Rekonstruksi Peran Aktor Lokal dalam Islamisasi
Riset BudayaArtikel berjudul “Reconstructing the role of local actors in the Islamization of East Kalimantan” merupakan karya Ahmad Norma Permata, Ahmad Yunani, Masmedia Pinem, Dede Burhanudin, dan Isman. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2025. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh sejarah Islamisasi di Indonesia selama ini selalu digambarkan sebagai proses satu arah, di mana Islam dibawa ke Indonesia oleh dan atas inisiatif pendakwah dari luar. Sementara masyarakat lokal dianggap hanya penerima pasif. Pandangan ini sebenarnya mencerminkan pola pikir kesarjanaan kolonial, yang selalu menganggap masyarakat Asia Tenggara terbelakang dan hanya mampu berkembang dengan bantuan peradaban luar. Namun kajian-kajian arkeologis kontemporer menunjukkan bukti yang berbeda, yaitu bahwa masyarakat Asia Tenggara sudah memiliki sistem kehidupan yang maju sebelum datangnya pengaruh peradaban-peradaban asing. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Petama, pendahuluan. Kedua, sejarah arus utama: islamisasi sebagai agenda pendakwah asing. Ketiga, Bukti arkeologis: jejak peninggalan Islamisasi. Keempat, penguatan politik: peran penguasa lokal.
Pendahuluan
Kajian ini berupaya mengeksplorasi wacana konseptual seputar Islamisasi Indonesia, khususnya mengkaji perspektif yang kontras antara pandangan konvensional yang dipengaruhi oleh kolonialisme dan pandangan alternatif yang menekankan peran penguasa lokal untuk kepentingan politik mereka sendiri. Narasi sejarah arus utama menggambarkan Islamisasi di Indonesia sebagai proses searah, di mana para pendakwah asing memperkenalkan Islam dari luar dan masyarakat lokal hanya menerimanya secara pasif. Tahap pertama sebagian besar dilakukan oleh para pendakwah asing, sementara masyarakat lokal terlibat aktif dalam proses Islamisasi pada tahap kedua.
Marginalisasi aktor lokal dalam pengembangan budaya merupakan ciri khas kajian era kolonial, yang seringkali dibenarkan dengan kedok misi peradaban. Temuan arkeologis terbaru di Asia Tenggara menunjukkan bukti adanya jaringan perdagangan yang kompleks, pusat-pusat perkotaan, dan praktikpraktik pertanian canggih yang dikembangkan secara independen oleh komunitas lokal, sehingga menantang anggapan bahwa masyarakat-masyarakat ini semata-mata dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Jadi, pengenalan agamaagama dunia seringkali merupakan langkah strategis oleh penguasa lokal untuk melayani kepentingan politik mereka sendiri, alih-alih dipaksakan oleh entitas asing. Hal ini juga berlaku untuk adopsi Islam di wilayah tersebut, sebagaimana dibuktikan oleh pendekatan proaktif Raja Sriwijaya dalam mencari ilmu tentang Islam jauh sebelum kedatangan para misionaris Timur Tengah.
Argumen bahwa Islamisasi di kepulauan Nusantara terutama melibatkan inisiatif dari aktor-aktor lokal membantu membangun fondasi historis bagi studistudi kontemporer tentang Islam di Indonesia, yang menekankan dinamika internal yang autentik yang terjadi di kalangan umat Islam, dan bukan hanya mencerminkan perkembangan di Timur Tengah, seperti yang disarankan oleh narasi-narasi kolonial yang berlaku. Pada kelompok Sufi yang memainkan peran penting dalam menyebarluaskan dan mengadaptasi ajaran-ajaran Islam ke dalam konteks lokal pada abad ke-14,7 hingga gerakan-gerakan Salafi abad ke-20 yang menganjurkan pemurnian Islam sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.
Sejarah Arus Utama: Islamisasi Sebagai Agenda Pendakwah Asing
Islamisasi Kerajaan Paser, yang sebelumnya dikenal sebagai Kerajaan Sadurengas, berakar pada sejarah mitologis. Kisah transformasi ini tidak didukung oleh sumber-sumber primer, melainkan oleh tradisi lisan masyarakat Paser, dan fragmen-fragmen sumber sekunder. Menurut cerita, penduduk Sadurengas ingin mendirikan kerajaan, namun tidak ada yang bersedia menjadi raja karena alasan yang tidak jelas. Suatu hari, seorang tetua suku membelah sebatang bambu Petung untuk kayu bakar dan menemukan sebutir telur besar, yang disimpannya di rumah dengan takjub. Malam itu juga, telur itu menetas, dan tangisan bayi memenuhi udara. Hal yang mengejutkan semua orang, bayi itu ternyata perempuan. Bayi perempuan ini diberi nama Putri Petung.
