(Sumber : Nur Syam Centre )

Investasi

pepeling

Oleh: Jambedaweh

  

Bagi siapapun yang menikmati tulisan ini, marilah membaca surat al-Fatihah untuk seluruh anak cucu dan keturunan kita sampai hari akhir nanti, semoga mereka semua ditakdirkan menjadi mukmin dan muslim sejati. Untuk mereka semua, al-Fatihah.

  

Sesaat setelah menyelesaikan rutinan pengajian kitab, kami berkumpul dan kongkow di surau tempat kami biasa mengadakan agenda tetap tersebut. Tak seperti biasa, rutinan malam itu terasa lebih istimewa sebab salah satu peserta tetap rutinan yang sebut saja sapaannya Mbah Dolah datang bersama cucunya sambil membawa beberapa makanan. Tampak tubuhnya yang renta bersemangat membawa setampah nasi lengkap dengan lauk-pauknya, sedang cucunya yang berjalan di samping kanan lelaki tua itu berjalan sambil menenteng wedang kopi dan beberapa cangkir dari aluminium. Di tempat kami, makanan yang dibawa Mbah Dolah itu disebut brokohan. Berbeda dengan tumpeng yang ciri khasnya ada nasi berbentuk kerucut dan lauk-pauk di sekitarnya, nasi brokohan ditata mendatar dengan lauk-pauk di sekitarnya.

  

Beramai-ramai kami menghabiskan kenduri itu sambil sesekali saling bertukar makanan dan gojlokan. Setelah mengakhiri misi, kami meneruskan kongkow dan kali ini sambil menyiapkan rokok masing-masing. Terlihat setelah memberikan pesan pada cucunya untuk membawa pulang peralatan mayoran, Mbah Dolah mengeluarkan rokok klobot yang setahuku sudah menjadi ciri khasnya. Tak berselang lama Kamituwo dusun kami berkata sendiri dengan suara agak keras dan terlihat segaris lirikan ditujukan pada orang yang dimaksud, “di kampung ini orang yang paling sukses itu Mbah Dolah.” Oknum yang dimaksud hanya terkekeh lalu menyedot rokok klobot di tangan kanannya kuat-kuat. Peserta kongkow malam itu saling tertawa mendengar ucapan Kamituwo, tapi kemudian pembicaran berbelok pada tema yang lain dan preambule Kamituwo hilang seiring bubarnya kerumunan sesaat setelah terdengar kokok ayam pertama.

  

Paginya, ucapan Kamituwo kembali hadir mengisi renunganku. Mbah Dolah memiliki lima anak dari seorang istri dan beberapa cucu yang Aku sendiri tak tahu pasti jumlahnya. Empat putra-putrinya bermigrasi dan hanya si bungsu yang menetap di kampung kami walau tidak hidup serumah dengan Mbah Dolah dan sehari-hari memimpin pengelolaan madrasah tempat anak-anak kami belajar.

  

Walau sehari-harinya dari masa mudanya Mbah Dolah hanya bekerja sebagai buruh tani tanpa kepemilikan aset pertanian dan terkadang juga menyabit rumput untuk pemilik para kambing atau sapi, namun ucapan Kamituwo itu ada benarnya. Bagi orang dengan profesi buruh tani dan penyabit rumput, Mbah Dolah memang sangat sukses. Betapa tidak, anak pertamanya menjadi hakim, anak kedua mengikuti suaminya memimpin pesantren di daerah Pantura, anak ketiga memiliki perusahaan agrobisnsis, anak keempat menjadi dosen universitas ternama di negeri Kanguru, dan yang kelima menemani masa tuanya di kampung. Prestasi yang luar biasa bagi seorang buruh tani.

  

Matahari berangsur condong ke barat selepas Ashar, aku melangkah menuju dangau di tengah sawah yang biasa digunakan Mbah Dolah mengaso. Dari kejauhan tampak Mbah Dolah membersihkan dirinya dari aneka kotoran sawah, lalu duduk sambil membuka bekal wedang kopi yang disiapkan Mbah Karti, istrinya. Melihatku datang, orang tua ini dengan ramah mempersilahkanku duduk menemaninya. Tampak sabit, sarung, caping, dan sebuah mushaf kumal tepat di bawah langit-langit jerami dangau itu.

  

Setelah berbasa-basi, kutanyakan rahasia “kesuksesan” hidup Mbah Dolah. Apa resep hidup yang dijalankannya sampai-sampai kelima putra-putrinya mengalami kehidupan yang bisa jadi bagi sebagian besar orang sulit digapai, walaupun bagi mereka yang memiliki modal kehidupan lebih mapan dari Mbah Dolah dan Mbah Karti. Awalnya Mbah Dolah hanya terkekeh sambil tak sengaja menunjukkan beberapa giginya yang telah tanggal. Tapi setelah bara api menghabiskan separuh rokok klobot di tangannya, buruh tani tua ini mulai mengeluarkan rahasianya.


Baca Juga : Generasi Milenial di Tengah Perubahan Sosial Kompleks (1)

  

“Seperti yang Sampeyan tahu, saya ini buruh tani dan tukang sabit yang bekerja bila disuruh orang. Tidak punya sawah atau hewan ternak. Makanya sehari-hari saya banyak waktu menganggur.” Ujarnya dengan kembali menyulut rokok klobot yang memang mudah mati ketika dinikmati. “Karena banyak menganggur, saya gunakan untuk membaca al-Qur’an semampu-mampunya sambil belajar. Tapi ya bacaannya orang tak pernah nyantri. Orang sekampung pasti tahu bila bacaan al-Qur’an saya tak sefasih bacaan Sampeyan.” Mbah Dolah tertawa sambil menepuk-nepuk pahaku. Tapi kurasakan ada frekuensi sindiran plus peringatan dalam kalimatnya. Aku pun tahu bahwa kakek renta ini belum membuka rahasianya.

