(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Prof. Azis Fahrurrazi: Ahli Tafsir UIN Jakarta

Khazanah

Saya mengenal Prof. Dr. Azis Fahrurrazi, MA, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam suatu momen menjadi narasumber pada acara yang diselenggarakan oleh IAI Tribakti Kediri, beberapa bulan yang lalu. Beliau adalah guru besar senior pada UIN Jakarta dan pernah belajar di Timur Tengah, maka banyak karyanya yang terkait dengan penafsiran al-Qur’an, sebagaimana buku yang saya beri pengantar ini. Tulisan ini sebagian besar tentu sudah pernah diterbitkan sebagai kata pengantar atas buku “Memahami Ajaran Pokok dalam Al-Qur’an Melalui Kajian Semantik”,  yang diterbitkan oleh Jenggala Pustaka Utama, tahun 2019. Buku ini adalah contoh yang baik tentang  integrasi ilmu sebagaimana mandat atas pengembangan Universitas Islam Negeri (UIN) yang memang memiliki kewajiban untuk mengembangkan integrasi ilmu dimaksud.

  

Prof. Azis Fahrurrazi dilahirkan di Indramayu tahun 1952. Pendidikan dasar dan menengah dihabiskan di Cirebon. Gelar Sarjana Muda diperoleh di IAIN Cirebon tahun 1974, dan gelar sarjana diperoleh di IAIN Jakarta, tahun 1979. Lalu juga mengikuti program Diploma pada Al Khaortoum International Institute, Sudan pada tahun 1987. Gelar Magister dan Doktor diperolehnya pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan spesialisasi di bidang pemikiran Islam. Beliau dipanggil ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, pada 15 September 2021. Alhu al Fatihah.

  

Kita sekarang sedang memasuki suatu perkembangan baru di dalam ilmu pengetahuan, yang sering dibahasakan dengan konsep integrasi ilmu. Jika di masa lalu setiap bidang atau disiplin itu memiliki otonominya sendiri-sendiri, maka sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Era otonomi ilmu sudah berakhir, sebab akhirnya dipahami bahwa dengan pendekatan seperti itu, maka perkembangan ilmu pengetahuan menjadi lambat, dan sebaliknya melalui integrasi ilmu, maka pengembangan ilmu pengetahuan menjadi lebih cepat dan variatif.

  

Di dalam pembidangan ilmu kita mengenal ada konsep monodisiplin, interdisiplin dan multidisiplin atau transdisiplin. Tulisan Prof. Dr. Aziz Fachrurazi, MA dan Dr. Suko Susilo, Msi tentu saja berada dalam kawasan studi interdisciplinary. Studi ini akan memperkaya integrasi ilmu sebagaimana menjadi program dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Di dalam konteks ini, Direktur Jenderal Pendidikan Islam telah mengeluarkan Surat Keputusan No. 2498 tentang Pedoman Implementasi Integrasi Ilmu di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam ini, maka  menjadi tugas para pendidik atau dosen PTKI untuk mengembangkan kajian keilmuan dalam corak integrasi ilmu ini. 

  

Tulisan yang dihadirkan dalam buku ini merupakan bagian dari Tafsir Maudhu’i atau tafsir al-Qur’an dengan cara mengambil bagian-bagian dari ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai sasaran kajian. Oleh karena itu yang dikaji adalah “Kata atau teks Islam, Iman dan Ihsan”  yang merupakan pokok-pokok dalam ajaran Islam, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang merupakan dialog antara Malaikat Jibril dengan beliau. “Ma huwa al Iman, Ma huwa al Islam dan Ma huwa al ihsan.” Jawaban atas pertanyaan ini yang kemudian dikenal sebagai rukun Islam dan rukun iman. Makanya dalam buku ini disebut sebagai ajaran pokok Islam, yang meliputi mempercayai terhadap rukun iman, melaksankan rukun Islam dan memahami dan mengamalkan al ihsan. 

  

Sebagai konsekuensi dari pemaknaan teks yang bervariasi, maka secara bombastis sering dinyatakan “satu ayat seribu tafsir”. Manusia dengan kemampuannya untuk menalar makna teks, maka akan terdapat banyak sekali tafsir atas teks al-Qur’an, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan penafsirannya. Oleh karena itu, tidak ada otonomi atas tafsir teks sebagaimana kajian di dalam hermeunetika maupun semiotika. Produk tafsir atas tafsir teks itu lalu tidak seharusnya diklaim yang paling benar, sebab tidak ada yang “bisa menjamin” bahwa tafsirannya sendiri yang paling benar. Dengan kata lain, hanya Rasulullah Muhammad SAW saja yang bisa memahami teks sebagaimana makna  teks yang dikehendaki oleh pencipta teks, Allah SWT. 