Setelah Puteri Petung berkuasa, armada lima kapal berbendera hijau dari Kerajaan Demak tiba di pelabuhan Sadurengas. Kapal-kapal ini dipimpin oleh Abu Mansur Indrajaya, murid Sunan Giri dari Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri adalah salah satu dari Sembilan Wali yang berperan penting dalammenyebarkan Islam di Jawa. Tujuan kunjungan rombongan ini adalah untuk mengajak para penguasa Sadurengas memeluk Islam. Abu Mansur Indrajaya mencapai tujuan ini dengan menikahi Putri Petung.Jelas bahwa narasi dominan sejarah Islamisasi di Kutai Kertanegara dan Paser didasarkan pada kisah-kisah mitologis, alih-alih catatan faktual. Narasi mitologis umum ditemukan dalam kisah-kisah Islamisasi Asia Tenggara, yang meliputi Pasai, Malaka, Kedah, Patani, Demak, Banjar, Tallo, dan Ternate. Pada semua catatan ini, raja-raja setempat memeluk Islam.
Baca Juga : Berbeda yang Bersahabat : NU dan Muhammadiyah
Bukti Arkeologis: Jejak Peninggalan Islamisasi
Penelusuran sisa arkeologi di Kesultanan Paser hanya menunjukkan sedikit bukti. Ibu kota asli Kerajaan Sadurengas terletak di Desa Lempesu, Kecamatan Grogot, Kabupaten Paser. Nama Sadurengas berasal dari gabungan dua sungai, Sadu dan Rengas. Di lokasi inilah Putri Petung dinobatkan sebagai penguasa pertama Kerajaan Sadurengas dan menikah dengan Abu Mansur Indrajaya. Di dalam Lempesu, terdapat sisa-sisa beberapa bangunan kuno, salah satunya adalah pilar yang menyerupai penyangga bangunan. Sayangnya, situs ini terletak di tengah hutan lebat, sehingga menyulitkan upaya untuk memastikan apakah bagian-bagian lain dari struktur tersebut terhubung dengan pilar tersebut. Pihak Museum Sadurengas belum melakukan penelitian untuk menilai kondisi sisa-sisa tersebut.
Tidak ada situs pemakaman yang ditemukan untuk Puteri Petung atau Abu Mansyur Indrajaya di wilayah ini. Penduduk setempat percaya bahwa beberapa lokasi, seperti area Pantai Pasir Mayang dan Pemandian Puteri Petung, adalah tempat pemujaan Puteri Petung. Meskipun demikian, belum ada situs pemakaman terverifikasi yang ditemukan di kedua lokasi tersebut. Temuan arkeologis di Kerajaan Paser, serta Kerajaan Kutai Kertanegara, memberikan bukti lebih lanjut yang mendukung signifikansi historis tokoh-tokoh kunci dalam proses Islamisasi. Kontribusi mereka terhadap Islamisasi menjadi lebih jelas ketika mempertimbangkan aspek ilmu politik terkait sentralisasi dan konsolidasi kekuasaan pada periode tersebut.
Penguatan Politik: Peran Penguasa Lokal
Jaringan perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara sangat aktif, baik dalam wilayah kepulauan di kawasan tersebut maupun antarnegara secara internasional. Meskipun demikian, para sejarawan mengamati bahwa Kalimantan gagal menjadi pusat perdagangan utama pada era pra-kolonial karena maraknya pembajakan. Situasi ini ironis mengingat Kalimantan terletak secara strategis di antara Selat Malaka, pusat perdagangan utama di kawasan tersebut, dan pulau-pulau di bagian timur, yang merupakan penghasil utama rempah-rempah. Beberapa ahli berpendapat bahwa pembajakan hanyalah taktik yang digunakan oleh kekuatan kolonial untuk mendiskreditkan penduduk lokal, termasuk penjaga pantai yang mencegat kapal dagang ilegal. Namun, banyak catatan sejarah yang mengonfirmasi keberadaan para perompak ini, sebagaimana dilaporkan oleh pelaut Tiongkok, orang Eropa, dan pemerintah kolonial. Banyak individu dari suku Tidung, Bajau, Mandar, dan Bugis beralih ke pembajakan, yang seringkali mendapat perlindungan dari kerajaan-kerajaan kecil seperti Paser dan Tanah Bumbu. Tidak adanya kerajaan yang cukup kuat untuk mempertahankan kendali atas situasi tersebut merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap maraknya pembajakan di perairan Kalimantan.
