(Sumber : Kompas.com)

Ketika Ilmu Pengetahuan Dianggap Sesat di Eropa

Informasi

Oleh Eva Putriya Hasanah 

  

Sejarah peradaban manusia tidak selalu bersinar terang. Ada masa ketika berpikir rasional dianggap berbahaya, bertanya berarti melawan Tuhan, dan mencari penjelasan ilmiah bisa mengakhiri hukuman mati. Masa itu dikenal sebagai Abad Kegelapan (Abad Kegelapan) — periode antara runtuhnya kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga sekitar abad ke-10 Masehi, ketika Eropa tenggelam dalam kabut ketakutan, dogma, dan kemandekan intelektual.

  

Gereja sebagai Penjaga Kebenaran Tunggal

  

Setelah kekacauan politik dan sosial pasca runtuhnya Romawi, Gereja Katolik menjadi satu-satunya lembaga yang stabil dan berpengaruh. Gereja tidak hanya mengatur kehidupan spiritual, tetapi juga mendikte cara berpikir masyarakat. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan dianggap hanya sah jika selaras dengan teologi Kristen. Segala sesuatu yang menentang Kitab Suci dianggap sebagai bentuk bid\'ah (bid\'ah) — dosa intelektual yang sangat berat (Grant, 2001).

  

Para pemuka agama mendominasi institusi pendidikan dan menutup akses terhadap teks-teks klasik Yunani yang mengandung pemikiran rasional. Karya-karya Aristoteles, Euclid, atau Galen dianggap mencurigakan karena lahir dari budaya non-Kristen. Para ilmuwan atau filsuf yang mencoba berpikir di luar batas-batas dogma sering kali dicap kafir, disidang, atau diasingkan.

  

Ketika Rasionalitas Dianggap Ancaman

  

Pada masa itu, penjelasan rasional terhadap fenomena alam dianggap sebagai upaya melawan kehendak Tuhan. Petir, gempa, atau wabah penyakit dijelaskan sebagai bentuk murka Ilahi, bukan sebagai gejala alam yang bisa dipelajari. Munculnya rasa ingin tahu terhadap hukum-hukum alam sering dikaitkan dengan praktik sihir atau kepercayaan pagan.


Baca Juga : Genosida: Zionis Membumihanguskan Warga Gaza

  

Misalnya, para tabib yang mencoba mengembangkan metode pengobatan empiris kerap kali sebagai “penyihir.” Ilmu kedokteran non-teologis dianggap mencampuri kekuasaan Tuhan atas kehidupan dan kematian. Dalam situasi seperti ini, ilmu pengetahuan kehilangan kebebasan epistemologisnya — ia tidak lagi mencari kebenaran, melainkan sekadar memperkuat otoritas gereja (Lindberg, 2007).

  

Kasus Galileo dan Copernicus: Puncak Ketegangan Ilmu dan Gereja

  

Meskipun kasus Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei terjadi setelah masa kegelapan berakhir, keduanya menjadi simbol abadi dari benturan antara sains dan otoritas agama.

  

Copernicus (1473–1543) mengemukakan teori heliosentris bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi. Teori ini berbeda langsung dengan pandangan Alkitab bahwa bumi merupakan pusat ciptaan Tuhan. Setelah kematian Copernicus, ide itu dihidupkan kembali oleh Galileo (1564–1642), yang diperkuatnya melalui pengamatan teleskopik.

  

Namun pada tahun 1633, Galileo diadili oleh Inkuisisi Gereja Katolik dan dipaksakan pernyataan menariknya. Ia menghabiskan sisa hidupnya di rumah tahanan. Kasus ini mencerminkan bahwa bahkan pada masa Renaisans, warisan ketakutan terhadap ilmu pengetahuan dari Abad Kegelapan masih kuat melekat (Finocchiaro, 2010).

  

Ketika Dunia Islam Justru Menjadi Lentera Ilmu

  

Ironisnya, pada saat Eropa membatasi pengetahuan, dunia Islam sedang berada pada puncak kejayaan intelektualnya. Dari Bagdad hingga Cordoba, para ilmuwan Muslim mengembangkan berbagai cabang ilmu dengan metode observasi dan eksperimen.

  


Baca Juga : Profesor Baru UINSA: Internasionalisasi Institusi Menjelang Era Industri 5.0

Tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi (matematika), Ibnu Sina (Avicenna) (kedokteran), dan Al-Haytham (Alhazen) (optika) meletakkan dasar bagi ilmu pengetahuan modern. Di dunia Islam, agama dan ilmu tidak dipertentangkan, melainkan saling memperkuat.

  

Karya-karya mereka kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan masuk kembali ke Eropa melalui Andalusia. Proses ini menjadi jembatan yang mengakhiri masa kegelapan intelektual Barat dan melahirkan Renaisans — kebangkitan besar ilmu pengetahuan Eropa (Huff, 2003).

  

Runtuhnya Dogma dan Lahirnya Rasionalitas Baru

  

Renaisans menandai rasionalitas dan empirisme. Para pemikir mulai menolak otoritas mutlak gereja dan menempatkan akal sebagai dasar pencarian kebenaran.

  

Namun, warisan masa kegelapan tidak hilang begitu saja. Dalam beberapa abad setelahnya, ilmuwan masih dihadapkan pada sensor, kecaman, bahkan ancaman. Meski begitu, perubahan besar sudah dimulai: manusia berani berpikir sendiri, melihat dogma, dan meneliti dunia secara terbuka.

  

Filsuf seperti Francis Bacon memperkenalkan metode induktif, sementara René Descartes menegaskan bahwa berpikir adalah inti keberadaan manusia (“Cogito ergo sum”). Semangat inilah yang mendasari menjadi revolusi ilmiah pada abad ke-17 dan 18, menandai berakhirnya dominasi “kegelapan” atas ilmu pengetahuan.

  

Refleksi: Antara Dogma dan Kebebasan Intelektual

  

Kisah Abad Kegelapan memberi pelajaran penting bagi dunia akademik modern: ketika otoritas menutup ruang berpikir, peradaban akan mandek. Kebenaran ilmiah tidak boleh dibatasi oleh kepentingan politik atau keagamaan.

  

Dalam konteks kampus masa kini, refleksi ini mengingatkan bahwa kebebasan akademik adalah nafas dari pengetahuan itu sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa ilmu hanya bisa tumbuh ketika manusia berani berpikir dan berpikir kritis.

  

Maka, dari kegelapan abad pertengahan, kita belajar satu hal: pengetahuan tidak pernah sesat — yang sesat adalah ketika manusia takut pada kebenaran.

•