dari Negeri Tanjung Pura di Hulu Sungai Pawan ke Mulia Kerta pada akhir abad ke-20.

  

Pandangan dan Pengaruh Dakwah Al-Hajj Muhammad Said

  

Sementara itu, Haji Muhammad Said mempelajari fiqih dan hadits di Makkah. Ketika pulang ke Kerajaan Matan bersamaan dengan wafatnya sang ayah dan diangkatnya sang kakak menjadi Panembahan, beliau mengembangkan pandangan yang konservatif. Hal ini berbeda dengan abangnya yang lebih moderat, seperti yang dicatat oleh Barth. Konservatif dalam konteks ini berarti beliau kuat dalam pelaksanaan nilai keagamaan dan tegas dalam menjalankan syariat.

  

Pelabelan konservatif ini diberikan pihak Belanda karena memang Pangeran Muda cenderung tidak mau tunduk pada penjajah. Islam dan penjajahan, baginya, tidak bisa disatukan. Konservatif dalam kerangka Syafiiyah Asyariyah berarti menjaga nilai fundamental yang dipertahankan. Nilai ini sama dengan yang dibawa oleh Harimau Nan Salapan di Minangkabau dalam Perang Paderi, yang menolak bentuk sinkretisme namun tetap bisa toleran dengan penduduk yang berlainan kepercayaan.

  

Peran dalam Perang dan Pendirian Tumbang Titi

  

Karakter Haji Muhammad Said dalam pelaksanaan keislaman yang konservatif serta menjadi penentang kebijakan Belanda tampak juga dilatarbelakangi oleh pengalamannya sebagai panglima perang dan menghadapi berbagai pertempuran saat terjadi perang saudara antara Kerajaan Matan dan Pangeran di Negeri Kendawangan. Beliau pada akhirnya berbesar hati untuk mengalah di tengah kemenangan karena lebih mementingkan kedamaian. Atas jasanya, Haji Muhammad Said diberikan tanah Lungguh (warisan kekuasaan pangeran) di wilayah Sungai Pesaguan.

  


Baca Juga : Menyikapi Perbedaan Hari Raya: Renungan Akhir Ramadhan

Haji Muhammad Said kemudian memilih sebuah tempat di tepi Sungai Pesaguan. Bersama dengan anak-anaknya, Pangeran Muda memulai perkampungan baru bernama Tumbang Titi. Sejak saat itu, Haji Muhammad Said, sang Pangeran Muda, mundur dari pemerintahan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk memulai perkebunan rotan serta mengajar dan mendakwahkan agama Islam dari tanahnya di tepi Sungai Pesaguan itu.

  

Kehidupan di Tumbang Titi

  

Dalam tulisannya Agus Kurniawan mengutip catatan JPJ Bart yang menyatakan perawakan Pangeran Muda Haji Muhammad Said mirip dengan Panembahan Sabran. Ia kurus, namun lebih tinggi, dengan jenggot yang sedikit panjang dan berwarna kelabu oleh uban. Dia sering memakai jubah hajinya, sembari memilih hidup sederhana. Dalam penilaian JPJ Barth, seorang controlleur Belanda yang sempat bertemu dengannya, Haji Muhammad Said bergaya necis dan bersih. Barth juga memuji pilihan beliau untuk bertanam rotan dan kopi, dua komoditas yang diekspor hingga ke Singapura oleh kapal-kapal Ketapang.

  

Para penduduk berdatangan ke Tumbang Titi untuk belajar keislaman, termasuk anak-anak Gusti Muhammad Sabran yang belajar keislaman kepada Haji Muhammad Said. Sebagaimana Haji Muhammad Said juga mengirim Uti Zakaria, anak pertamanya, untuk menggantikannya sebagai Menteri Matan dan mengabdi pada Panembahan Sabran.

  

Di Tumbang Titi, pada tahun 1893 hanya terdapat delapan rumah, di antaranya milik Daeng Amin, menantu yang sering mewakili beliau dalam urusan pemerintahan. Tumbang Titi kemudian menjadi daerah perdikan yang tidak lagi membayar pajak kepada Pemerintah Kerajaan karena perannya sebagai pusat pengajaran Islam di bekas wilayah Kesultanan Matan.

  

Kehidupan Pribadi dan Keturunan

  

Haji Muhammad Said mempunyai enam istri, namun tidak bermadu. Di akhir hidupnya, beliau tinggal dengan istri keenam yang melahirkan Uti Usman, yang karena hanya sendiri dari ibunya, masyarakat memanggilnya Unggal, Uti Unggal. Walau sebenarnya, dia mempunyai sembilan saudara sebapak. Termasuk Uti Unggal atau Uti Usman, Pangeran Muda memiliki empat anak lelaki dan enam anak perempuan. Namun, anak perempuan yang tercatat hanya yang menikah dengan Daeng Amin, Uti Madinah, dan Uti Abdul Latif. Uti Usman, sebagai anak dari istrinya yang terakhir, pada tahun 1893 baru berusia 12 tahun.

  

 Penangkapan dan Syair Sultan Matan


Baca Juga : Sengketa Patung Dewa: Politisasi Agama, Intoleransi dan Perlawanan

  

Karena sikap anti-Belandanya, Haji Muhammad Said sempat dijemput paksa oleh pemerintah Belanda dan dibawa ke Pontianak pada tahun 1895 dengan tuduhan mempersiapkan pemberontakan. Panembahan Sabran, Uti Zakaria yang sudah bergelar Pangeran Kusumajaya, serta para pangeran lain menyusul ke Pontianak untuk membebaskannya. Selama 100 hari Panembahan di Pontianak, yang beliau ceritakan dalam bentuk syair. Syair itu dikenal dengan nama Syair Sultan Matan atau Syair Pangeran Syarif, dan naskahnya tersimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda.