Pasca Kerajaan Kutai Kertanegara masuk Islam, ia mulai menakhlukkan Kerajaan Kutai Mulawarman di Martapura, dan kedua kerajaan itu bersatu dengan nama Kutai Kartanegara ing Martapura. Selama periode ini, jalinan penaklukan politik dan ekonomi dengan dominasi budaya dan spiritual merupakan kejadian yang umum. Sifat unik kawasan Asia Tenggara terletak pada keterlibatan otoritas politik dan spiritual dalam penaklukan tersebut. Proses lokalisasi dan akulturasi Islam dengan budaya lokal merupakan bagian integral dari upaya membangun dan memperkuat kekuasaan. Pada perkembangannya, Kesultanan Kutai menyusun Panji Salatin, sebuah kitab hukum yang menyelaraskan ajaran Islam dengan tradisi lokal. Perlu dicatat bahwa otoritas raja didasarkan pada hukum Islam dan praktik adat di mana ajaran Islam berfungsi sebagai kerangka moral dan hukum pemerintahan, sementara adat istiadat berperan sebagai sarana komunikasi antara penguasa dan rakyat. Terkadang, praktik budaya pra-Islam dilestarikan di tingkat akar rumput, seperti tradisi Selimpat, yang terdiri dari serangkaian ritual (mirip dengan Selamatan) yang menandai berbagai tahapan kehidupan, dari konsepsi hingga kematian. Berdasarkan perspektif normatif-doktrinal, situasi ini dapat menimbulkan tantangan dan berpotensi memicu seruan untuk pemurnian, serupa dengan gerakan-gerakan yang diamati di wilayah lain di Indonesia.
Sebaliknya, analisis yang lebih historis menunjukkan bahwa proses Islamisasi di Kerajaan Sadurengas, yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Paser, berkaitan erat dengan dinamika politik lokal. Keputusan penguasa Paser untuk memeluk Islam dipandang sebagai suatu keharusan politik. Dengan memeluk Islam, yang berasal dari Demak, mereka dapat berdiri sejajar dengan kerajaan Banjar dan Kutai yang lebih kuat dan terlindungi dari potensi invasi. Selain itu, identitas Islam mereka akan memudahkan keterlibatan mereka dengan jaringan perdagangan antar pulau yang didominasi oleh kerajaan Islam di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Lebih lanjut, langkah ini mungkin akan membantu menepis tuduhan bahwa mereka adalah surga bagi bajak laut. Kerajaan Sadurengas telah lama dikaitkan dengan pembajakan, dan dengan memeluk Islam, mereka ingin menghilangkan citra negatif ini.
Kesimpulan
Artikel tersebut mengungkapkan bahwa Islamisasi Kalimantan Timur lebih rumit daripada yang disiratkan mitos-mitos sejarah arus utama. Studi ini menantang anggapan bahwa Islam dibawa ke wilayah tersebut semata-mata oleh para pendakwah Timur Tengah yang bertujuan menyebarkan agama tersebut, sementara masyarakat setempat menerimanya secara pasif. Melalui penggunaan metode lintas disiplin yang saling menguatkan, seperti pendekatan arkeologi dan ilmu politik, studi ini menunjukkan bahwa para penguasa dan elit lokallah yang memprakarsai adopsi Islam. Dalam kasus Kutai Kertanegara, Islamisasi yang digambarkan oleh Tunggang Parangan dapat didukung oleh bukti arkeologis, karena tokoh utama dalam cerita tersebut adalah tokoh-tokoh sejarah yang makamnya telah ditemukan. Namun, dalam kasus Paser, bukti yang tersedia tidak seluas itu dan tidak dapat digunakan untuk membuktikan historisitas Islamisasi. Selain itu, studi tersebut menunjukkan bahwa Islamisasi di Kutai Kertanegara bertepatan dengan sentralisasi kekuatan ekonomi dan politik di wilayah Mahakam hilir, sebagaimana dibuktikan oleh catatan politik lokal.

