(Sumber : The Islamic Monthly)

Antropologi Islam Talal Asad: Komunitas Islam Sasak Lombok

Riset Budaya

Artikel berjudul “An Examination of Talal Asad’s Anthropological Thought on the Islamic Community of Sasak Lombok” merupakan karya Ramadhita Mustika Sari, Ita Rodiah, Ahmad Fauzi, dan Lalu Pradipta Jaya Bahari. Tulisan ini terbit di IJIMS: Indonesian of Islam and Muslim Societies tahun 2024. Penelitian tersebut fokus pada wacana antropologi Islam Talal Asad terhadap masyarakat Islam Sasak Lombok. Asad mengkaji pemahaman masyarakat mengenai agama yang dikonstruk melalui diskursus kekuasaan. Konsep diskursif Asad mengacu pada cara di mana ideologi dan kekuasaan diekspresikan dan diperjuangkan melalui bahasa, narasi dan praktik sosial. Konsep ini mengacu pada pendekatan analitis yang mengamati bagaimana agama dan kekuasaan direproduksi, diperjuangkan dan dipertanyakan melalui berbagai praktik diskursif dalam berbagai konteks budaya dan sejarah. Terdapat enam sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, teori antropologi Islam Talal Asad. Ketiga, sejarah masuknya Islam di Lombok. Keempat, penafsiran masyarakat Sasak Lombok terhadap ajaran Islam. Kelima, konstruksi sosial masyarakat Sasak terhadap agama dan kekuasaan. Keenam, interpretasi masyarakat Islam Sasak. 

  

Pendahuluan

  

Tradisi keagamaan masyarakat Lombok, khususnya Suku Sasak, lebih menekankan pada ritual eksternal yakni tradisi yang dapat disaksikan orang lain melalui simbol, gerak tubuh, bahkan tindakan yang dapat diamati orang lain sebagai bagian dari peribadatan atau pengabdian. Asad, salah seorang antropolog memiliki pandangan kritis terhadap masyarakat dan agama. ia menyatakan bahwa agama adalah fenomena sosial yang kompleks, tidak dapat dipisahkan dari konteks politik, ekonomi, dan budaya tempat agama tersebut berkembang. Lebih lanjut, ia juga menyoroti agama Islam yang dipraktikkan Suku Sasak bukan hanya sekadar praktik keagamaan, melainkan identitas sosial politik guna membangun dan memperkuat hierarki sosial, sekaligus direkonstruksi dalam konteks lokal. 

  

James Fox, salah seorang antropolog juga memiliki pandangan berbeda mengenai agama dan budaya pada konteks masyarakat Islam Sasak. Fox menekankan pentingnya interaksi Islam dan adat Sasak dalam membentuk identitas. Proses akulturasi dan transformasi nilai agama mencerminkan sistem kepercayaan masyarakat Sasak yang saling mempengaruhi dan berinteraksi. Robert Hefner, salah seorang antropolog Amerika melakukan penelitian tentang Islam Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Ia menyatakan bahwa Islam Sasak dapat menjadi contoh Islam moderat dan inklusif di Indonesia. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memahami sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia, serta menghargai keberagaman praktik keagamaan dalam masyarakat Sasak. 

  

Teori Antropologi Islam Talal Asad

  

Gagasan Talal Asad mengenai antropologi Islam memberikan kontribusi untuk memahami hubungan antara Islam, budaya dan kekuasaan. Gagasannya mengenai antropologi Islam bertentangan dengan pandangan tradisional mengenai interaksi antara agama dan budaya. Terdapat beberapa konsep utama pemikiran Asad mengenai antropologi Islam. Pertama, konstruksi sosial Islam. Ia menyoroti bahwa Islam sebagai agama terus dipahami, ditafsirkan, dan direkonstruksi dalam berbagai konteks budaya, sejarah dan politik. Kedua, kekuasaan dan pengetahuan. Ia menyoroti bagaimana kepentingan politik, ekonomi, dan sosial mempengaruhi pengetahuan tentang Islam. Selain itu, bagaimana mempertahankan struktur kekuasaan yang ada dengan memperluas pengetahuan mengenai Islam yang telah dipengaruhi kepentingan politik, ekonomi dan sosial. Ketiga, kritik terhadap universalisme. Ia menentang gagasan bahwa satu model Islam dapat diterapkan pada seluruh masyarakat muslim. Menurutnya, gagasan ini mengabaikan keberagaman budaya dan konteks sejarah. 

