(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Narasi Budaya Popular dan Wacana Aktivisme Islam

Riset Budaya

Tulisan berjudul “Islamic Popul(ar)ism: Religious Popularism and Activism in the YukNgaji Community” merupakan karya M. Abzar Duraesa dan Muzayyin Ahyar. Artikel ini terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies tahun 2021. Penelitian tersebut berusaha mengkaji bagaimana budaya popular dalam menciptakan wacana aktivisme Islam dalam gerakan online ‘YukNgaji’. Pendekatan yang digunakan adalah sosio antropologis dengan metode etnografi. Pengumpulan data didapatkan melalui observasi, wawancaram dan investigasi digital media sosial. Terdapat tiga sub bab dalam penelitian ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Islam, populisme dan aktivisme islam di dunia muslim kontemporer. Ketiga, YukNgaji dan wacana Islam popular.

  

Pendahuluan

  

Beberapa aktivis Islam berhasil menciptakan identitas Islam dan membentuk gerakan sosial Islam. Misalnya, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai dua ormas Islam terbesar dalam mempertimbangkan isu aktivisme Islam ketika menanggapi situasi sosial, budaya dan politik. Jatuhnya Rezim Orde Baru berdampak luas pada perjuangan identitas dan politik Indonesia. RRuang publik mulai dipenuhi berbagai asosiasi berbagai identitas, profesi bahkan ideologi politik. Kontestasi politik dan budaya popular berdampak signifikan pada perubahan kondisi sosial politik. Para ulama menyatakan bahwa kekuatan Islam di ruang publik merupakan gejala penguatan Islam politik. Di sisi lain beberapa ulama berargumen bahwa Islam politik telah gagal membentuk basis massa di ruang publik.

  

Satu dekade pasca reformasi, lanskap politik telah menunjukkan arah menuju polarisasi. Seiring dengan berkembangnya demokratiasasi, pola perjuangan politik mengarah pada populisme. Populisme politik terus berkembang mewarnai setiap momen politik elektoral yang condong perebutan identitas. Arah baru populisme politik di Indonesia mengungkapkan bahwa Islam adalah “kendaraan” untuk mengumpulkan kelompok sekutu dalam gerakan sosial. Populisme Islam selalu menghadirkan kontentasi politik sebagai bentuk dialektika naratif antara kesalehan agama dan perebutan kekuasaan di ruang publik. Di dakam populisme Islam, “rakyat” digambarkan dengan “umma” yang berusaha mewakili komunitas muslim. Pada lintas populisme Islam, berbagai identitas dan simbiil Islam popular sering digunakan sebagai alat komunikasi dalam menyatukan beberapa perbedaan. 

  

Meningkatnya Islam populis diiringi dengan budaya popular yang mengusung tema Islam. Fenomena hijrah merupakan gejala menguatnya budaya popular di kalangan pemuda muslim. Dewasa ini, konsep hijrah berkembang, yakni sebagai fenomena sosial dari generasi ke generasi, terutama generasi Z. Hijrah popular diartikan sebagai upaya seseorang untuk menjadi individu yang lebih religius dengan meninggalkan hal buruk dari beberapa aspek, seperti mode bahkan gaya hidup. 

  

Islam, Populisme dan Aktivisme Islam di Dunia Muslim Kontemporer

  

Islam dan budaya popular dapat dilihat dari aksi radikal di kalangan Islamis. Jika dikaitkan dengan teori identitas pemuda, seseorang dapat terjebak di persimpangan jalan karena struktur sosial dan tekanan relasi kekuasaan. Alhasil, kaum muda melawan pengekang relasi kuasa melalui aksi pemberontakan. Ekspresi identitas kaum muda sering kali dipengaruhi oleh situasi global dan proses lokal yang melingkupi identitas mereka. 

  

Di dalam kaitannya dengan hal hijrah dan aktivisme politik Islam, keduanya menggunakan dua identitas yakni religiusitas dan modern. Ferish A. Noor dalam tulisannya berjudul “Popular Religiosity in Indonesia Today: The Next Step After ‘Islam Kultural’?” menggambarkan fenomena tersebut sebagai religiusitas popular. Islam dapat dilihat di mana pun, diekspresikan dalam berbagai media seperti fashion, kosmetik halal, arsitektur Islam dan peraturan lain yang dianggap mengandung nilai-nilai Islam. Meski begitu, fenomena ini tidak bisa dianggap sebagai kebangkitan Islamisme di Indonesia. Hal tersebut merupakan hasil dari pertemuan antara identitas Islam dan budaya popular, sehingga menjadi kesadaran beragama baru di kalangan kelas menengah muslim yang diangggap sebagai agen perubahan sosial. 