  

 Pengaruh Al-Hajj Muhammad Said

  

Sikap dan pendirian beliau dalam menjalankan syariat Islam dan menjaga keislaman pengikutnya mempengaruhi anak bungsunya, Uti Usman atau Uti Unggal, dalam mengobarkan Perang Tumbang Titi pada tahun 1914, yang secara khusus disebut dalam laporan Belanda karena alasan keagamaan. Para pejuang dikumpulkan Uti Usman di Benteng Kedang, yang sekaligus menjadi pusat pengajaran keislaman sepeninggal ayahnya. Mereka berjuang hingga kemudian Uti Usman wafat pada 19 Juni 1914.

  

Selain dalam wujud perjuangan, pengaruh Haji Muhammad Said juga mengalir lewat anaknya yang paling tua. Barth mencatat, Uti Zakaria mewarisi sikap konservatif ayahnya, namun bisa lebih moderat karena telah dibawa tinggal di Mulia Kerta. Islam corak Uti Zakaria ini kemudian berkembang dan menemukan momentumnya saat Saunan, cucu Gusti Sabran yang mendapat sentuhan Uti Zakaria, naik menjadi Panembahan pada 1922. Panembahan Saunan mendirikan Madrasah Islamiyah Mataniyah yang banyak memproduksi ulama yang tersebar bukan hanya di Ketapang tetapi juga ke wilayah lain di Kalimantan Barat serta Indonesia. Panembahan Saunan sendiri sangat keras dalam pelaksanaan syariat Islam, meneruskan semangat dan warisan dakwah dari Haji Muhammad Said.

  

 Akhir Hayat dan Warisan Haji Muhammad Said

  

Haji Muhammad Said wafat pada 16 Rabiul Akhir 1320 Hijriah atau 23 Juli 1902. Makamnya terletak di tengah kampung Tumbang Titi, yang saat ini merupakan ibukota Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang. Makam tersebut masih terjaga dengan baik dan sering dikunjungi oleh keturunan serta pengikutnya hingga saat ini. Bahkan dalam dua tahun terakhir, penduduk Tumbang Titi mulai memperingati haul beliau, sebuah tradisi untuk mengenang jasa-jasa seorang ulama atau tokoh agama.

  

Sayangnya, peninggalan tertulis dari Haji Muhammad Said belum ditemukan hingga saat ini dari para muridnya. Namun, warisan lisan dan pengaruhnya dalam mendakwahkan Islam di wilayah Ketapang dan sekitarnya tetap hidup melalui keturunan dan para pengikutnya. Pengaruhnya juga terlihat dalam struktur sosial dan keagamaan di daerah tersebut yang kuat berpegang pada nilai-nilai Islam yang beliau ajarkan.

  


Baca Juga : In Memoriam Prof. As'ad Isma: Sosok Humanis dan Setia Kawan

 Refleksi dan Relevansi

  

Kisah Haji Muhammad Said adalah bukti nyata bagaimana seorang tokoh agama dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan dan menyebarkan ajaran Islam di tengah tantangan penjajahan. Sikap tegasnya dalam menolak penjajahan dan komitmennya dalam menjalankan syariat Islam menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui pengajaran agama, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

  

Kisah Haji Muhammad Said juga menunjukkan pentingnya pendidikan dan pengajaran agama yang mendalam. Dengan belajar di Makkah, beliau tidak hanya memperkaya dirinya dengan pengetahuan, tetapi juga membawa pulang nilai-nilai dan ajaran yang kemudian ditanamkan kepada pengikutnya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan agama yang baik dapat membentuk karakter yang kuat dan berdampak luas bagi masyarakat.

  

 Kesimpulan

  

Haji Muhammad Said adalah sosok yang menginspirasi dengan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pengabdian dan perjuangan. Sebagai matahari dakwah dari Tumbang Titi, warisannya terus hidup melalui generasi-generasi penerusnya yang tetap menjaga dan meneruskan ajaran-ajaran Islam yang beliau sebarkan. Ketegasan dan komitmennya dalam menjalankan syariat Islam di tengah tekanan penjajah menjadi teladan bagi kita semua tentang pentingnya mempertahankan nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan.

  

Kisah Haji Muhammad Said mengingatkan kita bahwa dakwah tidak hanya soal menyampaikan pesan agama, tetapi juga soal bagaimana menjalani hidup sesuai dengan ajaran tersebut, meski dalam situasi yang sulit sekalipun. 

  

Sumber Bacaan

  

Kurniawan, A. (2024, Januari 4). Pangeran Muda Haji Muhammad Said (Wafat 1902), Pelita Dakwah dari Tumbang Titi. https://diketapangada.blogspot.com/2024/01/pangeran-muda-haji-muhammad-said-wafat.html

  

Kurniawan, A. (2016, April 2). Gusti Muhammad Said Tumbang Titi, Sang Pangeran Penentang Penjajahan.

[https://diketapang.wordpress.com/2016/04/02/gusti-muhammad-said-tumbang-titi-sang-pangeran-penentang-penjajahan](https://diketapang.wordpress.com/2016/04/02/gusti-muhammad-said-tumbang-titi-sang-pangeran-penentang-penjajahan).