(Sumber : Hipwee)

Imbas Gerakan Feminisme Angka Kelahiran di Korea Selatan Sangat Rendah

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Angka kelahiran di Korea telah mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir, menjadikannya salah satu yang terendah di dunia. Bahkan, rendahnya angka kelahiran di Korea telah mengalahkan Jepang yang juga menghadapi masalah serupa. Rata-rata jumlah kelahiran per perempuan di Korea Selatan turun menjadi 0,72 pada 2023.

  

Penurunan angka kelahiran yang tajam ini memiliki dampak yang sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat. Populasi di hampir setiap negara dapat berkurang pada akhir abad jika tingkat kesuburan terus menurun. Negara-negara seperti Spanyol, Jepang, dan Korea Selatan diprediksi akan mengalami penurunan populasi hingga 50% pada tahun 2100. Ancaman krisis populasi ini diperburuk dengan pertumbuhan populasi lansia di Korsel.

  

Penurunan angka kelahiran di Korea terutama disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah perubahan peran perempuan dalam masyarakat akibat gerakan feminisme di Korea yang mengakibatkan banyak perempuan yang memilih untuk menunda pernikahan dan memiliki anak, sehingga berkontribusi pada penurunan angka kelahiran.

  

Gerakan Feminisme di Korea Selatan Mendorong Perubahan Sosial

  

Gerakan feminisme di Korea Selatan telah menjadi semakin kuat dan berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir. Gerakan ini bertujuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender, mengatasi diskriminasi, dan mengubah sikap sosial terhadap perempuan.

  

Gerakan feminisme di Korea Selatan telah mendorong perubahan sosial yang signifikan. Salah satu fokus utama gerakan ini adalah melawan kekerasan seksual dan pelecehan yang sering kali dialami oleh perempuan. Kampanye #MeToo di Korea Selatan pada tahun 2018 menjadi titik balik dalam gerakan ini, dengan banyak perempuan yang berani berbicara terbuka tentang pengalaman mereka dengan pelecehan seksual. Gerakan ini mengguncang masyarakat Korea Selatan dan mendorong perubahan dalam hukum dan sikap sosial terhadap pelecehan seksual.

  

Selain itu, gerakan feminisme juga berusaha untuk meruntuhkan stereotip gender yang ada dalam masyarakat Korea Selatan. Mereka menyoroti peran tradisional yang sering kali diberikan kepada perempuan, seperti menjadi ibu rumah tangga dan menjaga keluarga, serta menekankan pentingnya memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dalam dunia pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan publik. Gerakan ini juga menentang diskriminasi gender dalam hal gaji dan kesempatan karir.


Baca Juga : Doa untuk Palestina: Khutbah Idul Adha di Masjid Ar Roudhoh

  

Gerakan feminisme di Korea Selatan juga telah mengadvokasi perubahan dalam hukum dan kebijakan publik. Mereka telah memperjuangkan undang-undang yang melindungi perempuan dari kekerasan dan diskriminasi, serta mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan yang lebih besar bagi perempuan dalam hal perawatan anak, cuti melahirkan, dan akses ke layanan kesehatan reproduksi.

  

Gerakan Anti-Seks 

  

Salah satu aspek yang muncul dalam gerakan anti-seks di Korea Selatan adalah penolakan terhadap pernikahan dan perawatan anak. Sejumlah perempuan di Korea Selatan telah mengadopsi prinsip \"lepas dari korset\" yang menolak norma patriarkal yang menjadikan perempuan subordinat laki-laki. Dengan tagar #NoMarriage Women, gerakan ini bahkan mengimani prinsip feminis radikal dengan slogan 4B atau Four No, yakni No dating (tak berkencan), no sex (tidak berhubungan badan), no marriage (tidak menikah), no child-rearing (menolak memelihara/merawat anak). Gerakan anti-seks menimbulkan turunnya minat perempuan untuk menikah dan memiliki anak secara tidak langsung mempengaruhi jumlah angka kelahiran di negara tersebut. 

  

Gerakan anti-seks juga memunculkan permusuhan antara kaum feminis dan antifeminis, yang terus memanas hingga saat ini. Gerakan antifeminis, seperti \"Men on Solidarity\", yang diinisiasi oleh Bae In-kyu, memiliki pengikut yang cukup signifikan. Meskipun demikian, gerakan ini juga menimbulkan reaksi dari kaum feminis, yang menciptakan istilah-istilah mengejek laki-laki di forum diskusi online.

  

Upaya Pemerintah Korea Selatan

  

Pemerintah Korea Selatan telah mengambil berbagai upaya untuk mendorong perempuan memiliki anak sebagai respons terhadap penurunan drastis angka kelahiran di negara tersebut. Salah satunya memberikan insentif Rp. 4,38 kuadrilium untuk mendorong keluarga memiliki anak lebih banyak. 

  

Pemerintah Korea Selatan meluncurkan kebijakan dan program dukungan keluarga. Ini termasuk subsidi perawatan anak, cuti melahirkan yang lebih panjang, dan fasilitas penitipan anak yang lebih terjangkau. Langkah ini bertujuan untuk memberikan dukungan nyata bagi perempuan yang ingin memiliki anak, serta membantu mengurangi beban finansial dan logistik yang terkait dengan perawatan anak.

  

Selain itu, pemerintah Korea Selatan juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya perencanaan keluarga. Program-program ini mencakup edukasi bagi para ibu hamil dan calon orang tua tentang pentingnya menggunakan penolong persalinan yang berkualifikasi, serta memberikan informasi tentang perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi. Dengan meningkatnya kesadaran ini, diharapkan pasangan akan lebih siap secara fisik dan mental untuk memiliki anak.

  

Pemberdayaan perempuan juga menjadi fokus utama dalam upaya pemerintah Korea Selatan untuk mendorong perempuan memiliki anak. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan, menargetkan keterwakilan 30 persen perempuan dalam pemilu legislatif, dan meningkatkan jumlah perempuan dalam kegiatan ekonomi atau bidang ketenagakerjaan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memberikan perempuan lebih banyak kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam membangun keluarga.