Baca Juga : Syekh KH. Chairuman Ar Rahbini : Sosok Pembangun Dunia Pendidikan

  

Menurut Nieuwkerk dalam tulisannya berjudul “Islam and Popular Culture” secara komprehensif menjelaskan Islam dan budaya popular dalam tiga proposisi terkait pentingnya mempelajari Islam dan budaya popular. Pertama, budaya popular membantu memahami proses utama transformasi sosial di dunia muslim. Kedua, budaya popular tidak sama dengan proses “westernisasi”, “sekularisasi” atau budaya lainnya. Islam dan budaya popular harus ditelaah dalam konteks globalisasi yang lebih luas dan fleksibel. Ketiga, budaya popular tidak dalam disederhanakan dalam hal politik identitas. 

  

Aktivisme adalah terminologi politik yang melibatkan perilaku kolektif dan gerakan sosial. Kondisi awal mempengaruhi gerakan sosial dalam ekonomi, sehingga menciptakan kesenjangan sosial. Mereka yang terlibat dalam gerakan sosial menuntut peningkatanan kesejahteraan dan lapangan kerja. Saat ini, gerakan sosial baru membawa kajian politik ke arah aktivisme sosial. Aktivisme adalah upaya memajukan, mengatur, menghalangi, mempengaruhi, dan mengintervensi arah kebijakan publik guna menghasilkan perubahan dalam kehidupan masyarakat dengan melibatkan beberapa elemen, seperti oposisi politik, aktor, ideologi, dan mobilisasi. 

  

Kegiatan aktivisme Islam saat ini sangat kritis dalam menyampaikan isi dan metode substansi gerakan mereka. Pesan Islam disampaikan secara menarik kepada publik dalam bahasa sederhana dan popular, salah satunya dengan menggunakan media internet. Melalui internet, unsur aktivisme mudah dilakukan dengan kemungkinan penyebaran yang luas. Aktivitas ini menciptakan pola aktivisme yang disebut “Islamic Clickivism.” Tolak ukur penyebaran ide diangkat dari tanggapan online, jumlah pengikut dan seberapa reaktif pesan yang diungggah. Kemudian, amplifikasi menjadi bagian dari aktivitas politik identitas dalam membangun jaringan dan pengaruh massa di ruang publik. Massa yang diperoleh melalui media sosial adalah sumber informal yang dapat diorganisir untuk bertindak. 

  

YukNgaji dan Wacana Islam Popular

  

YukNgaji merupakan gerakan lintas daerah, yakni komunitas yang mengumpulkan potensi berbagai profesi dan generasi guna berbagi identitas Islam popular. Gerakan ini menggunakan tagline “Kekuatan Ngaji” yang membantu meyakinkan generasi muda bahwa manusia membutuhkan bekal yang cukup untuk dapat sukses. Pendiri komunitas ini adalah beberapa pemuda muslim yang memiliki kesamaan visi dan misi. Beberapa di antaranya adalah Felix Siauw, Husain Assadi, Cahyo Ahmad Irsyad, Ihsanul Muttaqin, dan Abietya Sakti. 

  

Gerakan dakwah komunitas YukNgaji disampaikan secara ofline dan online. Dakwah disampaikan secara visual dengan gaya yang menyenangkan dan mudah dipahami anak muda, sebab sasaran dakwah mereka memang anak muda. Selanjutnya, dokumentasi video dibuat dalam bersi panjang yang disistribusikan lewat Youtube, dan versi pendek diunggah melalui Instagram. Selain itu, gerakan dakwah milenial ini menggunakan pendekatan keakraban, sehingga meraih antusiasme masyarakat luas dalam mengkampanyekan wacana Islam. Agenda komunitas YukNgaji adalah mengajak masyarakat terutama pemuda untuk memiliki gaya hidup yang berpedoman pada akidah Islam melalui konsep hijrah. Anak muda dan budaya popular memang tidak dapat dipisahkan karena kemajuan teknologi informasi. Namun, anak muda harus mengganti budaya popular dengan nilai-nilai Islam. 

  

Kesimpulan

  

Berdasarkan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa populisme Islam merupakan varian dari populisme politik. Fenomena sosial politik yang berkembang banyak berdampak pada keterbukaan politik identitas. Sebagai identitas yang menonjol sekaligus komunal di Indonesia, Islam digunakan sebagai kekuatan yang mewakili “umat Islam” secara keseluruhan. Di sisi lain, popularisme dalam penelitian tersebut merupakan sebuah terminologi yang disederhanakan guna menggambarkan fenomena budaya popular. Popularisme dapat diartikan sebagai praktik khas dengan nilai publik sesuai dengan popularitasnya. Tidak ada kontradiksi antara populisme Islam dan popularisme, namun saling mempengaruhi secara praktis. Popularisme secara menarik “membungkus” simbol dan identitas Islam, sedangkan populisme “menjualnya” ke ranah masyarakat yang lebih luas.