  

Itulah sebabnya, Peter L. Berger, menyatakan bahwa agama itu adalah “kabar angin dari langit”. Semakin jauh masa antara Nabi Muhammad SAW dengan umatnya, maka akan semakin banyak kabar angin  atau produk tafsir yang dihasilkannya. Hanya saja, bahwa kabar angin yang bisa dianggap atau dinyatakan “benar” adalah yang memiliki relasi dengan para mufasir atau memiliki genealogi yang relevan dengan para pengkaji sebelumnya. Meskipun juga selalu bisa saja terjadi “ruang” diskusi untuk memperdebatkan produk tafsir dimaksud.

  

Melalui kajian Semiotika al-Qur’an, sesungguhnya kita diajak untuk melanglang dunia ilmu tafsir al-Qur’an yang memiliki keragaman. Selama ini memang sudah sangat banyak kajian tafsir dalam berbagai corak dan ragamnya. Namun demikian, pemaknaan semantik al-Qur’an tetap menjadi bagian yang sangat penting untuk memahami makna teks dalam relasi antara manusia dengan Tuhan atau pencipta teks. Sebagaimana ditulis oleh penulis buku ini, maka memang ada dualitas dalam memahami teks, antara yang preskriptif dan deskriptif.  Keduanya tentu menjadi penting bukan dalam corak dualisme yang tidak bisa dipertemukan tetapi merupakan dualitas yang sebenarnya bisa dikorelasikan. Melalui kajian semantik, maka makna al-Qur’an bisa menjadi lebih luas dari makna teksnya, sebab bisa dikaitkan dengan konteks sosial dan kehidupan manusia pada masanya dan bahkan sesudahnya, sebagaimana pernyataan bahwa ajaran Islam itu “selalu sesuai dengan waktu dan tempatnya”.

  

Al-Qur’an adalah kitab atau teks tertulis, sehingga memungkinkan adanya peluang manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan atau Allah SWT. Itulah sebabnya menurut penulis buku ini, bahwa al-Qur’an adalah relasi antara manusia dengan Tuhan dalam corak linguistik. Di sinilah makna penting agar al-Qur’an selalu relevan dengan masa dan tempatnya, sehingga  diperlukan analisis semiotika agar  al-Qur’an akan selalu bermakna.

  

Buku tersebut membahas secara mendasar tentang makna teks  Islam dan relasi-relasinya, maka kata iman dengan relasi-relasinya, kata Islam dengan relasi-relasinya dan juga ihsan dengan relasi-relasinya. Guna memahami tentang teks tersebut, maka tidak hanya bisa didekati dengan memahami simbol-simbolnya sebagaimana studi hermeunetika akan tetapi dengan memahami morfologi dan sintaksisnya.  

  

Kata salat, misalnya setelah dikaji dengan semiotika, memiliki relasi dengan beberapa kata lainnya misalnya thaharah, ruku’, khusyu’, takbir, doa, zikir, salam, wudhu, sujud, istighfar. Jadi kata salat ternyata memiliki relasi-relasi dengan kata lain yang terkait dengan salat. Kata sirath misalnya, juga memiliki relasi dengan kata-kata lain yang mengitarinya, misalnya mustaqim,  iwaj, huda, ihtida, rasyad yang berkaitan dengan kata iman, lalu juga berkaitan dengan kata thaghut dan qhawiyah. Begitulah teks al-Qur’an ternyata tidak selalu berdiri sendiri dalam pemaknaannya tetapi selalu memiliki relasi-relasi dengan lainnya.

  

Buku tersebut memang tahap awal kajian tentang al-Qur’an dengan pendekatan semiotika, tetapi menurut saya tentu sangat penting dalam upaya menyingkap makna al-Qur’an dengan pendekatan non mainstream ilmu tafsir. Hal yang lebih penting adalah sebagai upaya untuk memahamkan bagi kita tentang makna al-Qur’an yang tidak tunggal dan klaim kebenaran tunggal yang akhir-akhir ini menjadi fenomena yang menggejala. Terakhir, buku ini bisa dijadikan sebagai rujukan dan sekaligus untuk studi lanjutan tentang al-Qur’an dengan pendekatan dan metodologi lain yang ternyata juga mengasyikkan.

  

Melalui kajiannya yang bercorak integrasi ilmu dalam tafsir al-Qur’an ini betapa sungguh memberikan indikasi bahwa Prof. Azis Fahrurrazi adalah salah satu di antara ahli ilmu keislaman yang berada di dalam paham keagamaan Islam wasathiyah. Hal yang mengajarkan Islam wasathiyah tidak harus terdapat tafsir tunggal atas penafsiran al-Qur’an sebagai konsekuensi dari tafsir al-Qur’an yang berbasis pada pemahaman manusia atas al-Qur’an.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.