  

Sejarah Masuknya Islam di Lombok

Islam masuk ke Pulau Lombok pada abad 16 Masehi. Penyebaran Islam di Pulau Lombok tidak terlepas dari peran Sunan Prapen atau yang lebih dikenal Sunan Ratu Gede. Ia merupakan keturunan Sunan Ampel dari Jawa. Sejarah pulau Lombok tertuang dalam Kitab Negarakertagama yang mengisahkan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Lombok adalah daerah yang sangat strategis karena terletak pada jalur perdagangan antara wilayah Timur dan Barat Nusantara. 

  


Baca Juga : PHK Massal Bikin Resah? Coba Alternatif Kerja Ini!

Pulau Lombok dipengaruhi perdagangan, perkawinan dan ikatan budaya dengan pedagang Arab, Persia, dan India. Selain itu, masyarakat pulau ini berinteraksi dengan masyarakat pulau Bali. Interaksi tersebut mempengaruhi corak Islam yang dianut masyarakat Sasak. Suku Sasak merupakan suku asli yang menetap di Pulau Lombok. Sebelum Islam masuk, masyarakat Lombok menganut kepercayaan Hindu Jawa. Hal ini disebabkan pengaruh Hindu Jawa dan Bali yang masuk ke Lombok sekitar abad 13-14 M pada masa Kerajaan Majapahit. 

  

Islam dapat diterima di Pulau Lombok, disebabkan adanya asimilasi tradisi lokal melalui dakwah. Inilah yang disebut Asad bahwa Islam adalah agama yang sampai saat ini masih terus dipahami, ditafsirkan dan direkonstruksi dalam berbagai konteks budaya, sejarah dan politik. Penyebarannya dilakukan dengan berbagai cara, misalnya seni pendalangan, perkawinan, perdagangan bahkan pendirian lembaga pendidikan Islam. Pada akhirnya, Islam secara bertahap menjadi agama yang dominan di pulau Lombok. 

  

Penafsiran Masyarakat Sasak Lombok Terhadap Ajaran Islam

  

Tafsir masyarakat Sasak terkait dengan sejarah Islam dan sejarah suku Sasak di Pulau Lombok.  Masyarakat Islam di pulau ini masih berpegang teguh pada adat istiadat Suku Sasak. Hal ini membentuk akulturasi budaya lokal dengan tafsir masyarakat Islam di Pulau Lombok yang melahirkan Islam khas suku Sasak. Pada pandangan Asad, proses akulturasi nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal mencerminkan sistem kepercayaan masyarakat di  Pulau Lombok. Hal ini sesuai dengan pemikiran Asad bahwa agama bukanlah suku bangsa yang tunggal dan terisolasi, melainkan terbentuk dari kekuasaan, sejarah bahkan interpretasi masyarakat di mana ia berada. 

  

Masyarakat Sasak memiliki konsep Islam yang khas, yakni Watu Telu dan Watu Lima. Watu Telu merupakan hasil penafsiran masyarakat Lombok yang mengasimilasi tradisi para leluhur dengan ajaran Islam. Selain itu, Watu Telu juga bermakna sebagai bentuk sintetik dari kepercayaan lokal masyarakat Sasak di Pulau Lombok terdahulu dengan kepercayaan Islam Watu Lima. Sedangkan, Watu Lima adalah konsep Suku Sasak lombok yang menganut agama Islam dengan tuntunan syariat dalam al-Qur’an dan hadis. 

  

Pandangan Talal Asad mengenai konstruksi Islam dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa Islam Watu Telu adalah konstruksi masyarakat Sasak pada pemahaman mengenai Islam. Pemahaman tersebut kemudian melahirkan interpretasi dan konstruksi dalam konteks budaya masyarakat Suku Sasak. Wujudnya adalah keberadaan Islam yang unik (Islam Watu Telu). Sejalan dengan pemikiran Asad yang menyoroti bahwa Islam sebagai agama terus dipahami, ditafsirkan dan dikonstruksi dalam berbagai konteks budaya. 

