(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Antropologi Ekonomi: Menumbuhkan Semangat Wirausaha (Bagian Dua)

Opini

Hingga dewasa ini masih terdapat dualisme di dalam memahami  ekonomi dalam perspektif Islam, yaitu labelling Ilmu Ekonomi Islam dan Ilmu Ekonomi Syariah. Perdebatan ini saya sebut sebagai dualisme sebab belum ada tanda-tanda untuk mempertemukan keduanya dan menyepakati mana yang dianggap lebih afdhal. Kalau dualitas, maka ada peluang untuk menyatukan dan ketemu. Bisa jadi antara yang berpendapat sebagai ekonomi syariah sesungguhnya sama saja dengan ekonomi Islam. Keduanya sama-sama ilmu ekonomi yang terkait dengan ajaran Islam. Selama ini, banyak perguruan tinggi umum (PTU) yang menggunakan labelling ilmu ekonomi Islam, sementara itu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) mayoritas bahkan semuanya menggunakan konsep Ilmu Ekonomi Syariah.  

  

Prinsip di dalam ekonomi syariah yang bercorak umum misalnya adalah prinsip keadilan, prinsip larangan riba, prinsip larangan gharar, prinsip philantropi dan sebagainya. Tujuan ekonomi syariah adalah untuk menciptakan keadilan yang merata, tetapi bukan sistem komunisme. Kekayaan tidak boleh berakumulasi pada sekelompok orang,  akan tetapi lebih bercorak merata. Ekonomi syariah menolak riba atau bunga sebab akan terjadi ketidakadilan, kemudian juga prinsip larangan gharar atau ketidakpastian yang berpotensi menyebabkan kerugian. Tetapi di atas ini semua adalah prinsip ketauhidan, bahwa semua bentuk perilaku ekonomi akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di dalamnya momot dengan akhlak, ada dimensi hablum minallah, ada dimensi hablum minas dan juga ada dimensi hablum minal alam. 

   

Ekonomi syariah merupakan ilmu integrative. Di dalam ilmu ini sudah terdapat integrasi antara ilmu ekonomi dan ilmu keislaman. Ilmu ekonomi syariah sudah memenuhi standart integrasi ilmu dalam level program Magister dan Doktor. Level delapan dan sembilan. Sebagai ilmu ekonomi berciri khas Islam, maka dapat dijelaskan adalah ekonomi sebagai subyek kajiannya dan didekati dengan ajaran Islam. 

   

Selain itu juga mengkaji tentang praktik ekonomi syariah, misalnya investasi syariah, perbankan syariah, pegadaian syariah, Usaha-Usaha Syariah, Koperasi Syariah, akuntanssi syariah, perilaku ekonomi syariah, tradisi ekonomi syariah, zakat, wakaf dan sedekah,  dan sebagainya yang kemudian didekati dengan teori-teori ekonomi pada umumnya. Hal ini dilakukan dalam memperluas cakrawala dalam pengembangan studi ekonomi syariah. 

   

Budaya kewirausahaan secara antropologis merupakan tindakan sosial yang berbasis pada pattern for behavior atau nilai, norma dan lingkungan budaya yang dapat dipahami dari yang dilakukannya atau pattern of behavior. Di dalam budaya kewirausahaan akan terdapat nilai dan etika, kreativitas  ekonomi dan  kemandirian. Jika pada masyarakat religius, maka nilai dan etika yang dijadikan pedoman adalah nilai-nilai keagamaan.  

  

Kreativitas dan inovasi dapat difasilitasi oleh afinitas elektif atau pedoman nilai dan dukungan psikhologis yang memberikan peluang untuk menemukan kewirausahaan baru. Kewirausahaan memiliki makna sebagai pemberdayaan individu dan masyarakat. Kewirausahaan dapat meningkatkan kemandirian di dalam perilaku ekonomi. Kewirausahaan dapat memberikan peluang kesejahteraan masyarakat. Kewirausahaan dapat menumbuhkan munculnya agen perubahan ekonomi yang berpengaruh. Kewirausahaan dapat menjadi solusi atas keterbatasan akses ekonomi bagi individu, komunitas dan masyarakat.

  

Diperlukan penyelarasan theos, logos dan ethos. Theos adalah teks-teks di bidang ekonomi yang bersumber dari Teks Suci Alqur’an dan hadits serta tradisi ekonomi di dalam masyarakat. Logos adalah ilmu yang berisi penafsiran atas teks-teks suci yang dapat memberikan akses untuk pengembangan ekonomi. Ethos adalah tindakan yang dilakukan yang bersesuaian antara theos dan logos untuk membangun semangat bekerja sesuai dengan dasar teologinya dan juga ilmunya.

  

Penumbuhan ethos kewirausahaan dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, mengembangkan lingkungan kewirausahaan,  memberikan keteladanan bagi orang lain dan melakukan tindakan kolaboratif untuk saling bekerja sama dalam program kewirausahaan. Akhir-akhir ini didapati upaya untuk merekonstruksi kurikulum di PTKIN. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Ekoteologi (ET). 

  

Rekonstruksi kurikulum tersebut tercermin di dalam upaya untuk mengekspresikan Beragama Berbasis Cinta (BBC) dan Ekoteologi.  Kurikulum didesain secara integratif. Saya menambahkan satu muatan kurikulum integratif yang disebut sebagai Kurikulum Karya yaitu upaya untuk memasukkan inovasi dan ethos berkarya. Ada trilogi kurikulum khususnya di FEBI, yaitu: Kurcin, Kuret dan Kukar. Ketiganya akan menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk beragama berbasis cinta atau rahmatan lil ‘alamin, beragama dengan mengembangkan lingkungan berkelanjutan dan menumbuhkan semangat berwirausaha.

  

Ciptakan rumah-rumah usaha bagi para dosen dan juga mahasiswa melalui pemetaan potensi dan akses kewirausahaan. FEBI harus melakukan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai komponen  kelembagaan, komunitas, masyarakat dan dunia usaha dunia industri (DUDI).

  

Wallahu a’lam bi al shawab.