(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Agen Moderasi Beragama Pada Era Pertarungan Ideologi (Bagian Satu)

Opini

Para mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Mahasiswa adalah generasi yang memiliki kelebihan dalam Pendidikan atau well educated. Mahasiswa harus  belajar tentang sejarah bangsa agar bisa mengambil sari pati bagaimana mereka  memperjuangkan bangsa dan negara ini di masa lalu. Mahasiswa jangan melupakan sejarah bangsanya. Jangan mudah dirayu untuk berpandangan berbeda dan berperilaku berbeda dengan pandangan dan paham kebangsaan yang sudah teruji implementasinya. Mahasiswa jangan mudah mengikuti paham-paham mendasar atau ideologi yang belum tentu cocok bagi bangsa ini. 

  

Pernyataan ini saya sampaikan di hadapan para mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, para pimpinan IAIN Bukittinggi dalam forum zoominar dengan tema “moderasi beragama” sebagai kegiatan Rumah Moderasi Agama pada IAIN Bukittinggi. Hadir pada acara ini Rektor IAIN Bukittinggi, Dr. Ridha Ahida, para Wakil Rektor dan juga Dekan, 23/09/2021.

  

Semua sudah memahami bahwa Moderasi beragama adalah cara memahami dan melaksanakan agama secara moderat yaitu tidak ekstrem atau berlebihan. Sehingga Yang dimaksud dengan ekstrem adalah menganggap bahwa hanya ada satu tafsir agama yang dianggapnya benar dan yang lain dianggapnya salah. Era sekarang ini sebenarnya sedang terjadi pertarungan ideologi melalui cyber war. Sebuah pertarungan antara moderatisme, melawan liberalisme dan juga ekstremisme dan radikalisme yang tidak nyata secara fisikal, tetapi berakibat dahsyat. 

  

Di dunia ini banyak terdapat ideologi, baik yang berbasis pada aspek ekonomi, politik, social dan agama. Misalnya Liberalisme yang berkembang di Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya beranggapan bahwa kebebasan adalah mutlak dan terbaik bagi kehidupan manusia. Kemudian ideologi Sosialisme, yang berkembang di Eropa Timur dan Amerika  Selatan beranggapan bahwa kehidupan yang terbaik adalah kehidupan yang didasarkan pada masyarakat yang egaliter dalam berbagai aspek kehidupan. Ideologi Komunisme yang berkembang di China, Korea Utara dan beberapa negara di Amerika Latin  beranggapan bahwa masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang memiliki kesamaan dalam berbagai aspek kehidupan terutama ekonomi. Ideologi Islamis  atau Agamaisme berkembang di Timur Tengah dan Afrika adalah anggapan bahwa ajaran agama yang sempurna menyebabkan agama bisa dijadikan sebagai ideologi negara. 

  

Ada beberapa pikiran mengenai Ideologi Islamisme. Islam merupakan ajaran yang lengkap termasuk ajaran tentang negara, yang disebut sebagai khilafah. Bagi kalangan ini, Khilafah adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang absah di dalam Islam. Yang lain dianggap sebagai thaghut atau melebihi batas karena  menyembah selain Allah atau menggunakan hukum selain hukum Allah atau perbuatan yang mengarahkan manusia untuk menyembah selain Allah dan beribadah selain kepada Allah. Semua yang bukan sistem khilafah dianggap sebagai kesalahan, dan harus ditolak. Sistem kenegaraan seperti Sistem demokrasi, monarki, dan lainnya dianggap bertentangan dengan ajaran kenegaraan di dalam Islam.

  

Sesungguhnya terdapat banyak sistem kenegaraan yang dipilih oleh pendirinya. Di dunia ini ada banyak negara yang mendasarkan sistem pemerintahannya dengan ideologi-ideologi yang dianggapnya benar. Negara Mesir dengan sistem jumhuriyyah (republik). Arab Saudi dengan sistem kerajaan (monarki), demikian juga Kuwait, UEA, Oman, Qatar dan lain-lain.. Di Asia Tenggara, Malaysia menggunakan sistem monarki parlementer. Semua sistem ini dianggap tidak sesuai dengan sistem khilafah karena tidak  sesuai dengan ajaran Islam.

  

Di Indonesia ada sebagian kecil masyarakatnya yang menyatakan bahwa sistem pemerintahan di sini sebagai sistem thaghut.  Bagi mereka, menjadikan Pancasila sebagai dasar negara merupakan kesalahan,  dan  harus diganti dengan Islam sebagai dasar negara. Ideologi Islamisme banyak terdapat di Perguruan Tinggi Negeri. Dari hasil penelitian didapati: UI, UIN Jakarta, UIN Bandung, ITB, IPB, UB, UA, UM dan Universitas Mataram. (Joko Setiono, UNJ). IPB masih dikuasai oleh Hizbut Tahrir dan Komunitas Islamis Tarbiyah. (Eko Cahyono IPB).

