Friendly Dakwah untuk Penguatan Majelis Taklim
OpiniSaya diundang oleh Dr. Arwani, Kabid Penerangan Agama Islam dan Ziswaf, Kemenag Jawa Timur untuk menjadi narasumber tentang “Penguatan Majelis Taklim di Jawa Timur”. Hadir Dr. Arwani, Kalistafada, Dr. dr. Nur Asiyah, sebagai narasumber dan seluruh anggota Majelis Taklim se Jawa Timur, 03/09/2025 di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Sebagai pengantar ceramah, saya minta kepada peserta untuk menjawab atas pertanyaan saya dan yang bisa saya beri hadiah buku saya: “The Friendly Dakwah” (2025).
Pertanyaan saya terkait dengan program orisinal Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Ternyata peserta dapat memberikan jawaban yang memadai tentang program distingsi Menteri Agama “Beragama berbasis cinta dan Eko-teologi”. Legalah saya, bahwa dua program unggulan Menag, sudah dipahami oleh anggota Majelis Taklim Jawa Timur . Saya sampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, Dakwah merupakan ajakan untuk memahami dan mengamalkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Islam yang tidak hanya menyelamatkan umat Islam tetapi menyelamatkan seluruh alam. Islam itu agama rahman dan rahim. Agama yang mengajarkan kasih sayang kepada sesama umat manusia dan bahkan juga untuk alam semesta. Islam itu agama yang Indah. Islam itu agama yang simple masuk akal. Sebagai instrumen untuk memahami agama dan juga masuk dalam kalbu sebagai pusat keyakinan beragama.
Masyarakat Indonesia itu plural dan multikultural. Plural artinya ada keanekaragaman agama di dalamnya dan multikultural artinya ada variasi tradisi dan budaya pada masyarakat Indonesia. Indonesia adalah negara yang paling plural dan multikultural di dunia. Tetapi hebatnya negara dan masyarakatnya memahami bahwa kenekaregaman bukan hambatan untuk saling menyatu dalam keragaman. Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada negara dan bangsa di dunia dengan tingkat varian kebahasaan, kesukubangsaan dan kepulauan sebagaimana di Indonesia. Indonesia adalah negara besar dalam lintas kesejarahan dan keanekaragaman yang dinamis.
Islam rahmatan lil alamin, Islam memberi rahmat kepada seluruh alam. Makro kosmos dan mikro kosmos. content Islam rahmatan lil alamin adalah humanisme atau mengedepankan manusia sebagai inti kehidupan atau disebut juga sebagai antroposentrisme atau menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan. Humanisme memiliki ciri yang mendasar adalah menjadikan manusia sebagai subyek dan bukan obyek. Manusia dalam berbagai strata, penggolongan sosial dam status sosial pada posisi merupakan subyek kehidupan.
Kedua, Di dalam humanisme tidak terdapat eksploitasi manusia atau manusia lainnya. Ada doktrin kesamaan derajat, kesamaan keadilan, kesamaan harkat dan martabat sebagai manusia. Secara ekonomi bisa berbeda, akan tetapi hakikat kemanusiaan yang sederajat harus sama-sama diperoleh. Islam adalah wasathiyah. Islam yang dipahami oleh umat beragama adalah mengajarkan jalan tengah, bukan tertuju kepada ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Tetapi mengayuh di antara ekstrimitas tersebut. Ciri Islam wasathiyah terletak pada pemahaman dan pengamalan beragama umatnya. Islam itu hakikatnya jalan tengah akan tetapi menjadi jalan yang tidak wasathiyah karena paham dan perilaku umatnya.
Perilaku umat Islam menjadi tolok ukur Islam wasathiyah. Oleh karena itu agar Islam berada di dalam konteks wasathiyah, maka umat Islamlah yang menjadikannya. Kekerasan simbolik atau aktual dapat menjadikan hilangnya ruh wasathiyah Islam. Kekerasan simbolik seperti pembunuhan karakter, bullying, dan lain-lain dapat mencederai atas wasathiyah Islam. Kekerasan aktual seperti konflik dan perang yang dilakukan oleh Umat Islam atas lainnya adalah contoh hilangnya sifat Islam yang wasathiyah. Umat Islam, tokoh agama Islam, organisasi Islam harus menjadi penyangga atas terekspresikannya Islam wasathiyah.
Moderasi beragama sering disalahartikan sebagai upaya untuk mengerdilkan Islam yang sesungguhnya berwatak moderat. Bagi mereka bahwa moderasi beragama akan mengerdilkan aspek teologis, ritual dan ekspressi beragama. Moderasi beragama bertujuan untuk mendangkalkan pemahaman beragama. Moderasi beragama adalah proyek barat untuk meminggirkan umat Islam dari ajaran Islam. Moderasi beragama dianggap sebagai upaya Barat untuk menjauhkan ajaran Islam dari pemeluknya.
Baca Juga : Hiruk Pikuk MUI
Moderasi beragama dianggap akan menghilangkan ruh jihad yang sesungguhnya menjadi inti ajaran Islam. Sasaran moderasi beragama adalah pemahaman dan perilaku beragama, agar tidak menjadi ekstrim di dalam pemahaman dan pengamalan beragama. Pemahaman dan pengamalan beragama yang ekstrim itu misalnya pemahaman dan perilaku beragama yang memahami jihad hanya perang saja atau perang offensive.