  

“Karena banyak menganggurnya, tiap pekan saya khatam al-Quran sekali. Pagi sebelum Jumatan seperti ini, saya khatam al-Qur’an. Lalu saya berdoa agar manfaat berkah khataman itu Allah berikan pada anak pertama beserta pasangannya dan anak-cucunya sampai kiamat nanti. Setelah Jumatan saya mulai lagi membaca al-Qur’an dari awal dan khataman pada pagi sebelum Jumatan pekan berikutnya. Sama, saya berdoa moga manfaat berkahnya diberikan pada anak kedua beserta pasangannya dan anak-cucunya sampai hari akhir. Berikutnya khataman untuk anak ketiga, keempat, dan kelima. Lalu kembali khataman untuk anak pertama dan seterusnya.” Mbah Dolah menuturkan sambil sesekali melirik mushaf al-Quran yang kusam di langit-langit dangau itu, sedang aku menyimak dengan ketakjuban maksimal.

  

“Mulai kapan Panjenengan melakukan kebiasaan itu Mbah?” Tanyaku. Yang ditanya malah tertawa sambil berkata yang sebenarnya bukan jawaban. “Sampeyan jangan membandingkan apa yang dilakukan buruh tani yang tak tahu boso ngarab dan bacaan Qur’an-nya tak fasih dengan para ustadz itu.” Sekali lagi aku tertampar. Setelah menyodorkan singkong rebus padaku, Mbah Dolah menjawab juga akhirnya. “Kebiasaan itu saya lakukan saat si bungsu lahir sekitar 40 tahun yang lalu.” “Jedieeeeeeer!” Seolah ada petir yang menggelegar di dalam kepalaku.

  

Bagi orang modern dengan kemampuan dan kesanggupannya material di zaman ini, apa yang dilakukan Mbah Dolah mungkin menjadi hanya cerita inspirasi yang bisa ditemukan di novel atau tulisan-tulisan yang mengklaim berisikan inspirasi kehidupan. Memiliki banyak reviewer dan pemberi jempol, dibaca sambil diiringi decakan kagum, lalu dibuang diam-diam untuk kemudian tidak diteladani barang sehuruf pun. Atau bahkan, bagi pembaca yang hobi mencari pembenaran ketidakmampuannya berperilaku yang disebut agamawan dengan “istiqomah”, kabar tentang Mbah Dolah dan “tarekat” khatamannya malah menjadi stempel pengabsah bahwa mereka menjadi bagian dari laku tirakat senada. Mereka seolah menginisiasi dirinya layaknya Mbah Dolah yang gagah menyertai ruhani anak-cucunya dengan al-Quran.

  

Bagi siapapun di antara kita yang merasa belum melakukan apa-apa untuk anak-cucu, sedangkan mereka telah beranjak dewasa dan “dengan sopannya meninggalkan” kita bak rumah tua yang layak ditinggalkan, tak perlu berkecil hati dan tak harus meniru Mbah Dolah untuk mengkhatamkan al-Qur’an sepekan sekali. Bukan karena telat, tapi oleh sebab mungkin kita bukanlah makhluk imitasi sekuat Mbah Dolah. Bagi siapapun di antara kita yang baru belajar berumah tangga dengan anak-anak yang masih belia, Anda boleh meniru melakukan lebih dari apa yang Mbah Dolah istiqomahkan. Bagi siapapun di antara kita yang belum melakukan apa-apa oleh sebab belum memiliki pasangan dan membangun mahligai rumah tangga, mungkin merasa tidak harus menjadi seperti Mbah Dolah.

  

Bahwa seorang buruh tani dan penyabit rumput pun peduli pada masa depan harta terbesarnya, yaitu anak-cucu mereka. Bahwa kepedulian pada aset paling berharga itu diwujudkan dengan “menghadiahkan” berkah amal paling mulia yaitu bacaan al-Quran. Bahwa terbatasnya kesanggupan tak menyurutkan pengharapan akan kesuksesan generasi berikutnya sebagai pembuktian pada Penciptanya bahwa sebagai hamba ia telah berbuat dalam kadar kemampuan maksimalnya. Bahwa di saat orang beramai-ramai menyiapkan warisan untuk anak-cucunya dengan gemerlap materi, lain dengan mbah Dolah yang tiap pekan memasukkan tabungan berkah Kalamullah pada ruhani anak-cucunya, dan bahkan semua menantunya. Bahwa di saat orang menyiapkan warisan yang banyak toko menyediakannya, Mbah Dolah memperagakan anak-cucunya yang langka, yaitu istiqomah khataman al-Quran.

  

“Monggo, sudah menjelang maghrib. Saya sudah harus memulai rutinan khataman lagi.” Ucapan Mbah Dolah membuyarkan lamunanku yang masih ramai oleh kalkulasi untung-rugi, bahkan sebelum memulai hal yang penting untuk diriku sendiri. Kulihat kakek renta itu bersiap-siap berinvestasi.