Kesadaran Islam di Media Sosial
Riset AgamaArtikel berjudul “Islamic Awareness on Social Media: Faith-Based Responses to Cyberbullying Against Individuals with Disabilities” merupakan karya Muktashim Billah, Rosmalina Kemala, Fouad Larhzizer, dan Ahmad Harakan. Tulisan ini terbit di Jurnal Addin tahun 2025. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana kesadaran Islam memengaruhi respons pengguna media sosial terhadap perundungan siber, dengan focus khusus pada individu penyandang disabilitas. Meningkatnya kasus perundungan siber yang menyasar kelompok rentan, terutama penyandang disabilitas, menyoroti perlunya pendekatan yang lebih efektif untuk mengatasi perilaku negatif ini. Tujuannya adalah mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip Islam seperti keadilan, empati, dan kasih saying berkontribusi pada respons yang penuh hormat dan suportif dalam interaksi daring. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan 3.869 komentar dikumpulkan dan dianalisis dari platform media sosial, termasuk Instagram, Facebook, dan TikTok. Terdapat enam sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, sikap publik terhadap postingan penyandang disabilitas. Ketiga, peran kesadaran islam dalam mempromosikan perilaku positif. Keempat, pentingnya respon negatif yang terbatas. Kelima, kesadaran Islam sebagai kerangka etika untuk digital. Keenam, implikasi yang lebih luas terhadap etika Islam di ruang digital.
Pendahuluan
Perundungan siber telah menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan di era digital, terutama di kalangan remaja dan anak-anak. Maraknya media social sebagai platform utama interaksi telah membuka pintu bagi berbagai bentuk pelecehan daring, terutama yang menyasar kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Kelompok demografi ini lebih rentan terhadap cyberbullying, yang dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk kecemasan, depresi, dan isolasi social. Pada konteks ini, cyberbullying tidak hanya memengaruhi korban individu, tetapi juga menciptakan efek berantai pada lingkungan sosial mereka yang lebih luas.
Pendekatan berbasis etika dan agama, terutama dalam konteks Islam, menawarkan kerangka moral yang dapat membantu mengatasi masalah ini. Ajaran Islam menekankan prinsip-prinsip seperti empati, kasih sayang, dan perlindungan terhadap sesama, yang dapat menjadi landasan efektif untuk merancang program pencegahan perundungan siber. Lebih lanjut, pendidikan yang berfokus pada etika digital dan kesadaran akan konsekuensi perilaku daring dapat membantu meningkatkan kesadaran di kalangan anak muda mengenai dampak tindakan mereka di dunia maya, sehingga mendorong perilaku yang lebih bertanggung jawab.
Mengintegrasikan nilai-nilai etika dengan pendidikan yang tepat dapat menumbuhkan lingkungan digital yang lebih aman dan lebih mendukung, terutama bagi kelompok rentan. Prinsip-prinsip Islam seperti keadilan, empati, dan perlindungan individu yang rentan merupakan inti dari interaksi sosial. Misalnya, prinsip keadilan dalam Islam mendorong individu untuk memperlakukan orang lain secara adil dan menghormati hak-hak mereka, yang berpotensi mengurangi perilaku berbahaya seperti perundungan siber. Selain itu, empati yang diajarkan dalam ajaran Islam dapat bertindak sebagai pencegah perilaku agresif, karena individu dengan empati yang tinggi lebih mungkin untuk memahami dan berbagi penderitaan orang lain, sehingga mengurangi kemungkinan terlibat dalam perundungan.
Sikap Publik Terhadap Postingan Penyandang Disabilitas
Terdapat 3869 komentar dari enam unggahan di media sosial yang dipilih dan berasal dari Instagram, Facebook, dan Tik Tok. Kemudian, dibagi menjadi dua jenis komentar yakni positif dan negative. Komentar negative cenderung sulit ditemukan, sebab mayoritas netizen memberikan tanggapan positif dan empati muncul kepada penyandang disabilitas. Seringnya penggunaan istilah seperti \"semangat\" (teruskan), \"Allah\", dan \"sabar\" (sabar) menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya terlibat dalam komentar yang dangkal, tetapi secara aktif menggunakan keyakinan agama mereka untuk membingkai respons mereka terhadap individu penyandang disabilitas yang menghadapi perundungan siber.
