Prof Istibsyaroh: Akademisi yang Politisi
KhazanahDi kalangan dosen dan mahasiswa IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel) dipastikan mengenal nama yang satu ini. Nama lengkapnya adalah Prof. Dr. Dra. Hj. Istibsyaroh, SH, MAg. Dosen pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Prof. Istibsyaroh tidak hanya dikenal di kalangan mahasiswa, akan tetapi juga para santri, bahkan juga para politisi.
Aktivitas Beliau tidak hanya mengajar dan mendidik para mahasiswa, akan tetapi juga memberikan ceramah agama, mengajarkan kitab kuning dan juga perempuan yang piawai dalam politik, khususnya dalam kalangan Senator di Senayan. Selama satu periode Bu Istibsyaroh menghuni Gedung Senayan sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang ketepatan berasal dari Jawa Timur.
Prof. Istibsyaroh lahir di Jombang, 19 September 1957. Jenjang pendidikannya dilampaui secara memadai. Pendidikannya diselesaikan di Lembaga Pendidikan Islam. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah Bulurejo Diwek Jombang, Muallimat VI tahun di Cukir, Universitas Hasyim Asyari Jombang untuk Sarjana Muda (BA), Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum Jombang, Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel dan Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oleh karena itu pantaslah jika Bu Istibsyaroh memiliki pengetahuan ilmu keislaman yang sangat memadai.
Prof. Istibsyaroh juga pendidik yang lengkap. Dimulai yang paling dasar, yaitu sebagai guru MI di Seblak Jombang, Guru MTs Bulurejo Jombang, Guru MAN Purwoasri Kediri, dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, lalu menjadi Guru Besar Ilmu Tafsir pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selain sebagai dosen, juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Kediri (1992-1997) lanjut Ketua Komisi E DPRD Kabupaten Kediri (1997-1999). Profesi politiknya juga berlanjut menjadi anggota DPD RI, tahun 2009-2014. Saya kira tidak banyak individu dengan pengalaman yang luar biasa seperti ini. Memulai karier dalam pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi serta menjadi anggota legislative di tingkat kabupaten lalu ke nasional. Sungguh pengalaman hidup yang sangat membanggakan bagi almamaternya, di UINSA maupun UIN Syahid Jakarta.
Prof. Istibsyaroh juga kader NU yang sangat tangguh. Aktivitasnya dapat dilacak dalam berbagai jabatan yang diembannya, khususnya di jabatan keperempuanan. Misalnya anggota Pengurus Himpunan Daiyat Muslimat Wilayah Jawa Timur, Koordinator bidang Litbang Muslimat NU Wilayah Jatim dan Ketua Forum Muballighah Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Timur, dan Sekretaris MUI Jawa Timur. Selain itu juga menjadi pejabat di IAIN Sunan Ampel. Ada banyak jabatan yang diembannya seperti Wakil Ketua Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Sunan Ampel, Penasehat PSG dan juga pernah menjabat sebagai Kepala Litbang IAIN Sunan Ampel.
Sebagai sesama kolega yang mengabdi di IAIN Sunan Ampel dan berlanjut di UIN Sunan Ampel, maka saya mengenalnya dengan baik. Di masa lalu saya memanggilnya dengan sebutan Bu Is, sangat jarang saya menyebutnya dengan panggilan Prof. Sama halnya dengan Bu Is yang selalu memanggil nama saya dengan sebutan yang komplit Pak Nur Syam. Bu Is juga jarang memanggil saya dengan jabatan sebagai Guru Besar. Bahkan kala saya menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel, seingat saya jarang Bu Is memanggil dengan sebutan Pak Rektor. Tetap seperti semula memanggil dengan sebutan nama saja.
Meskipun sebagai aktivis di masyarakat dan organisasi keagamaan bahkan juga politik, akan tetapi Bu Is adalah dosen yang aktif menulis. Ada banyak karyanya yang dikenal luas terutama dalam kaitannya dengan perempuan dalam Al-Qur’an dan Al Hadis. Ada sekurang-kurangnya 13 buku yang berhasil ditulisnya. Buku yang outstanding berjudul “Aborsi dan Hak-Hak Reproduksi Dalam Islam” yang diterbitkan oleh LKIS tahun 2012. Pada tahun-tahun itu, LKIS merupakan penerbit yang sangat terkenal dan buku yang diterbitkannya dijamin sebagai buku yang istimewa. Selain itu juga yang berjudul “Poligami dalam Cita dan Fakta” yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung.
Prof. Istibsyaroh merupakan tokoh ulama perempuan yang dapat dinyatakan langka. Tentu karena pengalamannya yang panjang dalam dunia keperempuanan. Banyak konsep dan teori yang dihasilkannya dalam keterlibatannya dengan dunia perempuan. Bahwa di dalam Islam hukum aborsi adalah haram, secara legal-formal dan moral-ideal dilarang, akan tetapi praktik aborsi terus berlangsung karena factor empiris. Baginya, hukum Islam itu fleksibel sehingga hukum aborsi pun bisa dipengaruhi oleh banyak variable untuk menentukannya.
Jika sebelum menjadi senator di Senayan, saya sering berjumpa Beliau terutama dalam kaitannya dengan tugas dan pekerjaan, maka semenjak Beliau di Jakarta, maka tentu jarang ketemu. Justru sering bertemu di Bandara. Sering hari Senin pagi kami bertemu di Bandara Juanda, kala sama-sama akan ke Jakarta. Dan yang selalu saya ingat adalah senyumnya. Beliau seorang perempuan yang ramah dan selalu mengedepankan senyuman di kala bertemu dengan siapapun. Dengan Bahasa Jawa yang khas Mataraman, maka sering kita saling menyapa dan berbicara.
Dengan seorang suami, KH. Zaimuddin Badrus, Beliau mengembangkan Pesantren Al Hikmah Purwoasri Jawa Timur dan juga mengembangkan Lembaga Pendidikan Tinggi, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Urwatul Wutsqa, dan Beliau pernah menjadi ketua STIT tersebut. Beliau meninggalkan enam putra dan putri, yaitu: A’in A’inul Ghurroh, I’ik Atiyatul Husna , Hamidah ‘izzatul Laili, Diyah Halimatus Sa’diyah, Tata Taqiyatuz Zahroh. Dan Muhammad Dzu ‘izzin.
Sebagai manusia tentu tidak akan mampu melawan ajal. Bu Is akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya pada 07 Agustus 2024. Kita semua yakin bahwa Bu Is adalah orang Islam yang sangat istimewa, baik dalam pandangan masyarakat, sesama koleganya dan juga di hadapan Allah SWT. Selamat jalan Bu Is, panjenengan kami yakini sebagai bagian dari ahli surga. Amin. Laha Al fatihah..
Wallahu a’lam bi al shawab.

