(Sumber : Nur Syam Center)

Salam dari Maha Kasih untuk Istri Sang Kekasih

Khazanah

Oleh: Khobirul Amru

  

Umm al-Mu’minin, Khadijah binti Khuwailid RA adalah istri Rasulullah SAW yang mempunyai peran besar dalam “menolong” dan membela agama Islam. Beliau lah perempuan pertama yang mengikrarkan syahadatain dalam sejarah Islam. Beliau pula yang menghibur, menenangkan dan menguatkan hati Rasulullah SAW dalam mengemban misi dakwah dari Allah SWT. Belum lagi pengerahan harta yang tak terhitung jumlahnya untuk agama yang mulia itu. Tidak heran bila kemudian banyak keistimewaan yang beliau sandang.

  

Ibn al-Qayyim misalnya, menyebutkan bahwa di antara keistimewaan beliau adalah bahwa Rasulullah SAW tidak menikahi perempuan lain selama beliau hidup; semua keturunan Rasulullah SAW lahir dari rahim beliau kecuali Ibrahim RA, karena yang disebutkan ini dilahirkan oleh Mariyyah al-Qibthiyyah RA; beliau lah sebaik-baik perempuan umat Islam; dan beliau lah yang mendapat salam langsung dari Tuhan semesta alam, Allah SWT, bersama pemimpin para malaikat, Jibril AS.

  

Berkenaan dengan salam tersebut, Ibn al-Qayyim mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Sahih-nya. Qutaybah bin Sa‘id bercerita kepada kami; (Ia berkata), “Muhammad bin Fudhayl bercerita kepada kami,” dari ‘Umarah, dari Abi Zur‘ah, dari Abi Hurayrah RA. Ia berkata: (Suatu ketika) Jibril AS mendatangi Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ini ada Khadijah yang mendatangimu dengan membawa sebuah wadah yang berisi bumbu (makanan), makanan atau minuman. Bila ia telah datang kepadamu, maka sampaikanlah salam kepadanya, dari Tuhan Pemeliharanya dan dariku; dan berilah kabar gembira kepadanya dengan (dibangunkannya) sebuah rumah (untuknya) di surga, yang tiada kegaduhan dan keletihan/kesusahan sedikit pun di dalamnya.”

  

Setidaknya ada dua hal yang patut digarisbawahi dalam memahami riwayat di atas. Pertama, bahwa kalimat “bumbu (makanan), makanan atau minuman” adalah bentuk keraguan dari perawi, bukan Jibril AS. Artinya, perawi hadis di atas tidak ingat betul perihal isi wadah yang dibawa oleh Khadijah RA yang diberitakan oleh Jibril AS. Kedua, perihal hikmah dibalik kalimat “tiada kegaduhan dan keletihan/kesusahan sedikit pun di dalamnya”, al-Suhayli menjelaskan: 

  

Tatkala Rasulullah SAW mengajak pada keimanan, Khadijah RA menjawabnya dengan penuh kepatuhan, sehingga beliau tidak membuat Rasulullah SAW memerlukan “menaikkan suaranya”, (dengan kata lain) tanpa percekcokan dan kesusahan sedikit pun. Bahkan beliau lah yang menghilangkan segala kepenatan Rasulullah SAW, menenangkannya dari segala bentuk kekejaman/kebiadaban dan meringankannya dari segala kesulitan (yang beliau alami). Maka tepat lah kiranya bila kediaman (surga) yang dijanjikan oleh Tuhan Pemeliharanya untuknya, disifati (dengan dua sifat) yang sepadan dengan perjuangannya.

  

Pada akhirnya, tidak lah berlebihan apa yang dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim setelah mengutipkan hadis riwayat Imam al-Bukhari di atas. Bahwa, “Demi Allah, ini adalah keistimewaan yang (hanya beliau miliki), tidak ada pada selainnya.” (red.Kha)

  

Referensi:

   

Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah, Jala’ al-Afham (Mekkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id, 1425 H), 262-264.

   

Syihabuddin al-Qasthalani, Irsyad al-Sari li Sharh Sahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), vol. 8, 293-294.