(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Bakti Santri untuk Negeri: Puncak Hari Santri Nasional 2025 (Bagian Satu)

Opini

Saya merasa mendapatkan kehormatan untuk menghadiri acara Puncak Hari Santri Nasional 2025, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada Kementerian Agama dan selaku penyelenggara khusus  adalah Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Acara yang megah diselenggarakan di Gedung Sasana Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Acara yang Khidmah tetapi semarak. Acara dipadukan antara desain panggung modern dengan sajian musik religious oleh Orchestra Pesantren Al Ikhlas, Bone yang bersatupadu dengan Paduan Suara dari Ditjen Bimbingan Masyarakat Kristen Kemenang. Acara istimewanya adalah dilantunkannya lagu-lagu religious oleh Putri Ariyani, The Famous Singer of American Idol. 

  

Acara ini dihadiri oleh sejumlah 2500 santri yang berasal dari Pondok Pesantren Se-Jadebotabek. Acara  dihadiri oleh Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Sekjen Kemenag, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam,  Prof. Dr. Amin Suyitno, Dirjen Bimas Islam,  Prof. Dr. Abu Rohmat, Kepala BMBPSDM, Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, Dirjen Bimas Kristen,  Dr. Jeane Marie Tulung, Dirjen Katolik,  Dr. Suparman, Dirjen Bimas Hindu,  Prof. Dr. I Nengah Duija, Dirjen Bimas Buddha,  Supriadi, MPd., dan Irjen,  Khoirun Nas, MSi.,  sejumlah kyai dan pimpinan organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Wanita Islam dan sebagainya. Di dalam tulisan ini saya menyampaikan Pidato Menag, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA dalam tiga hal, yaitu:

  

Pertama, pentingnya upaya untuk mengembangan potensi ekonomi umat melalui tempat ibadah dan pesantren. Indonesia selalu menjadi negara terbaik di dunia terkait dengan filantropi. Umat beragama di Indonesia memiliki cara yang luar biasa untuk melakukan kegiatan donasi, seperti umat Islam dengan Zakat, Infaq, sedekah dan wakaf. Melalui skema ini, maka potensi filantropi tersebut sangat luar biasa. Sebagai contoh potensi zakat yang mencapai angka Rp327 triliun pertahun, potensi wakaf  yang mencapai angka Rp181 triliun, potensi hewan korban mencapai angka Rp31 triliun. Dan masih banyak lagi potensi lainnya, termasuk potensi dana punia dari Agama Hindu, Dana Paramita Buddha, dan Dana Kolekte dalam agama Nasrani. 

  

Semua menggambarkan bahwa potensi dana filantropi umat beragama di Indonesia itu sangat besar. Dana ini jika dikelola dengan optimal maka akan dapat mengentas kemiskinan. Angka kemiskinan sekitar 20 juta orang lebih, jika masing-masing diberikan insentif untuk peningkatan ekonominya, maka tidak ada sepertiganya dari dana philantropi yang misalnya pertahun sebesar Rp500 triliun. Belum lagi dana pesantren yang berasal dari 42.391 pesantren di Indonesia.

  

Kedua, tidak ada yang meragukan peran pesantren di Indonesia, peneliti dari Inggris menyatakan bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan termodern di Indonesia. Pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pendidikan agama, akan tetapi juga pendidikan yang memelihara etika dan kemampuan umum yang dibutuhkan untuk memenuhi kehidupan. 

  

Pesantren telah teruji dalam ratusan tahun sebagai institusi pendidikan yang terlibat di dalam memelihara akhlak masyarakat dan juga memperjungkan kemerdekaan. Semenjak pangeran Diponegoro, kemudian KH. Nawawi Al Bantani sampai KH. Hasyim Asy’ari adalah santri yang memperjuangkan pengusiran penjajah dari bumi Nusantara. 

   

Hari Santri Nasional yang kita peringati ke 10 tahun ini adalah legacy dari Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan  Fatwa Jihad pada 22 Oktober 1945 yang menjadi landasan perjuangan untuk mengusir penjajah. Perlawanan masyarakat Surabaya dalam perang melawan tentara Sekutu di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan, adalah dampak atas fatwa Jihad yang dihasilkan dari pertemuan para Kiai. Sungguh luar biasa. 

  

Pesantren telah menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang memiliki dedikasi atau pengabdian yang luar biasa bagi bangsa dan negara Indonesia. Pesantren telah menghasilkan guru ngaji, sarjana, doctor, professor, birokrat dan bahkan presiden. Semua ini tentu karena bakti para kiai di dalam membina para santri di pesantren. Para kiai tidak hanya berdoa dengan perkataan, akan tetapi berdoa dengan kenyataan atau keteladanan dan bahkan berdoa dengan hati, keikhlasan dan kesungguhan. Ketiganya dilakukan oleh para kiai. Addu’a bil qauli, addu’a bil hal dan addu’a bil I’dadi. Adu’a bil hal afshahu min  du’ai bil qauli dan addu’a bil I’dadi afshahu min du’ai bil hal. Inilah yang dilakukan kiai dalam membina para santri.

  

Ketiga, ada seorang gubernur yang menyatakan bahwa:  “saya tidak akan lagi membangun Sekolah Menengah Atas (SMA) akan tetapi saya akan membangun Madrasah Aliyah (MA). Saya melihat bahwa Madrasah Aliyah  juga mengajarkan ilmu yang dipelajari di Sekolah Menengah Atas dan di Madrasah Aliyah  juga diajarkan ilmu agama. Di  Madrasah Aliyah  itu lebih komprehensif yang diajarkannya.”

  

Oleh karena itu, meskipun akhir-akhir ini terdapat cobaan melalui keruntuhan Mushalla di Pesantren Al Khazini dengan korban sebanyak 67 orang, dan juga penistaan atas pesantren, maka kita yakini bahwa hal ini tidak akan berpengaruh terhadap kewibawaan pesantren, tidak akan mengurangi martabat pesantren. Ada yang membuat terharu, sebagaimana penuturan Menag, di kala mengunjungi Pesantren Al Khazini, bahwa ada orang tua santri yang menyatakan: “saya Ikhlas dan rela anak saya wafat di pondok ini. Apalagi dipanggil Allah pada saat salat. Saya saja belum tentu bisa meninggal dunia  dalam keadaan seperti ini”. 

  

Keikhlasan, ketawakkalan dan perasaan  syukur seperti inilah yang akan tetap menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang agung, bermartabat  dan berwibawa.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.