(Sumber : Republika)

Dosen PTKIN Tidak Lancar Membaca Al-Qur'an?

Opini

Akhir-akhir sedang viral tentang gambaran dosen PTKIN yang tidak bisa atau tidak lancar membaca Al-Qur’an. Sebuah realitas social yang diungkap oleh salah seorang professor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Eva Latipah.  Di dalam artikelnya yang diterbitkan  di Republika.id berjudul “PTKIN Bermutu Global, Mampukah Bertahan Tanpa Kompetensi Membaca Al-Qur’an” (10 Juli 2025),  disampaikan tentang fenomena yang sangat menarik berdasarkan pengamatannya mengenai dosen PTKIN yang berpeluang tidak dapat membaca atau tidak lancar membaca Al-Qur’an. Sungguhkah?

  

Dosen itu sebuah pekerjaan professional berbalut pengabdian kepada institusi dan masyarakat di dalam kerangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu dapat dikaitkan dengan bunyi teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagaimana tertuang di dalam empat pokok pikiran di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun UUD 1945 sudah direvisi, bahkan berkali-kali, akan tetapi teks Pembukaan UUD 1945 tidak diubah. Konon katanya perubahan Pembukaan UUD 1945 sama artinya dengan merobohkan Indonesia.

  

Sebagai pekerjaan profesional tentu saja mengharuskan para pelakunya untuk memenuhi standart di dalam pekerjaan tersebut, yaitu memiliki kompetensi pedagogis, kompetensi professional, kompetensi social dan kompetensi kepribadian. Ini saja. Tetapi bagi dosen PTKIN ditambahkan persyaratan yaitu memahami dan mengamalkan ajaran agama yang mendasar. Konsekuensi sebagai institusi keagamaan, yang mengusung tema profanitas dan sakralitas. 

  

Memahami dan mengamalkan Islam itu tentu saja atas hal-hal yang mendasar. Tidak harus menguasai dalam konteks kedalaman ajaran Islam seperti bisa membaca teks klasik atau penguasaan atas kutubus sittah. Tentu tidak. Tetapi memahami hal-hal mendasar tentang rukun islam dan rukun iman tentu wajib. Ini hal prinsip. Meskipun juga tidak harus sangat mendalam dengan mengaitkannya dengan referensi kitab-kitab kuning. Cukuplah paham syarat dan rukunnya dan benar di dalam memahaminya dan sekaligus mengamalkannya. 

  

Lalu bagaimana dengan membaca kitab suci, Alqur’an. Hal ini tentu terkait dengan keimanan atas Alqur’an sebagai kitab suci. Jangan juga dipahami harus memahami dalil-dalil atau referensi kitab klasik yang berupa tafsir Al-Qur’an. Tidak usah jauh-jauh. Yang penting bisa membaca dan memahami artinya sebagaimana  yang sudah diterjemahkan oleh para ahli, khususnya terjemah Al-Qur’an oleh Kementerian Agama. Sekarang sudah banyak terjemah Alqur’an dalam bahasa-bahasa daerah. Tidak usah khawatir. 

  

Sebagai dosen, kita mengusung institusi yang momot agama. Ada agama di dalamnya, maka kita boleh  sama dengan dosen PTU yang tidak mengusung agama sebagai simbol institusinya. Dosen PTU harus sama dan sebangun dengan syarat profesionalitas sebagaimana terdapat di dalam UU Guru dan Dosen, yang akan segera direvisi. Tetapi syarat profesionalitas itu tidak akan diganti. Redaksinya boleh berbeda, tetapi substansinya harus sama. Dosen PTKIN memiliki syarat tambahan, dan salah satunya adalah kemampuan untuk membaca kitab suci. Dosen agama Islam di PTU juga terkena persyaratan tersebut. Sama dengan dosen di PTKA lainnya. 

  

Dosen yang kurang lancar membaca Alqur’an tentu ada. Tetapi berapa prosentasenya belum diketahui atau jika menggunakan asumsi tentu kecil. Sama dengan adakah professor yang melakukan plagiasi. Jawabannya tentu ada. Berapa prosentasenya tentu belum bisa diketahui. Jika menggunakan asumsi tentu kecil. Sama dengan adakah professor yang tidak impactfull. Tentu ada dengan jumlah yang belum terdeteksi atau dengan menggunakan logika jumlahnya kecil. 

  

Saya teringat dengan pandangan hidup Pak Harto, Presiden RI ke dua, yang sangat memaham mengenai filsafat hidup orang Jawa. Ojo kagetan, ojo gumunan. Jangan mudah kaget apalagi terkaget-kaget dan jangan heran apalagi keheran-heranan. Biasa saja. Ada plus dan ada minus. Tidak mungkin di dalam kehidupan di dunia ini plus semua. Namanya juga manusia. Pasti ada kekurangannya. Tetapi yang paling penting adalah menyadari ada kekurangan pada diri kita. Islam mengajarkan jangan sombong. Di dalam filsafat Jawa diajarkan jangan memiliki filsafat hidup sopo siro, sopo ingsung. Siapa kamu dan siapa saya. orang yang menganggap bahwa dialah orang yang paling hebat dan yang lain di bawahnya. Ada lagi filsafat Jawa ojo dumeh atau orang yang merasa dirinya yang paling berkuasa, paling hebat dan berlebih dalam segalanya. 

  

Membaca Al-Qur’an tentu merupakan sunnah muakkad  syakhsiyah. Perorangan. Ada kebaikan  secara individual yang harus ditunaikan. Ada hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: “Khairukum  man ta’allamal qur’ana wa ‘allamahu”, yang artinya: “sebaik-baik kamu adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya”. Dosen bagi saya adalah orang mengajarkan ilmu pengetahuan, sesuai dengan bidang keahliannya. Ada yang ahli ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu social, sains dan teknologi, serta ilmu formal dan ilmu terapan. Dan mandat UIN, khususnya, adalah mengembangkan integrasi ilmu. Maka seyogyanya seorang dosen PTKIN harus bisa membaca Alqur’an dan sekurang-kurangnya adalah terjemahannya untuk menjadi dasar bagi integrasi ilmu dimaksud. 

  

Oleh karena itu, mari kita sadari tentang penguasaan bacaan Alqur’an. Bagi pimpinan PTKIN bisa melakukam himbauan agar para dosen secara individual atau kelompok untuk belajar Alqur’an, misalnya melalui acara tahsinan rutin. Bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saya memiliki acara tahsinan tiga kali dalam sepekan yang diikuti oleh orang-orang yang usianya di atas 40 tahunan. Acara ini didesain sebagai program belajar untuk memperbaiki makharijul huruf dan juga tajwidnya serta kelancarannya. Selain itu juga penjelasan ayat demi ayat berdasarkan terjemah dan penjelasannya. Tidak harus menggunakan ilmu tafsir yang rumit, misalnya Tafsir Jalalain. Secara kelakar saya sampaikan, bahwa penjelasannya menggunakan  Tafsir Jalan Lain. Atau supaya keren saya sebut sebagai Tafsir sosiologis. Ada-ada saja.

  

Dari acara tahsinan dan penjelasan-penjelasan tentang ayat atau surat, maka kemudian saya tuliskan dan saya publish di blog nursyam.uinsa.ac.id. Kebanyakan tulisan saya di blog ini merupakan hasil diskusi di dalam acara ceramah rutin selasanan dan tahsinan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya.

  

Ada manfaat ganda bukan?

  

Wallahu a’lam bi al shawab.