Anti Terorisme: Sebaiknya Dengan Gerakan Preventif
OpiniAcara yang digelar oleh Dakwah Wasathiyah Centre pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dalam tajuk Focus Group Discussion (FGD) dengan tema: “Focus Group Discussion (FGD) Dakwah Kontra Radikalisme Berbasis Moderasi Beragama dan Peta Penyebaran Gerakan Radikal di Jawa Barat” sungguh sangat menarik. Acara ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Huda, Setu, Bekasi, Jawa Barat. Hadir di dalam acara tersebut para narasumber, yaitu: Prof. Dr. Nur Syam, MSi (Guru Besar FDK UINSA Surabaya), Kyai Atho Ramli Musthofa (Pendiri Pesantren Nurul Huda dan Ketua NU Cabang Bekasi), Hendro Fernando (mantan Napiter), dan Dr. Ade Abdul Hak, M.Hum, CIQnR (Dekan Fahum UIN Syahid Jakarta), dan sejumlah tim peneliti: Prof. Dr. Abd. Halim (Ketua Tim), Dr. Abdul Basith, Dr. A. Mujib Adnan, M. Bashori, Lc, MA (Pesantren Darul Muttaqin Manukan Surabaya), Dr. M. Anshori, Dr. Abdullah Sattar, Mevy Eka Nurhalizah, M.Sos, Eva Putriya Hasanah, M.Sos, para mahasiswa UINSA dan UIN Syahid Jakarta. Lalu, Drs. Ali Anwar, MPdI, Rois Syuriah PCNU Bekasi, dan sejumlah ketua MWC NU se Kabupaten Bekasi dan organisasi di bawah NU pada pengurus NU Cabang Bekasi. Acara dihelat 04/11/2023. Saya menyampaikan materi dengan tema “Islam Wasathiyah dalam Tantangan Islam Trans-nasional.”
Sebagai narasumber, saya menyatakan bahwa saya sangat beruntung karena dilibatkan oleh Densus 88 Anti Teror dalam acara pembinaan terhadap masyarakat dari bahaya terorisme di Jawa Timur. Acara ini diselenggarakan oleh AKBP Dofir selaku Kanit Pencegahan Terorisme pada Densus 88 Anti teror. Beberapa daerah yang menjadi sasaran kegiatan ini adalah Madura, Mojokerto, Malang, Sidoarjo, Surabaya dan Pasuruan. Acara-acara ini menghadirkan para mantan napiter yang telah melakukan pertobatan untuk kembali kepada ideologi negara Pancasila dan NKRI. Yang menjadi narasumber dari kalangan mantan napiter adalah Abu Fida’ yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan doktornya pada UIN Sunan Ampel Surabaya.
Di dalam acara di Pondok Pesantren Nurul Huda, Setu, Bekasi ini saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, tantangan masyarakat Indonesia sungguh tidak sedikit dalam kaitannya dengan paham keagamaan dewasa ini. Masyarakat Indonesia sedang bergerak kepada pemahaman Islam yang lebih baik. Namun demikian yang menjadi problem adalah pemahaman keagamaannya itu justru mengarah kepada Islam fundamental, seperti pemahaman agama berbasis Islam Salafi Wahabi. Kelompok ini mengusung tema dakwah dalam bentuk ukhuwah ashabiyah yaitu persaudaraan yang didasari oleh komitmen hanya membenarkan atas tafsir agama di kalangan mereka sendiri, sedangkan yang lainnya salah yang sering dikonotasikan dengan amalan beragama yang bidh’ah bahkan kafir. Alasan yang digunakannya adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Problemnya adalah mereka hanya membenarkan tafsir para ulamanya. Yang tidak berasal dari ulama Salafi, seperti Syekh Nashirudin Albani, Syekh Utsaimin atau Syekh Abdullah bin Basy, maka dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, banyak terjadi disharmoni social yang disebabkan oleh pandangan seperti ini.
Selain itu juga masih bercokol pemikiran Islam radikal dengan tafsir jihad yang dipahami hanya bermakna perang. Tidak ada tafsir lainnya. Bagi mereka ini surga hanya dapat dibeli dengan perang sebagaimana yang dilakukan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di mana-mana diciptakan pemahaman beragama yang radikal menuju terorisme. Bagi mereka yang siap melakukan jihad, maka mereka akan dijadikan sebagai pengantin bom bunuh diri, dan di Indonesia telah terdapat beberapa kali kejadian seperti ini. Di Jakarta, Surabaya, Medan, Solo dan sebagainya.
Kedua, secara empiris bahwa kaum Salafi Wahabi, mereka lebih suka disebut sebagai kaum sunnah saja, dan bahkan kalangan teroris memanfaatkan media social secara efektif. Dakwah yang dilakukannya melalui media social sangatlah efektif. Mereka menggunakan media social sebagai sarana untuk mempengaruhi para generasi muda. Misalnya, Felix Siauw telah memiliki viewer dan follower sebanyak hampir 45 juta dan kebanyakan generasi muda, sedangkan Firanda Andirja kurang lebih 41 juta. Felix Siauw telah menjalin gerakan dakwah melalui Komunitas Hijrah dengan pengikut yang luar biasa banyak. Mereka sudah memasuki ruang-ruang media social dan juga menggelar gathering di kota-kota besar, seperti Surabaya. Mereka tidak hanya dakwah dengan slogan amar ma’ruf nahi mungkar, akan tetapi juga memasuki dunia politik dengan jargon Islam politik. Yaitu mendakwahkan bahwa Islam adalah ideologi. Mereka berkeinginan mendirikan khilafah Islamiyah dan menjadikan Islam sebagai ideologinya. Indonesia yang menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi dan sebagai landasan yuridis dianggapnya sebagai negara thaghut atau negara yang mengajak umatnya untuk melakukan kemungkaran, kekafiran dan kemusyrikan. Indonesia harus diubah menjadi negara khilafah sesuai yang diinginkannya. Mereka juga telah memasuki lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, misalnya sekolah-sekolah yang menggunakan label Islam terpadu dan juga pesantren salafi. Banyak di antara lembaga-lembaga ini yang mengharamkan upacara bendera dan lambang negara serta regulasi yang dihasilkan oleh pemerintah. Hukum bagi mereka hanya yang terdapat di dalam firman Allah, la hukma illa lillah.
Ketiga, ulama-ulama Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah harus melakukan gerakan untuk mencegah semakin menguatnya gerakan-gerakan ini, seperti yang dilakukan oleh kaum Sunnah dan juga gerakan terorisme yang masih menghantui masyarakat Indonesia. Para ulama Indonesia harus bersatu padu untuk menggerakkan media social. Para ulama, para kyai dan cendekiawan harus membangun jaringan media social yang kuat. Masyarakat harus digerakkan untuk pilantropi bagi dunia pendidikan, yang saya sebut sebagai Gerakan Pilantropi Pendidikan (GPP) dan juga gerakan solidaritas kepada mantan napiter yang sudah sadar dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Diperlukan Gerakan Pilantropi untuk para Napiter yang sudah melakukan konversi paham keagamaannya dan juga paham keindonesiaannya. Bisa saja disebut sebagai Gerakan Pilantropi Anti Terorisme (GPAT). Saya kira dengan keteladanan para ulama, kyai dan cendekiawan muslim, akan dapat dipastikan gerakan-gerakan ini akan menuai hasilnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

