(Sumber : Dokumentasi Penulis)

As'adiyah Bersalawat: Dari Ritual Berjamaah Sampai Cinta Tanah Air (Bagian Ketiga)

Opini

Saya baru pertama kali menjejakkan kaki di Kota Sengkang, yang menjadi pusat Pesantren As’adiyah dan tempat diselenggarakannya Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional ke 1, tahun 2025. Perjalanan dari Makasar ke Sengkang memerlukan waktu yang cukup panjang. Kira-kira enam jam, sama dengan perjalanan dari Surabaya ke Pacitan sebelum ada jalan Tol Surabaya ke Madiun. Perjalanannya juga nyaris sama. Berkelok melampaui hutan dalam dataran tinggi dan mengasyikkan. Terutama jembatan tertinggi dalam kelok yang menarik. 

  

Saya datang ke Hotel pada pukul 19.00 WIT dan kemudian hadir di acara yang unik dan menarik,  As’adiyah Bersalawat. Bersama  Prof. Kamaruddin Amin, saya hadir di tempat acara salawatan. Ternyata di acara tersebut sudah hadir, Bupati dan Wakil Bupati Wajo, Grup Shalawat Az Zahid yang dipimpin oleh Habib Ali Zainal Abidin dari Pekalongan dan jamaah salawat yang mencapai angka puluhan  ribu lelaki dan perempuan. 

  

Dengan pakaian serba putih dan bersarung mereka hadir untuk menyemarakkan acara dan sekaligus bersalawat dan mendengarkan taushiyah dari Prof. Dr. Nasaruddin Umar dan juga Habib Ali Zainal Abidin. Banyak pejabat Kemenag yang hadir, seperti Sekjen Kemenag RI. Prof. Dr. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Amin Suyitno, Direktur Pesantren, Dr. Basnang Said, Staf khusus, Dr. Ismail Cawidu dan Prof. Dr. Salman Manggalatung. Selain itu juga para pejabat dari Kemenag se Sulawesi Selatan. 

  

Acara diselenggarakan pada Kamis Malam, 02/10/2025. Dimulai pukul 20.00 WIT sampai 23.30 WIT. Acara yang panjang akan tetapi para jamaah dengan khusyuk dan tertib mengikuti lantunan shalawat yang dipimpin oleh Habib Ali Zainal Abidin dan juga taushiyah yang berbobot. Membaca salawat tentu telah menjadi tradisi di kalangan pesantren, karena inilah ajaran Islam yang mengkaitkan relasi manusia, Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Ada tiga hal yang saya garis bawahi, yaitu: 

  

Pertama, bacaan salawat berbahasa Arab dan Bahasa Jawa. Di dalam salawat tentu saja menggunakan gubahan-gubahan syair untuk memuji Rasulullah, manusia suci utusan Allah, yang dapat menjadi washilah antara manusia dengan Allah. Diyakini bahwa amalan bacaan shalawat adalah amalan yang langsung diterima oleh Allah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Habib Ali, bahwa  “manusia yang bershalawat dengan hati yang Ikhlas atau kurang Ikhlas sekalipun, maka bacaan shalawatnya akan diterima oleh Allah. Manusia yang bershalawat sekali diberikan penghargaan ganjaran berlipat 10 kali dan seterusnya. Semakin banyak membaca shalawat, maka semakin banyak pahala yang akan diterimanya. Jangan pernah lelah untuk bershalawat. Membaca shalawat dapat menjadi kunci bertemunya umat Islam dengan Nabiyullah Muhammad SAW.”

   

Jumlah  yang bersalawat pada malam ini kira-kira puluhan ribu orang. Semuanya melantunkan shalawat. Maka bacaan shalawat tersebut akan sampai ke hadirat Allah SWT. Dinyatakan oleh Habib Ali bahwa: “lantunan shalawat yang kita baca akan terus naik ke atas, ke langit dunia ke Sidratul Muntaha, ke Mustawa dan ke Arasy ke hadirat Allah SWT. Shalawat yang kita baca secara berjamaah akan dapat mengetuk pintu langit dengan kekuatan yang luar biasa.”

  

Kedua, Prof.Nasaruddin Umar, juga menyampaikan hal senada dengan Habib Ali bahwa: “kita harus meyakini bahwa Rasulullah hadir di tempat ini. Rohnya akan datang kepada kita semua, Roh Nabi Muhammad SAW akan melihat wajah kita. Nabi Muhammad SAW akan memohon kepada Allah SWT agar orang-orang yang membaca shalawat memperoleh berkah kebaikan fid dini, wad dunya wal akhirah. Bacaan shalawat yang dibaca bersama-sama akan menguncang arasy, artinya akan mengetuk arasy sehingga Allah akan memberikan berkah kepada kita semua yang hadir di tempat ini."

   

Lebih lanjut dinyatakan: “Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya makhluk Allah yang diberikan kekuasaan untuk memberikan syafaat. Dan salah satu ungkapan yang sangat disukainya adalah bacaan salawat yang kita hadirkan di dalam hidup kita. Berbahagialah orang yang bisa istiqamah dalam membaca shalawat dan orang-orang yang secara berjamaah melantunkan shalawat. Rasulullah sangat senang dengan pujian-pujian atas kesucian dan kerasulannya. Salawat adalah salah satu instrument penghapus dosa. Lupakan dosa masa lalu dengan terus beristiqamah membaca salawat.”

  

Ketiga, saat-saat yang dinantikan oleh para Jamaah salawat adalah mahalul qiyam. Pada waktu itulah doa-doa kebaikan diluncurkan melalui lantunan salawat, sampai gilirannya dibacakan doa yang sangat luar biasa: “rabbi faghfirli dzunubi Ya Allah, bibarkatil hadi Muhammad Ya Allah.” Sebuah lantunan doa permohonan ampunan kepada Allahn SWT. Sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Nasaruddin Umar bahwa: “dengan membaca shalawat Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.”

  

Tetapi tentu ada yang sangat menarik di dalam untaian ceramah yang dilakukan oleh Anre Gurutta, Prof. Nasaruddin Umar dan Habib Ali, bahwa bacaan shalawat ini diharapkan akan bermanfaat bagi khususnya Pondok Pesantren As’adiyah, Masyarakat Kabupaten Wajo dan juga Masyarakat Indonesia. Keduanya memiliki pandangan yang sama tentang cinta tanah air. Di antara Panca Cinta, maka salah satunya adalah cinta tanah air, dan hal ini diucapkan secara mendasar oleh kedua kyai kita.

  

Bahkan di dalam syair-syair yang dibacakan oleh Grup Shalawat dan diikuti oleh Jamaah bahwa NKRI  harga mati. Sebuah ungkapan cinta tanah air yang sangat luar biasa. Lebih lanjut Habib Ali menyatakan: “kita adalah bangsa Indonesia, maka tugas kita adalah untuk mencintai negara dan bangsa Indonesia. Jangan pernah luntur mencintai bangsa Indonesia.”

    

Prof. Nasruddin Umar dalam nada yang sama juga menyatakan bahwa: “mencintai bangsa dan negara adalah sebagian dari iman. Hubbul wathan minal iman. Jadi kita harus beriman kepada Allah SWT, beriman atas kerasulan Muhammad SAW dan juga mencinta bangsa dan negaranya. Indonesia adalah negeri kita, negeri yang diharapkan akan menjadi negara yang “baldatun thayyibatun warabbun ghafur.” Untuk mencapai derajat seperti itu, persyaratannya adalah kerukunan, keharmonisan dan keselamatan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.