Arab Saudi yang Berubah: Dari Perempuan Nonton Bola Sampai Miss World
OpiniKala saya berkunjung ke Italia, maka saya menyempatkan datang ke Masjid Roma, yang megah, 06/07/2018. (nursyam.uinsby.ac.id Ke Roma: Mengunjungi Masjid Agung Roma). Hal yang menarik bagi saya adalah di dalam Masjid Roma tersebut terdapat tiga bendera, yaitu Bendera Uni Eropa, Bendera Italia dan Bendera Organisasi Islam yang berpusat di masjid tersebut. Hal ini tentu menggambarkan bagaimana orang Islam di Italia menjadi bagian dari Orang Eropa, bagian dari Orang Italia dan bagian dari Islam Italia.
Pada waktu memberikan sambutan, Takmir Masjid Italia tersebut menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sangat beruntung menjadi Islam yang terbuka dalam menerima perubahan social yang terus terjadi tanpa kehilangan identitas sebagai orang Islam dan warga negara Indonesia. Orang Islam Indonesia telah menjadi bagian dari warga dunia yang modern dan warga masyarakat dan bangsa dan tanpa kehilangan identitasnya sebagai umat Islam. Juga disinggung tentang Arab Saudi yang kala itu mulai menerima perubahan, misalnya diperbolehkannya perempuan menyetir mobil sendiri, perempuan menonton bola dan menonton konser music. Hal yang seperti ini baru saja, sementara di Indonesia sudah terjadi puluhan tahun yang lalu.
Dari penampilan fisikal bangunan-bangunan di Saudi Arabia memang sudah menggambarkan modernisasi yang luar biasa. Ekspresi bangunan fisik dan kehidupan ekonomi Saudi Arabia sudah seperti di Amerika. Semua produk Amerika ada di sini. Berbagai merek mobil terkenal dari Amerika dan Eropa ada di sini. Mobil BMW, Mercedes Benz, Dodge Viper, Ferrari, Audi, Roll-Royce, Bentley dan sebagainya ada sini. Mobil-mobil trend terbaru Amerika dan Eropa semuanya ada. Demikian pula mobil produk Jepang dan Korea juga membludak di sini. Semua jenis makanan di Amerika juga terdapat di sini. KFC, AW, Starbuck, Excelso dan lainnya juga menjamur di Arab Saudi. Jika kita jalan-jalan di Jeddah atau Riyadh, maka kita dengan mudah bisa melihat produk-produk Eropa dan Amerika yang bertebaran di mana-mana. Tetapi mind set keagamaannya sampai diangkatnya Raja Salman masih tetap berada di dalam pemahaman Islam ala Salafi Wahabi yang keras. Lalu kala terjadi perubahan dalam kepemimpinan Raja Salman dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) barulah terjadi perubahan pemikiran keagamaan yang signifikan.
Memang Arab Saudi telah berubah. Kini Saudi Arabia sudah memulai sesuatu yang baru, sebagai warga dunia yang bisa mengadaptasi perubahan di dunia modern. Semenjak terjadi perubahan kepemimpinan, maka banyak yang berubah. Misalnya terjadinya upaya untuk mengubah kurikulum menjadi lebih moderat. Konten kurikulum yang mengandung intoleransi, lalu diubah menjadi lebih toleran. Ulama-ulama Salafi Wahabi yang keras lalu diperingatkan dengan keras, memberi peluang kepada perempuan dalam urusan public, dan juga berbagai fashion pakaian perempuan dan bahkan diperbolehkannya perempuan untuk mengikuti kontes ratu kecantikan dunia yang diprakarsai Barat.
Suatu peristiwan yang mengguncang dunia adalah keterlibatan Rumi Al-Qahtani, kelahiran Riyadh untuk mengikuti Miss Universe 2024. Al-Qahtani merupakan perwakilan The Kingdom of Arab Saudi pertama di dalam ajang Miss World. Perempuan berusia 27 tahun, pada 25 Maret 2024 mengumumkan dirinya akan mengikuti kontes Miss World. Al-Qahtani merupakan perempuan yang sangat berpengalaman dalam ajang kontes kecantikan. Al-Qahtani menjadi Miss Arab Saudi, pernah menjadi Miss Middle East, Miss Arab World Peace. Al-Qahtani sungguh sangat berpengalaman dalam dunia kontes kecantikan.
Dalam kapasitas sebagai Miss Arab Saudi, maka Al-Qahtani merupakan seorang perempuan yang memperkenalkan kebudayaan Arab Saudi ke dunia internasional. Layaknya, putri kecantikan dari negara lainnya, termasuk Indonesia, maka di antara tugasnya adalah menjadi duta budaya negaranya. Sebagaimana sebuah kontestasi ratu kecantikan dunia, maka Al-Qahtani akan berkontestasi dengan ratu kecantikan di seluruh dunia. Mereka datang dari Asia, Eropa, Amerika dan juga Afrika. Mereka mewakili negara masing-masing untuk menjadi yang terbaik.
Sebagai negara yang mengikuti paham Islam ala Salafi Wahabi tentu sangat keras di dalam memegang teguh prinsip keimanan dan keislaman. Oleh ulama-ulamanya, orang atau komunitas yang melakukan ibadah dan ditafsirkan tidak berbasis pada apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dianggap sebagai bidh’ah. Acara yang bercorak social keagamaan saja dinyatakan sebagai bidh’ah. Orang yang membaca Surat Al Fatihah kala memulai acara keagamaan atau non keagamaan saja dianggap bidh’ah dan bahkan orang yang berbeda paham keagamaannya saja bisa dianggap sebagai kafir. Sebuah negeri yang fundamentalistik dalam paham keagamaannya.
Namun akhirnya tidak bisa menolak perubahan yang terus terjadi di dalam pergaulan internasional. Salah satunya adalah kontes kecantikan atau Miss World. Di Indonesia saja yang paham keagamaannya mengikuti Islam ala Ahli Sunnah Wal Jamaah, maka kala perempuan Indonesia akan mengikuti Miss World maka terjadi pro-kontra luar biasa. Para ulama saling beradu argument tentang boleh atau tidak bolehnya mengikuti acara Miss World. Ini Arab Saudi, yang pahamnya keagamaannya hanya ada dua saja, halal atau haram, boleh atau tidak boleh. Dipastikan bahwa perdebatannya panjang dan berliku.
Tetapi di tangan MBS, maka hal-hal yang dianggap tabu di masa lalu sesuai dengan paham ulama-ulama Salafi Wahabi, maka kemudian bisa dirombak. Ulama yang menentang kebijakannya bisa saja ditangkap dan dihukum. Melalui kekuasannya yang “absolut”, maka semua bisa ditundukkan. Di tangan MBS, Arab Saudi berubah menuju Arab Saudi yang modern dan distingtif .
Tentu saja ada yang positif dan negative bagi masyarakat dunia. Kemampuannya untuk mengeliminasi Salafi Wahabi sebagai sumber kekerasan beragama tentu bisa diapresiasi oleh negara-negara yang selama ini berpaham moderat, tetapi keberaniannya untuk mengubah tradisi Arab yang selama ini dipegang kuat tentu bisa membuat “puyeng” ulama-ulama Arab Saudi.
Hal yang tentu dikhawatirkan adalah di kala ulama-ulama Arab Saudi yang “gerah” atas kebijakan MBS tersebut lalu berhijrah ke negara-negara Islam lainnya, termasuk ke Indonesia, yang bisa saja nanti akan menimbulkan disharmoni.
Wallahu a’lam bi al shawab.

