Nikmat; Ujian Yang Tidak Kita Sadari
KhazanahIlham Maulana Yusup
Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam
Masih ingat dengan beriita mobil xpander yang menabrak showroom mobil phorce? Kejadian itu terjadi pada rabu (13/3/2024) di showroom ivan’s motor, PIK 2, sedayu indo city, kabupaten tanggerang. Kapolsek teluk naga akp wahyu hidayat mengatakan total kerugian akibat peristiwa itu tembus sekitar Rp. 5,7 miliar, beliau menambahkan yang bersangkutan diduga dalam pengaruh alkohol, masih kami dalami. Ini masih dalam pemeriksaanBerita ini viral di media sosial, mulai dari poster-poster dan video amatir. beberapa komentar netizen pada postingan video amatir tersebut dari: @mto_dkondria: jika kmu merasa masalahmu berat, ingat ini yaa. dari @nandajauhar : seberat apapun masalahmu, ini yg paling berat pokoknya ???????? semangat yak. Kemudian dari @dhinijuliani: Dia yang nabrak aku yang pusing ????. Hal ini membuat para netizen khusus nya merasa bersyukur, bahwa musibah yang dia alami belum seberapa dengan musibah yang dialami pengemudi mobil xpander.
Masyarakat saat ini telah lebih jauh menyederhanakan makna dan \"falsafah\" atas pengertian musibah. Masyarakat tidak mengganggap musibah sesederhana “segala bencana yang terjadi di luar kehendak manusia\". Ada dua pilihan bagi kita: menerima sepenuhnya hal tersebut sebagai kecelakaan alam murni, atau menghubungkannya dengan kehendak Sang Kuasa. Pilihan pertama sudah jelas, hal itu lebih banyak dipegang teguh oleh masyarakat Barat. Pilihan kedua adalah pilihan yang hingga kini masih dipegang umat Islam. Akan tetapi, pilihan kedua ini masih berupa pemikiran yang global dan masih banyak umat Islam yang belum dapat memahami bagaimana menyikapi makna musibah ini.
Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Orang yang berfikir bahwa kekayaan dan kesehatan adalah sebuah tanda cinta Tuhan maka dia telah keliru, begitu juga dengan orang yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan. Allah mengecam kepada orang-orang yang apabila diberi nikmat olehnya, lantas berkata, "Saya disenangi Tuhan," dan apabila Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, mereka lantas berkata, "Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya."
Jangan berfikir, mereka meninggal dan ditimpa musibah itu dibenci Tuhan. Jangan berpikir yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan berpikir yang bergelimang harta disenangi Tuhan. Kalla! Tidak! Di sini Allah menggunakan kata bala yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan atau Azab Allah mungkin juga itu rahmat Allah. Ibn al-Jauji mengatakan, "Seandainya dunia bukan medan musibah, di dalamnya akan tersebar penyakit dan nestapa, takkan pernah ada kepedihan yang menimpa para nabi dan orang-orang terpilih. Allah SWT berfirman tentang beratnya cobaan bagi para nabi di dalam Surat al-Baqarah/2:214 sebagai berikut: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.
Penulis mencoba melihat ni’mat yang diberikan oleh allah swt dari sudut pandang lain, Seringkali, ketika kita berbicara tentang nikmat, pikiran kita langsung tertuju pada kebahagiaan, kemudahan, atau kelimpahan yang kita terima. Nikmat terasa seperti hadiah murni yang memperindah hidup kita. Tapi, pernahkah kita merenung lebih dalam? Apa yang sebenarnya terjadi saat kita menerima nikmat yang lebih dari cukup?
Ada satu pemikiran yang belakangan ini terus hadir dalam benak saya: semakin besar nikmat yang kita terima, semakin besar pula potensi kita untuk tergelincir. Mengapa? Karena dengan nikmat yang lebih besar, datang juga godaan yang lebih besar. Ketika kita diberi kelimpahan materi, popularitas, atau kekuasaan, seringkali justru hal-hal inilah yang bisa menjerumuskan kita ke arah yang tak semestinya.
Penulis mencoba mengambil sampel pada paragraph pertama, dimana seorang yang memiliki harta lebih, memudahkan dia untuk membeli minuman beralkohol atau bahkan bisa lebih dari itu, apakah itu sebuah nikmat yang diberikan sang maha kuasa? Jika memang begitu, mengapa dia mengalami kecelakaan dan mengharuskan dia ganti rugi sampai berkali-kali lipat karena harta yang dia miliki. Ini adalah contoh bagaimana nikmat yang tak diimbangi dengan kesadaran dan tanggung jawab, dapat menjadi pintu kemaksiatan bahkan menjadi musibah.
Mungkin di sinilah letak ujian sesungguhnya. Kita seringkali menganggap bahwa ujian itu datang dalam bentuk kesulitan atau kekurangan. Namun, ujian juga bisa hadir dalam bentuk kemudahan dan kelimpahan. Apakah kita mampu mengelola nikmat itu dengan bijak? Apakah kita tetap rendah hati, tetap peduli, dan tidak terbuai oleh apa yang kita miliki?
Pada akhirnya, semua kembali pada diri kita. Setiap nikmat yang kita terima adalah amanah yang harus dijaga. Rasa syukur bukan hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan yang menjaga nikmat itu tetap membawa kebaikan bagi diri kita dan orang lain.
Mari kita renungkan kembali setiap nikmat yang telah kita terima. Apakah kita telah benar-benar mensyukurinya dengan cara yang tepat? Ataukah, tanpa sadar, kita membiarkan nikmat itu membawa kita ke arah yang menjauh dari kebaikan?

