Air, Kesehatan dan Agama
OpiniPencemaran sungai di Indonesia itu luar biasa, sementara itu banyak sungai yang menjadi sumber air Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM), misalnya Surabaya, yang menjadikan aliran Sungai Brantas sebagai pasokan air bersih untuk warga Surabaya. PDAM Surabaya tidak memiliki sumber air yang pegunungan, seperti Pasuruan, Probolinggo dan sebagainya. Air bersih yang diproduk oleh PDAM Surabaya memanfaatkan sungai yang mengalir dari Bengawan Solo ke Jagir Surabaya.
Air adalah sumber kehidupan bagi seluruh kehidupan di muka bumi. Manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan hidup karena adanya air. Sebagai wilayah yang dilalui oleh Garis Khatulistiwa, Indonesia sungguh menjadi negara yang beruntung. Cuacanya yang segar di setiap musim. Musim dingin tidak terlalu dingin dan musim panas juga tidak terlalu panas. Melalui dua musim, kemarau dan penghujan, maka system kehidupan di bumi dan di lautan dapat terjadi secara seimbang. Di Indonesia, sumber air sedemikian mudah didapatkan, sehingga manusia, binatang dan tetumbuhan apapun dapat hidup dengan sempurna.
Menjadi manusia Indonesia seharusnya banyak bersyukur kepada Tuhan, Allah SWT. Dengan tanahnya yang subur, udaranya yang segar, lautnya yang indah dengan karang dan habitat lautnya, menjadikan Indonesia memiliki daya tarik yang sangat tinggi bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Di dalam syair lagunya Koes Plus mendendangkan: “Bukan lautan hanya kolam susu, air dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Indonesia adalah negeri yang dirahmati Allah SWT karena keindahan, kesuburan dan kemakmuran yang ada di dalamnya. Allah SWT menyatakan: “wa anzalna minal mu’shirati ma’an tsajjaja, linuhrija bihi habbaw wa nabata”. (Surat Annaba’ ayat 14 dan 15), yang artinya: “dan kami turunkan dari awan air hujan dengan derasnya, untuk kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman”.
Air hujan yang diturunkan Allah kemudian terserap di dalam tanah dan juga mengalir ke sungai dan kemudian ke laut. Ada mekanisme proses dari air menjadi awan dan kemudian turun menjadi air lagi. Air yang turun ke bumi lalu menghidupkan manusia, tanaman dan hewan. Air menjadi sarana bagi manusia untuk mandi, mencuci dan juga untuk minum. Jika air untuk hewan tidak dipersyaratkan perlunya air sehat, maka untuk manusia yang diperlukan adalah air yang sehat dan menyehatkan. Air yang sehat mesti berasal dari sumber yang sehat. Jika air tersebut berasal dari sungai, maka air sungainya harus sehat. Problemnya adalah banyak sungai yang tercemar, sehingga ketika diproses untuk air bersih, harus memperbanyak komposisi kaporit, sehingga Air PDAM berbau kaporit.
Masyarakat akhirnya harus melakukan pilihan, bahwa air PDAM tidak digunakan untuk memasak atau minum. Pentingnya air untuk minum dan memasak, maka harus menggunakan sekurang-kurangnya air isi ulang. Air PDAM hanya dipakai untuk mandi dan mencuci. Secara ekonomi, maka beban masyarakat menjadi bertambah, harus tetap langganan air PDAM dan membeli air isi ulang atau air produk perusahaan.
Pencemaran sungai tentu terkait dengan budaya sehat. Masyarakat Indonesia kurang menghargai sungai sebagai sumber air sehat, sehingga sungai menjadi tempat membuang limbah perusahaan, dan juga limbah rumah tangga. Budaya masyarakat Indonesia, termasuk kategori permisif dalam kaitannya dengan kebersihan lingkungan. Orang bisa saja membuang segala sesuatu ke sungai, dan juga laut. Di pinggir pantai berserakan sampah baik sampah plastic atau lainnya. Tradisi tersebut terekam dalam ungkapan masyarakat pembatik di Pekalongan, misalnya: kaline buthek wetenge wareg atau sungainya kotor perutnya kenyang. Tradisi membuang sampah ke sungai merupakan tradisi yang sudah mengakar di masyarakat, sehingga diperlukan proses yang panjang untuk mengakhirinya.
Padahal agama apapun memiliki ajaran agar hidup dalam kebersihan dan kesehatan. Jika air yang diminum bersih, yang dipakai untuk kepentingan rumah tangga juga bersih, maka dipastikan masyarakat akan hidup dalam kebersihan dan kesehatan. Sesungguhnya agama mengajarkan bahwa air tidak hanya menjadi lambang profan, tetapi juga lambang sacral. Di dalam lambang profan, air dapat menjadi sarana untuk kehidupan manusia secara umum, tetapi air juga menjadi lambang sacral sebab air dapat menjadi sarana untuk ibadah. Semua agama menjadikan air untuk kepentingan ibadah. Di Islam air menjadi sarana untuk mensucikan diri dari hadas kecil atau besar melalui berwudhu atau mandi janabah. Air juga digunakan untuk ritual pembaptisan di dalam agama Katolik atau Kristen. Di dalam agama Buddha, air juga digunakan untuk upacara meruwat Rupang Buddha.
Jika agama mengajarkan agar manusia menjaga kebersihan karena kebersihan adalah sebagian iman, lalu air menjadi instrumen ritual dalam agama-agama, dan air juga menjadi sarana untuk kesehatan manusia, maka pantaslah jika manusia harus menghargai air sebagaimana Allah menjadikan air sebagai sarana ritual, sarana kehidupan dan sarana keberlanjutan dunia. Maka pantaslah jika manusia mentradisikan untuk menghargai air sebagai karunia Allah dan menjadikannya bukan sebagai obyek kehidupan tetapi subyek kehidupan.
Ketika menjadikan air sebagai subyek kehidupan yang berdampingan dengan manusia maka manusia tidak akan memperlakukan air dengan semena-mena karena disadari bahwa air adalah subyek yang setara dengan manusia. Tradisikan air untuk tetap bersih dan sehat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

