(Sumber : Tempo.co)

Analisis Wacana Kritis Fungsi Komunikatif Pidato Paus Fransiskus 2021 di Irak

Riset Sosial

Tulisan berjudul “Communicative Functions Used in Pope’s 2021 Speech in Iraq: A Critical Discourse Analysis of Religious Pluralism” merupakan karya Abeer Khalaf Hussein, Ali Hussein Hazem, dan Dina Fahmi Kamil. Artikel ini terbit dalam Jurnal Ilmiah Islam Futura Vol. 25 No. 1 Tahun 2025. Secara umum, artikel ini membahas fungsi-fungsi komunikatif dalam pidato Paus Fransiskus tahun 2021 di Kota Ur, Irak, sebagai bentuk wacana yang menegaskan nilai pluralisme agama. Review ini akan menjelaskan tiga bagian utama. Pertama, kerangka konseptual dan metodologis. Kedua, analisis fungsi komunikatif dalam pidato Paus. Ketiga, implikasi hasil penelitian terhadap studi pluralisme agama dan wacana perdamaian.

  

Kerangka Konseptual dan Metodologis

  

Artikel ini berangkat dari persoalan klasik dalam komunikasi lintas agama: bagaimana bahasa dapat berperan dalam membangun kesadaran pluralisme. Para penulis menegaskan bahwa keberagaman agama yang terus berlangsung di dunia modern menuntut adanya dialog antariman sebagai sarana untuk mencapai perdamaian. Pidato Paus Fransiskus di Irak dipilih sebagai objek penelitian karena menjadi simbol kuat dari upaya rekonsiliasi antara komunitas Kristen dan Islam di Timur Tengah.

  

Pada kerangka teoretisnya, penulis menggunakan teori naratologi Gérard Genette (1980) dan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA). Genette dikenal dengan konsep lima fungsi naratif, yaitu narrative, directing, communication, testimonial, dan ideological function. Melalui teori tersebut, penulis berusaha menafsirkan bagaimana pidato Paus tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga membangun relasi simbolik antara bahasa, nilai, dan tindakan sosial. Pendekatan CDA digunakan untuk menelaah hubungan antara bahasa dan kekuasaan dalam konteks wacana perdamaian.

  

Pada sisi metodologi, penelitian tersebut termasuk jenis kualitatif dengan analisis teks yang terfokus pada isi pidato Paus. Data diambil dari sumber daring resmi, lalu diklasifikasi berdasarkan fungsi naratif Genette. Penulis juga menyajikan tabel frekuensi penggunaan tiap fungsi, yang memperlihatkan dominasi fungsi komunikasi sebesar 68,36%. Hal ini menunjukkan kecenderungan Paus untuk menekankan dialog, keterbukaan, dan rasa persaudaraan lintas agama.

  

Analisis Fungsi Komunikatif dalam Pidato Paus

  

Peneliti mencoba menguraikan secara rinci bagaimana setiap fungsi komunikatif muncul dalam teks pidato. Fungsi naratif berperan menggambarkan perjalanan sejarah spiritual Abraham sebagai figur pemersatu bagi tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Fungsi ideologis digunakan untuk menegaskan nilai-nilai ketuhanan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral umat manusia terhadap sesama.

  

Namun yang paling dominan adalah communication function, yaitu bentuk komunikasi langsung Paus kepada hadirin dengan ajakan untuk bersatu, menolak kekerasan, dan menjaga kebebasan beragama. Bagian-bagian pidato seperti seruan untuk “melihat langit yang sama” atau “tidak memiliki musuh” menjadi contoh kuat dari bagaimana bahasa religius dapat membangun jembatan empati dan solidaritas universal.


Baca Juga : Alternatif Hukum Bagi Standarisasi Halal di Negara Minoritas Muslim

  

Fungsi testimonial, meski hanya muncul beberapa kali, memperkuat aspek emosional dan kemanusiaan. Paus menyebut penderitaan masyarakat Irak, terutama komunitas Yazidi, sebagai pengalaman nyata yang menggugah solidaritas lintas iman. Sedangkan fungsi directing tidak ditemukan karena pidato ini tidak bersifat instruktif, melainkan inspiratif. Jadi, pesan utama yang ingin disampaikan Paus lebih berupa ajakan moral ketimbang perintah normatif.

  

Implikasi terhadap Studi Pluralisme dan Wacana Perdamaian

  

Artikel tersebut memiliki relevansi tinggi terhadap kajian pluralisme agama, linguistik wacana, dan komunikasi lintas budaya. Melalui analisis fungsi komunikatif, penulis menunjukkan bahwa wacana keagamaan dapat menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan kesadaran damai dan saling menghormati. Dominasi fungsi komunikasi memperlihatkan bahwa dialog adalah inti dari praksis keberagamaan modern.

  

Selain itu, artikel ini membuka peluang metodologis baru dalam penelitian wacana keagamaan. Kombinasi antara CDA dan naratologi menawarkan perspektif interdisipliner yang menghubungkan antara struktur bahasa, konteks sosial, dan nilai-nilai moral. Pendekatan ini dapat diadaptasi untuk mengkaji teks-teks Islam seperti khutbah Jumat, pidato dakwah, atau pernyataan tokoh agama dalam isu kemanusiaan global.

  

Kendati demikian, artikel tersebut masih dapat dikembangkan lebih jauh. Analisis sosial-politik Irak sebagai latar wacana belum tergarap secara mendalam, padahal konteks tersebut penting untuk menegaskan urgensi pluralisme dalam masyarakat pascakonflik. Begitu pula refleksi terhadap hubungan antara pluralisme Kristen dan Islam masih bersifat normatif dan belum sampai pada tataran teologis yang lebih mendalam.

  

Kesimpulan

  

Secara keseluruhan, artikel “Communicative Functions Used in Pope’s 2021 Speech in Iraq” merupakan karya akademis yang kuat dan bernilai reflektif. Dengan menggabungkan teori naratologi dan analisis wacana kritis, para penulis berhasil memperlihatkan bagaimana bahasa religius dapat menjadi instrumen perdamaian. Pidato Paus Fransiskus tidak hanya mengandung pesan spiritual, tetapi juga menawarkan model komunikasi lintas iman yang menumbuhkan rasa kemanusiaan universal. Tulisan tersebut memberikan inspirasi bagi pengembangan studi wacana keagamaan di lingkungan akademik Islam, khususnya dalam memahami peran bahasa sebagai sarana membangun dialog dan keadaban bersama.