(Sumber : okezone muslim)

Mematahkan Stereotip: Kisah Kemandirian Siti Khadijah dalam Islam

Khazanah

Eva Putriya Hasanah

  

Stereotip tentang perempuan yang tidak boleh mandiri telah lama menjadi isu yang mempengaruhi persepsi dan realitas kehidupan perempuan di berbagai budaya. Meskipun perjuangan untuk kesetaraan gender terus berlangsung, stereotip ini masih merintangi kemajuan perempuan dalam mencapai kemandirian dan keberhasilan. Stereotip ini mungkin berasal dari pandangan tradisional yang memandang perempuan sebagai makhluk yang lemah dan bergantung pada laki-laki. Dalam banyak budaya, perempuan dianggap memiliki peran yang terbatas pada tugas domestik dan merawat keluarga, sehingga seringkali dianggap kurang mampu dalam hal kemandirian dan karier.

  

Perempuan muslim juga seringkali tidak terpisahkan dari adanya stereotip semacam ini dan menjadi topik yang menimbulkan kontroversi dan kesalahpahaman. Stereotip ini sering kali muncul dari pandangan yang terbatas terhadap agama Islam dan budaya tertentu, yang menyebabkan persepsi bahwa perempuan Muslim tidak memiliki kemandirian dan kebebasan untuk mencapai potensi mereka sepenuhnya.

  

Namun, realitasnya jauh dari stereotip ini. Islam sebenarnya mendorong kemandirian perempuan dan memberikan hak-hak yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, adalah contoh nyata dari seorang perempuan Muslim yang sangat mandiri dan sukses dalam bisnis dan keuangan pada zamannya. Beliau adalah seorang pedagang kaya yang sukses dan sangat dihormati dalam masyarakatnya.

  

Selain Siti Khadijah, ada banyak contoh lain dari perempuan Muslim yang telah menunjukkan bahwa mereka mampu mandiri dan berhasil dalam berbagai bidang kehidupan. Dari aktivis hak asasi manusia hingga pemimpin bisnis, perempuan Muslim telah membuktikan bahwa agama mereka tidak menghalangi kemandirian mereka. Mereka mengambil peran aktif dalam masyarakat, berkontribusi pada pembangunan negara, dan memainkan peran yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.

  

Teladan Siti Khadijah dalam Islam

  

Robert Hoyland, seorang profesor sejarah Timur Tengah Kuno di Universitas New York, mengatakan bahwa sulit untuk mendapatkan gambaran rinci tentang Khadijah, sebagian karena informasi tentangnya ditulis bertahun-tahun setelah ia meninggal dunia. Namun, kebanyakan sumber menunjukkan bahwa dia adalah seorang perempuan dengan ambisi jiwa yang bebas, dan kemauan yang sangat kuat. Misalnya, dia menolak untuk menikahi sepupunya - seperti yang diinginkan keluarganya sesuai dengan tradisi - karena dia ingin menjadi orang yang memilih pasangannya.

  

Siti Khadijah dikenal sebagai salah satu pedagang paling sukses di Mekah pada zamannya. Ia memimpin dan mengelola bisnisnya dengan kecerdasan dan keberanian yang luar biasa. Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, Siti Khadijah adalah orang yang memberinya dukungan penuh, baik secara moral maupun finansial. Hal ini menunjukkan bahwa Siti Khadijah bukanlah perempuan yang bergantung pada pria, melainkan mampu mandiri dan memberi kontribusi yang signifikan dalam kehidupan.

  

Peran Siti Khadijah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat memiliki karier yang sukses dan tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu. Ia adalah teladan bagi perempuan Muslim dalam menjalani kehidupan yang seimbang antara tanggung jawab keluarga dan karier.

  

Dalam ajaran Islam, Siti Khadijah dihormati sebagai seorang wanita yang berani, mandiri, dan sukses dalam bisnis. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi luar biasa untuk meraih kesuksesan tanpa harus bergantung pada pria. Islam mendorong kesetaraan gender dan mengakui kemampuan perempuan untuk mandiri dan berkontribusi dalam masyarakat.

  

Rasulullah memberikan penghargaan dan rasa hormat yang tinggi terhadap Siti Khadijah. Beliau merasakan kenyamanan sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga berkat kesetiaan dan kemandirian Siti Khadijah. Siti Khadijah juga mendapat pengakuan yang tinggi dalam hadis yang menyebutkan bahwa empat wanita ahli surga termasuk Siti Khadijah.

  

Dengan demikian, Siti Khadijah adalah bukti nyata bahwa stereotip tentang perempuan yang lemah dan harus bergantung pada pria adalah tidak benar. Sehingga perempuan masa kini memiliki banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah kemandirian Siti Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW. Meskipun hidup pada masa yang berbeda, kisah Siti Khadijah memberikan inspirasi bagi perempuan masa kini untuk meneladani kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan.

  

Perubahan pandangan masyarakat terhadap perempuan yang mandiri dan sukses akan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi generasi perempuan masa depan. Melalui penghapusan stereotip ini, perempuan akan meraih kemerdekaan dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi dalam masyarakat.