  

Salah satu hal identik dalam masyarakat Islam Suku Sasak Lombok adalah kehadiran Tuan Guru di tengah masyarakat. Tuan Guru adalah panggilan khas bagi kiai atau pakar agama yang ahli dalam agama. Tuan Guru sendiri memiliki peran penting dalam dakwah di Pulau Lombok, sebab sebagian besar mengajarkan ilmu keIslaman di majelis atau pesantren hingga saat ini. 

  

Konstruksi Sosial Masyarakat Sasak Terhadap Agama dan Kekuasaan


Baca Juga : In Memoriam: Emak Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Kelima)

  

Tradisi keagamaan pada Suku Sasak di Pulau Lombok adalah akulturasi agama Islam terhadap budaya dan adat di sana. Jika dikaji berdasarkan antropologi Talal Asad mengenai identitas, subjektivitas dan praktik sosial individu dan masyarakat Islam di Pulau Lombok dipengaruhi oleh konstruksi sosial masyarakat terhadap agama dan kekuasaan. Hal ini melahirkan tradisi keagamaan yang khas dan erat kaitannya dengan Islam. Beberapa tradisi tersebut adalah, pertama, mulud. Tradisi ini dilakukan ketika memasuki bulan Rabiul Awal. Masyarakat Islam Sasak merayakannya secara bergantian setiap hari di bulan tersebut. Mereka akan mengundang sanak saudara dan kerabat untuk makan bersama. Makanan yang disajikan juga khas, mulai dari jajanan tradisional hingga hidangan lain yang sering dijumpai di bulan tersebut. Sejarah tradisi maulud di Lombok sendiri dimulai pada abad 16 Masehi yang dibuktikan dengan berdirinya Masjid Bayan Kuno di Lombok Utara. Konstruksi sosial baru akhirnya membentuk dinamika sosial baru akibat penyebaran Islam, sehingga akhirnya banyak tradisi yang berakulturasi menjadi tradisi Islam.

  

Kedua, lebaran topat yakni tradisi keagamaan masyarakat Islam Sasak yang biasanya dilaksanakan pada bulan Syawal. Hari ke tujuh, tepatnya seminggu setelah Idul Fitri. Pada hari itu, pedagang ketupat dadakan banyak ditemui sepanjang jalan. Tradisi ini dilakukan bersamaan dengan pengajian dan sebagainya. Selain itu, masyarakat Lombok berbondong-bondong mendatangi tempat wisata untuk berlibur bersama keluarga dan diselingi makan ketupat. 

  

Ketiga, perang topat yakni tradisi yang dilaksanakan tanggal 15 bulan ketujuh menurut kalender Islam dan tanggal 15 bulan keenam menurut kalender Hindu, atau lebih tepatnya saat bulan purnama. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Tradisi ini memiliki sejarah yang berbeda antara versi Hindu dan Islam, namun kesamaannya terletak pada konteks ditemukannya mata air di daerah tersebut. Secara sosial, terdapat beberapa nilai yang dapat diambil salah satunya adalah nilai persaudaraan dan toleransi antar umat beragama. 

  

Keempat, tari rudat yakni salah satu seni tari khas daerah Suku Sasak. Tari ini memadukan beberapa konsep yakni prajurit dalam kostumnya, silat dalam gerakannya, serta Islam dan bahasa Sasak dalam musik pengiringnya. Beberapa nilai yang dapat diambil dalam kesenian ini adalah “tindih” yakni sistem dasar kepribadian orang Sasak yang memiliki komitmen, konsistensi dan kesungguhan membela kebenaran, kebaikan, keindahan dan keluhuran budi pekerti yang bersumber dari keimanan. 

  

Interpretasi Masyarakat Islam Sasak

  

Menurut Asad, Islam mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat. misalnya, daerah Watu Lima terdapat sebuah praktik keagamaan yang menerapkan syariat Islam yang disebut Watu Kapur. Watu Kapur memiliki makna bahwa berbagai ajaran dan nilai Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sosial yang ada pada Masyarakat Watu Lima mencerminkan nilai-nilai Islam seperti mengedepankan dan mengamalkan nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan, dan keadilan.