  

Kaum Islamis menggunakan berbagai strategi dalam memasarkan ideologinya, yaitu ideologi khilafah. Di kalangan anak-anak sekolah menggunakan Rohis untuk memengaruhi paham agamanya. Di kalangan mahasiswa dilakukan melalui Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Caranya dengan memilih anak-anak cerdas yang agamanya kurang untuk dijadikan sasaran. Mereka didekati secara terus menerus dan ditolong dalam kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, terutama mahasiswa baru. Jika relasinya sudah dekat, maka mulai diajarkan faham keagamaan yang dikehendakinya. 


Baca Juga : Antropologi Islam Talal Asad: Komunitas Islam Sasak Lombok

  

Jika sudah tertarik, maka dilakukan upaya untuk menunjukkan mana agama yang dianggapnya benar sesuai dengan tafsirnya. Mereka misalnya membandingkan Pancasila dengan Islam. Mana yang lebih benar. Mereka juga membandingkan apa yang dilakukan oleh Nabi dengan sahabat atau tokoh-tokoh Islam lainnya. Lama kelamaan membandingkan antara sistem khilafah dengan sistem demokrasi atau  monarki yang tidak ada di dalam ajaran Islam sesuai dengan tafsirnya. Semua hukum yang dibuat oleh manusia itu batal, yang benar hanya hukum Allah, La Hukma Illah lillah. Negara harus diatur sesuai dengan teks Islam yang dipahaminya.

  

Tantangan lainnya adalah gerakan terorisme. Gerakan Terorisme masih membayangi Indonesia. Terdapat beberapa kejadian yang disebabkan oleh tindakan nekat kaum teroris. Di Jawa Timur: Bom di Gereja Kristen Indonesia (GKI) (2018), Bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (2018), Bom Rusunawa Wonocolo Surabaya (2018). Di Jawa Barat: Bom Cicendo 2017, Bom Panci meledak di rumah (2017), Pelemparan Bom Panci di Polres Indramayu (2018). Jawa Tengah: Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Pospol Kartasura (2019), Penyerangan terhadap Wakapolres Karanganyar (2020). DKI Jakarta: Serangan Bom Thamrin (2016), Bom Kampung Melayu (2017), Ledakan Monas (2018), Penyerangan terhadap Markas Besar Polri (2021). Sulawesi Selatan: Pelemparan Bom Molotov Polsek Bontoala (2017), Bom Bunuh diri di Gereja Katedral Makasar (2021). Sumatera Utara: Penyerangan terhadap Pastur dan upaya bunuh diri (2016), Penusukan anggota Polri di Mapolda Sumut (2017), Ledakan Bom Sibolga (2019), Bom Bunuh diri di Polrestabes Medan (2019). DIY: penyerangan Pastor dengan senjata tajam (2018). Kalimantan Timur: Pelemparan Bom Molotov di Gereja Oikumene (2016).

  

Paham radikal juga didasari oleh cara memahami agama secara literal yang mendasarkan tafsir atas teks dengan  pemahaman sepihak. Kelompok ini juga berkeinginan agar paham keagamaannya saja yang dijalankan. Mereka beranggapan bahwa pemahaman agama kelompok lain sebagai tidak benar atau sesat dan harus dihilangkan. Jumlah mereka  semakin banyak dan diikuti oleh sejumlah generasi muda melalui media social dan bahkan juga pesantren-pesantren yang beraliran Salafi, terutama Salafi Wahabi, biasanya menggunakan jargon TBC. 

  

Selain itu juga  terdapat Salafi Takfiri, yang berkecenderungan mengafirkan umat Islam yang tidak sesuai dengan paham keagamaannya. Juga terdapat Salafi jihadi yang berkecenderungan melakukan bom bunuh diri dengan meledakkan tempat-tempat yang dianggap sebagai lawannya. Suatu wilayah yang banyak orang asing, terutama Barat dan juga markas kepolisian menjadi sasarannya. Selain itu juga terdapat pertarungan di media sosial yang akhir-akhir ini menggambarkan betapa intensnya keinginan untuk menguasai massa dari masing-masing kelompok. Islam wasathiyah melawan Islam Salafi Wahabi, Salafi Takfiri hingga Salafi Jihadi.

  

Di dalam konteks inilah mahasiswa memiliki peran yang sangat mendasar dan urgen, yaitu menjaga Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan kebinekaan. Jangan sampai luntur karena serbuah ideologi transnasional baik kanan maupun kiri. Kita menjadi bangsa besar karena kita bisa memelihara pluralitas dan multikulturalitas bangsa ini. Jika sebagai bangsa yang plural dan multikultural lalu kita meyakini ideologi segmental apapun namanya, maka kita akan berantakan. Sudah banyak contoh mengenai hal ini. Uni Soviet, Afghanistan,  Iraq, Syria, dan sebagainya. Indonesia harus menggunakan common platform yang sudah disepakati oleh para pendiri bangsa, yang pemahamannya sangat futuristik dan jelas. Pancasila adalah common platform yang unggul tersebut. Jika kita menggunakan dasar negara selain Pancasila, maka dipastikan persatuan dan kesatuan bangsa akan terkoyak.

  

Terdapat beberapa pernyataan pemimpin bangsa yang patut kita renungkan. Soekarno: “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”. Gus Dur: “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi di dalam sejarah, inilah esensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali”. B.J. Habibie: “Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita”. Gus Dur: “...Kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu”. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.