Jihad dapat diartikan perang dalam negara yang sedang berperang. Jihad dengan melawan Israel adalah jihad dalam konteks perang. Di Indonesia yang damai, darus suluh wa darul ahdi wasy syahadah, tentu jihad tidak harus dimaknai perang offensive. Jihad dapat diartikan sebagai upaya serius untuk menghadirkan keadilan, kesamaan dan kesejahteraan. Jihad untuk menghilangkan hambatan dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.
Kementerian Agama sudah menghadirkan konsep khusus dalam mengembangkan pemahaman dan perilaku beragama yang wasathiyah dengan konsep moderasi beragama. Konsep ini berbeda dengan konsep deradikalisasi yang menjadi proyek Barat pasca pengeboman atas World Trade Center (WTC). Moderasi beragama sudah menjadi bagian dari RPJMN tahun 2020-2024 dan 2024-2029. Semua Kementerian memiliki program untuk kepentingan ini.
Dakwah harus memberikan ajakan untuk cerdas dalam menyikapi kehidupan. Dakwah harus mencerdaskan masyarakat agar memahami bahwa kita berada di dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional berbangsa dan bernegara. Indonesia bukan negara sekular dan bukan negara agama, akan tetapi negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Menjadikan agama sebagai basis moralitas di dalam bernegara. Dakwah mencerdaskan kehidupan umat agar menempatkan diri di dalam toleransi sosiologis dan bukan toleransi teologis. Semua agama benar, bagi pemeluknya. Jangan semua agama benar (titik). Jadikan koma sebagai penjelasannya.
Marilah berdakwah dengan menempatkan diri dalam relasi sosial yang saling membutuhkan, saling menghargai dan saling menghormati. Jangan melakukan dakwah dengan saling mencaci, saling membuli, saling menihilkan. Agama itu ada dimensi teks suci dan ada tafsir atas teks suci. Ada Al-Qur’an dan hadits yang merupakan teks suci atau the sacral text dan ada dimensi tafsir atas teks suci. Alqur’an khususnya adalah teks suci yang tidak akan berubah dan tidak ditambah-tambahi. Al-Qur’an sudah final sebagai sumber utama berbagai macam hal di dalam kehidupan. Alhadits menduduki posisi kedua sebagai sumber ajaran Islam. Untuk memahami teks suci, maka diperlukan tafsir. Bisa tafsir atas Alquran dan tafsir atas Hadits. Karena tafsir maka dipastikan akan ada variasi. Ada aspek pemikiran manusia di dalam tafsir tersebut. Jangan mendewakan tafsir sebagai kebenaran mutlak. Apalagi memiliki pemikiran hanya boleh ada tafsir tunggal. Ini bisa memicu masalah dalam relasi internal beragama.
Ketiga, Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, mengangkat isu tentang beragama dengan cinta. Gagasan tentang betapa pentingnya beragama dengan cinta atau disebut sebagai agama cinta. Yaitu filosofi tentang paham dan praksis beragama yang berbasis Rahman dan Rahim Tuhan. Semua agama mengajarkan tentang kasih dan sayang. Agama-agama itu semuanya mengajarkan agar mengedepankan dimensi cinta kemanusiaan dan bukan kekerasan atas kemanusiaan. Di dalam Islam diajarkan bahwa membunuh satu nyawa manusia sama dengan membunuh semua nyawa manusia, dan menghidupkan satu nyawa manusia sama dengan menghidupkan seluruh nyawa manusia. Selama masih ada orang yang menganggap bahwa teologi mengajarkan agar orang yang berbeda agama sebagai musuh dan orang sesama agama yang berbeda tafsir agama juga musuh yang perlu diluruskan atau bahkan dinihilkan, maka actualitas keberagamaannya juga akan mengalami permasalahan.
Jika tafsir agama sebagai ajaran yang bercorak profan lalu disakralkan, maka di kala itu masalah intern dan antar umat beragama akan terus mencuat. Disinilah makna penting dari mengembangkan keberagamaan dengan cinta yang dapat dirumuskan di dalam kurikulum pendidikan. Kurikulum ini bisa diintegrasikan di dalam berbagai mata pelajaran dan bahkan juga mata kuliah secara integrated atau satu kesatuan. Di dalam setiap muatan kurikulum didapati bagaimana menginternalisasikan ajaran cinta di dalam agama untuk kurikulum.
Sekarang sedang digarap kurikulum pendidikan berbasis agama cinta. Sudah diujicobakan tentang perubahan kurikulum di dalam institusi pendidikan di bawah Kemenag. Harapannya dengan kurikulum baru ini akan dapat menjadi oase bagi tumbuhkembangnya semangat beragama yang menempatkan cinta sebagai ajaran mendasar di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Beragama dengan cinta merupakan inti dari moderasi beragama. Gerakan Moderasi Beragama (GMB) akan berhasil kalau setiap individu kaum beragama memiliki paham da perilaku beragama yang berbasis cinta.
Wallahu a’lam bi al shawab.