  

Berdasarkan terminologi Asad, praktik keagamaan Watu Kapur mencerminkan bahwa Islam sebagai agama bukan entitas monolitik, melainkan sistem kompleks yang memungkinkannya dipengaruhi berbagai faktor. Budaya, pengetahuan, dan kekuasaan dapat membentuk pemahaman mengenai Islam dan praktiknya. Pemikiran kritis Asad membawa kita pada temuan bahwa konstruksi sosial Islam yang dipraktikkan oleh Komunitas Islam Lombok harus melibatkan tidak hanya pemahaman tentang nilai-nilai dan agama Islam saja, tetap dengan melibatkan konteks budaya, sejarah, dan bahkan politik wilayah Watu Lima dan Pulau Lombok.

  

Asad berpendapat bahwa Islam tidak dapat dijadikan objek teoritis, misalnya dalam melihat praktik Maulid Nabi pada Masyarakat Sasak Lombok, harus melibatkan konteks sejarah dan budaya Masyarakat Sasak Lombok agar tidak terjadi simplistis atau esensialis tentang Islam dengan memperhatikan hakikat Masyarakat Islam yang memiliki berbagai nilai budaya Sasak seperti kekeluargaan, kebersamaan, dan keramahan, yang tercermin dalam berbagai kehidupan sehari-hari Masyarakat Sasak.

  

Pada kajian tradisi Islam Sasak, analisis Asad tentang konsep tradisi, otoritas, dan hubungannya dengan agama, etika, dan politik memberikan wawasan penting. Pertama, Asad membahas bahwa tradisi bukan sekadar seperangkat aturan dan doktrin, tetapi lebih melibatkan praktik yang diwujudkan, pembelajaran, dan pembelajaran ulang tentang cara menggunakan bahasa dan berperilaku dalam konteks tertentu. Hal ini khususnya relevan dengan konteks Sasak, di mana praktik keagamaan seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad, Lebaran topat, dan ritual Perang topat , merupakan manifestasi tradisi Islam yang diakui dalam budaya. Lebih lanjut, Asad menegaskan bahwa tradisi juga mencakup masalah manifestasi, permulaan, pertumbuhan, dan berbagai aspek lain yang terkait dengan pengalaman lintasan waktu yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dalam praktik keagamaan masyarakat Sasak, di mana cara mereka merayakan peristiwa keagamaan memiliki makna dan simbol yang terkait dengan sejarah dan pengalaman mereka sebagai komunitas Islam Budaya Islam tercermin dalam seni dan budaya lokal seperti musik, tari kaligrafi, dan arsitektur masjid tradisional Lombok yang memiliki karakteristik yang mencerminkan gaya arsitektur Islam.

  

Kesimpulan

  

Pemikiran Talal Asad tentang antropologi Islam bertentangan dengan pandangan tradisional tentang interaksi antara agama dan budaya. Konsep utama pemikirannya adalah konstruksi sosial Islam, kekuasaan dan pengetahuan, dan kritik terhadap universalisme. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam antropologi Islam Masyarakat Sasak Lombok memiliki berbagai tradisi dan konsep yang berkaitan dengan konsep Islam, yaitu konsep Islam Watu Telu dan Watu Lima. Hal ini sejalan dengan konsep diskursif Asad. Menurutnya, ideologi dan kekuasaan diekspresikan dan diperjuangkan oleh masyarakat melalui bahasa, narasi, dan praktik sosial, yang melahirkan budaya baru. Budaya atau agama baru ini muncul sebagai akibat dari konstruksi sosial Masyarakat Islam Sasak Lombok. Talal Asad berpendapat bahwa Islam bukanlah sebuah objek teoritis, oleh karena itu diperlukan banyak pandangan dan konsep-konsep tertentu untuk mengkaji Islam lebih dalam. Seperti konteks ini, Islam membutuhkan konsep sosial dalam mengeksplorasi antropologi Islam itu sendiri dalam Masyarakat Islam Suku Sasak Lombok.