Ekoteologi dalam Kurikulum Pesantren (Bagian Dua)
OpiniPesantren dengan institusi pendidikannya diharapkan akan dapat menjadi mediator dalam literasi ekoteologi. Oleh karena itu, pesantren harus menyiapkan seluruh santrinya agar memiliki pemahaman, sikap dan perilaku yang menghargai terhadap alam dan lingkungannya. Pesantren dapat menjadi penyangga program pengembangan lingkungan berkelanjutan. Di sinilah makna penting bahwa pesantren harus menerapkan kurikulum ekoteologi bagi seluruh ustaz/ustazah dan santrinya. Tumpuan Indonesia ke depan terletak bagaimana dunia pesantren menjadi garda depan dalam pelestarian lingkungan.
Secara konseptual untuk pengembangan SDM kiranya dapat digunakan pendekatan Aset Based Community Development (ABCD). Untuk merancang Kurikulum perlu dimodifikasi menjadi Aset Based Institutional Development (ABID). Dikenal ada lima tahapan, yaitu: Discovery, Dreams, Design, Define and Destiny. 1) Discovery yaitu proses untuk mengenali, memahami, menganalisis dan menemukan kekuatan aset yang dimiliki oleh institusi pesantren. Diperlukan pemetaan berbasis fakta empiris agar temuannya dapat ditindaklanjuti. Misalnya aset yayasan, guru, sarana prasarana, tenaga kependidikan, siswa, orang tua siswa, stakeholder dan lingkungan. Aset ini dapat dipertimbangkan pada saat merumuskan kurikulum pesantren. Aset merupakan modal instrumental dalam rekonstruksi kurikulum.
2) Dreams atau membangun mimpi. Di dalam konsepsi institusi pesantren, mimpi adalah setengah cita-cita, setengah cita-cita adalah setengah usaha dan setengah usaha adalah setengah keberhasilan. Ada visi dan misi yang ingin dicapai berbasis pada discovery yang dihasilkan. Bukan day dream atau mimpi di siang bolong dan bukan nightmare atau mimpi buruk di malam hari. Mimpi harus diwujudkan di dalam kurikulum. Perlu dipetakan apa persyaratan untuk menjadikan kurikulum institusi pesantren sebagaimana visi dan misinya.
3) Design yaitu membuat perencanaan, strategi dan keputusan yang relevan dengan visi, misi, program dan aktivitas yang relevan dengan kepentingan pengembangan kurikulum pesantren. Merencanakan tindakan merupakan upaya untuk memadukan antara visi dan misi dengan aset baik yang tangible atau intangible dan kurikulum yang relevan untuk dicapai melalui ukuran-ukuran yang jelas. Design kurikulum dapat dirumuskan dengan mempertimbangkan: pemetaan kebutuhan pemangku kepentingan. Merencanakaan kurikulum harus mempertimbangkan distingsi dan ekselensi institusi pesantren. Setiap pesantren memiliki kekhasannya yang dapat membedakan satu pesantren atas lainnya. Misalnya menguasai agama berbasis kitab kuning, atau menguasai ilmu Al-Qur’an berbasis tahfiz. Di dalam kurikulum masing-masing dapat diintegrasikan dengan ekoteologi. Selain itu juga ada road map untuk merumuskan kurikulum masing-masing pesantren dengan Ekoteologi yang terintegrasi. Diperlukan Design kurikulum berkelanjutan. Kurikulum tidak harus dirumuskan dengan parsial antara satu jenjang dengan jenjang lainnya. Semuanya diupayakan akan ada program yang merupakan satu kesatuan sistemik.
4) Define atau menentukan apa program dan aktivitasnya beserta ukuran-ukuran untuk menentukan keberhasilannya. Di dalam define yang diperlukan bahwa semua komponen di dalam pendidikan dapat secara bersama-sama menentukan apa yang akan dilakukan, bagaimana prosesnya dan apa produknya.
Semua komponen pendidikan: yayasan, kepala sekolah, guru, tenaga kependikan, komite pendidikan dan stakeholder memahami dan mendukung atas upaya untuk menentukan program pengembangan Kurikulum berbasis Ekoteologis. Produk dari pemahaman tersebut adalah terwujudnya kurukulum pesantren berbasis ekoteologis.
5) Destiny atau memastikan program pembelajaran berjalan yaitu upaya untuk memastikan dan menegaskan bahwa visi yang diturunkan menjadi misi, dan diturunkan dalam kurikulum dapat dilaksanakan. Memastikan kurikulum dapat dilakukan dan dievaluasi melalui ukuran keberhasilan. Artinya ada out come atau dampak. Sekarang disebut sebagai pendidikan berdampak. Evaluasi sangat diperlukan untuk mengetahui, menganalisis dan memahami tentang faktor keberhasilan atau hambatan keberhasilan dalam mengimplementasikan integrasi kurikulum Ekoteologi.
Kiranya penting untuk memperhatikan ciri khas pendidikan pesantren dalam kaitnnya dengan relasi kyai, santri dan pesantren, yaitu: 1) Relevansi bahwa kurikulum pesantren harus memiliki keterkaitan dengan keilmuan pesantren dan kyainya. Ada pesantren yang akan menghasilkan lulusan ahli hadits, ahli Alqur’an, ahli ilmu fiqih, ahli bahasa, ahli tasawuf, ahli kewirausahaan yang tafaqquh fid din. 2) Integrasi, bahwa kurikulum pesantren harus mengutamakan integrasi antar berbagai ilmu yang diajarkan di pesantren. Memadukan antara keahlian mayor dalam bidang tertentu dari ilmu keislaman dan ilmu lainnya. 3) Distingsi, bahwa kurikulum pesantren harus mempertimbangkan tentang adanya perbedaan antar satu pesantren dengan lainnya. Pesantren diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang menjadi distingsinya. 4) Ekselensi, yaitu pesantren harus memiliki keunggulan khusus yang dapat menjadi daya tarik bagi pemangku kepentingannya. Keunggulan merupakan ciri yang melekat pada pesantren sehingga menghasilkan brand khusus yang dimilikinya. 5) Preparasi, yaitu pesantren harus mempersiapkan alumninya untuk dapat bermanfaat bagi diri, keluarga, komunitas dan masyarakatnya. Pesantren dan aluminya juga harus berdampak bagi agama, nusa dan bangsa.
Kurikulum Ekoeologis dapat diselenggarakan melalui program integrated curriculum. Yaitu pembelajaran dengan penerapan materi pembejalaran yang terintegrasi. Pilihan integrated curriculum mengacu pada kekhasan pesantren dengan program pendidikannya. Design kurikulum dilakukan dengan mengacu pada kurikulum tekstual dan kurikulum tersembunyi. Integrated curriculum sebagai jalan ketiga. Isi kurikulum diintegrasikan dengan materi pembelajaran ekoteologi. Konsep dan praksis ekoteologi diintegrasikan di dalam materi pembelajaran.
Untuk rekonstruksi kurikulum, maka Direktorat Pesantren pada Kementerian Agama dapat bekerja sama dengan para kyai, Ustadz, ulama dan institusi pendidikan yang memiliki konsern dalam pengembangan kurikulum, ahli lingkungan dan Dunia Usaha Dunia Industri. Produk yang diharapkan adalah kurikulum pembelajaran yang fleksibel, adaptif dan bersearah dengan kemajuan zaman, yang ditandai dengan hasil pendidikan yang bervisi masa depan. Para guru, ustadz dan pengajar di lembaga pesantren harus memiliki visi, misi dan program yang berseirama dengan pencapaian tujuan kurikulum ekoteologi terintegrasi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

