Pesantren, Kesabaran dan Kemuliaan: Wisuda STAI Al Yasini Pasuruan
OpiniSaya diundang oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Yasini Pasuruan dalam acara Wisuda Sarjana ke 10. Acara diselenggarakan di Hotel Ascent Premiere Gadingrejo, Pasuruan, 19/10/2025. Acara ini dihadiri oleh Kiai A. Mujib Imron, SH., MH., Prof. Dr. Ilfi Nurdiana, Rektor UIN Maliki Malang dan Penasehat STAI Al Yasini, Dr. M. Ubaidillah, MSi, Sekretaris Kopertais Wilayah IV, seluruh Pimpinan STAI Al Yasini Pasuruan, Ketua STAI Al Yasini, Dr. Ach. Syamsul Muniri, Wakil ketua, Ketua Prodi, Kepala Lembaga dan dosen serta wisudawan dan orang tua atau walinya.
Saya mengapresiasi STAI Al Yasini karena sudah sensitif gender. Di meja kehormatan ini terdapat seorang perempuan yang sangat terpelajar menduduki jabatan penting di dalam institusinya. Kebanyakan pimpinan lembaga pendidikan tinggi itu lelaki. Di dalam acara ini, saya menyampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, orang tua atau wali wisudawan, pimpinan Pondok Pesantren Al Yasini, pimpinan STAI Al Yasini, dan seluruh jajaran pimpinan dan dosen yang terlibat di dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan ini. Tanpa kehadiran lembaga pendidikan dengan segenap perangkatnya, maka tidak ada pengukuhan gelar Strata I atau sarjana. Berkat pendidikan yang dilakukan, maka lembaga pendidikan ini telah menyumbang tenaga terdidik atau orang yang well educated sebanyak ini.
Sebagaimana diketahui bahwa jumlah sarjana di Indonesia masih tergolong kecil. Belum mencapai angka 10%. Tepatnya 6,7% dari penduduk Indonesia sebesar 267 juta jiwa. Jumlah sarjana kita baru 18,6 juta. Seharusnya jumlah sarjana kita sudah mencapai angka 10% atau 26,7 juta. Itulah sebabnya para wisudawan adalah penduduk Indonesia yang Istimewa dan langka. Sudah sering saya nyatakan bahwa pendidikan merupakan instrument penting di dalam pengembangan SDM. Semakin banyak penduduk Indonesia yang sarja berarti semakin banyak penduduk Indonesia yang menjadi SDM yang unggul.
Kedua, lembaga pendidikan ini mengusung pendidikan berbasis agama. Sebuah lembaga pendidikan yang secara substansial menjadikan agama sebagai basis pendidikannya. Institusi pendidikan ini membawa nama pesantren. Membawa nama kIai dan seluruh ustaz dan ustazahnya. Dengan substansi pendidikan Islam tentu akan berbeda dengan institusi pendidikan lain yang tidak mengusung substansi agama di dalamnya. Bukan ahli pendidikan seKular akan tetapi ahli pendidikan yang Islami. Saya berkeyakinan bahwa mereka adalah pendidik yang dapat menjadi contoh dalam kehidupam social keagamaan dan social pada umumnya.
Mereka adalah orang yang telah mengenyam ilmu dalam konteks Islam wasthiyah, Islam rahmatan lil alamin. Mereka tentu sudah mengajarkan tentang hubbul wathan minal iman, sudah mengajarkan jangan merusak lingkungan, mereka mengajarkan tentang pentingnya mencari ilmu, mengajarkan agar berprinsip mencintai diri dan kemanusiaan dan akhirnya mencintai Allah dan Rasulnya. Sebuah cinta yang akan memiliki dampak kebaikan bagi manusia tidak hanya di dunia, akan tetapi juga di akhirat.
Ketiga, dunia pesantren kita sedang sedang dirundung duka. Musibah di Pondok Pesantren Al Khazini Sidoarjo dengan korban yang cukup banyak. Kecelakaan yang tentu tidak disengaja dan kecelakaan yang bisa dinyatakan sebagai kepastian Tuhan atau takdir Tuhan. Apapun alasannya bahwa pimpinan pesantren tidak melakukan tindakan kesengajaan. Saya termasuk yang menepis bahwa hal ini adalah murni kelalaian. Lalu, yang tidak kalah penting adalah bullying yang dilakukan oleh Trans7 dalam acara khusus yang diselenggarakannya. Jika kita dengar apa yang disampaikannya, tentu bisa membuat orang Islam yang berbasis pesantren atau para santri marah sebab memang sangat vulgar bahasa yang digunakan dan juga foto-foto yang dijadikan sebagai latar informasinya. Sungguh membuat kita miris dengan ungkapan dan gaya bahasanya. Nada-nada satiris yang diungkapkannya membuat hati seorang muslim, yang sehaluan dengan pondok pesantren menjadi marah karena sakit hati. Tentu saja saya tidak ingin mengungkapkan bagaimana reaksi umat Islam, khususnya para santri. Jelas harus ada penyikapan yang sangat tegas terkait dengan acara Trans7 yang memang benar-benar melecehkan pesantren.
Tetapi di atas itu semua, saya berkeyakinan bahwa ada desain Tuhan atas semua peristiwa ini. Tidak ada satupun peristiwa di dunia yang tidak ada campur tangan Tuhan. Inilah dunia keyakinan yang tidak bisa didiskusikan. Harus diyakini keberanannya. Dan sungguh saya berkeyakinan bahwa semua yang menyangkut peristiwa yang sedang terjadi kepada pesantren tersebut bukan untuk mendegradasi fungsi dan tugas pesantren, tetapi justru untuk meninggikan derajad dan kemuliaan pesantren. Semua yang menimpa pesantren adalah cara Allah untuk semakin meninggikan martabat dan marwah pesantren.
Agar marwah dan harkat pesantren menjadi semakin tinggi pasca bencana dan bullying tersebut, maka semua harus menahan diri dan sabar lalu bersyukur kepada Allah. Semakin besar sabar, syukur dan tawakkal pada Allah, maka akan semakin besar kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya yang berkhidmah untuk pesantren.
Wallahu a’lam bi al shawab.