Pola perilaku ini mencerminkan keselarasan yang lebih mendalam dengan prinsip-prinsip inti Islam, terutama yang menekankan keadilan, empati, dan kasih sayang. Dalam ajaran Islam, konsep keadilan sangat penting; konsep ini menuntut perlakuan yang adil terhadap semua individu, terlepas dari keadaan mereka. Prinsip ini dapat mendorong pengguna untuk menanggapi perundungan siber dengan rasa kewajiban moral untuk melindungi dan mendukung mereka yang rentan. Penekanan pada empati semakin memperkuat gagasan ini, karena individu diajarkan untuk memahami dan berbagi dalam penderitaan orang lain, yang menumbuhkan budaya kebaikan dan dukungan dalam interaksi digital. Lebih lanjut, bahasa suportif yang terlihat dalam komentar juga dapat mencerminkan tanggung jawab sosial kolektif di antara pengguna untuk melawan perilaku negatif. Rasa kebersamaan ini, yang berakar pada nilai-nilai agama bersama, dapat memberdayakan individu untuk melawan perundungan siber dan mengadvokasi mereka yang mungkin tidak memiliki sarana untuk membela diri.
Baca Juga : Era Baru Pendidikan Islam Berbasis Digital: UIN KHAS Jember
Peran Kesadaran Islam dalam Mempromosikan Perilaku Positif
Tingginya frekuensi komentar suportif menunjukkan bahwa pengguna yang mengekspresikan nilai-nilai Islam mungkin lebih cenderung memberikan empati, dorongan, dan dukungan moral. Respons positif ini bertolak belakang dengan temuan studi-studi sebelumnya, yang seringkali menekankan tingginya prevalensi perundungan siber dan perilaku permusuhan, terutama terhadap kelompok-kelompok terpinggirkan. Namun, studi ini menunjukkan bahwa pemahaman internal tentang etika Islam mungkin merupakan pendekatan yang lebih mendasar untuk mendorong perilaku saling menghormati di dunia maya. Implikasinya adalah ketika kerangka etika yang kuat memandu pengguna, mereka mungkin tidak memerlukan banyak regulasi eksternal untuk mencegah perilaku berbahaya, sebuah penyimpangan yang signifikan dari fokus regulasi dalam literatur sebelumnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran Islam tidak hanya mendorong interaksi positif tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para pengguna. Aspek kebersamaan ini penting dalam menangkal dampak isolasi dari perundungan siber, terutama bagi individu penyandang disabilitas yang mungkin sudah merasa terpinggirkan. Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat meningkatkan kohesi sosial dan menumbuhkan budaya empati, yang sangat penting dalam mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh perundungan siber.
Internalisasi nilai-nilai Islam dapat mengarah pada Efek transformatif pada perilaku individu. Ketika pengguna secara aktif menerapkan prinsip-prinsip ini, mereka cenderung lebih merenungkan tindakan mereka dan mempertimbangkan dampak perkataan mereka terhadap orang lain. Praktik reflektif ini sangat penting dalam interaksi daring, di mana anonimitas media sosial terkadang dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran akan konsekuensi perilakunya.
Penguatan positif terhadap nilai-nilai Islam dapat berfungsi sebagai narasi tandingan terhadap narasi yang seringkali bermusuhan. Wacana yang lazim di ruang daring. Dengan terus-menerus mempromosikan pesan empati dan dukungan, pengguna dapat melawan stigma yang terkait dengan disabilitas dan menciptakan lanskap digital yang lebih inklusif. Pergeseran ini tidak hanya menguntungkan individu penyandang disabilitas tetapi juga memperkaya komunitas daring secara keseluruhan, menciptakan lingkungan yang menghargai dan menghormati keberagaman. Peran kesadaran Islam dalam membentuk perilaku daring sangatlah mendalam. Bahasa yang mendukung yang diamati dalam komentar yang dianalisis mencerminkan komitmen terhadap empati dan tanggung jawab moral, yang dapat secara signifikan mengurangi dampak negatif perundungan siber. Dengan menganut nilai-nilai ini, pengguna media sosial dapat berkontribusi pada budaya daring yang lebih welas asih dan hormat, yang pada akhirnya mengarah pada lingkungan yang lebih aman bagi semua orang, terutama mereka yang paling rentan.
Pentingnya Respon Negatif yang Terbatas
Meskipun respons negatif terbatas yang diamati sebagian dapat dikaitkan dengan bias keinginan sosial, tren perilaku positif secara keseluruhan mencerminkan keselarasan sejati dengan etika Islam. Tren ini menunjukkan bahwa ketika pengguna menyadari implikasi moral dari perilaku mereka—seperti pentingnya memperlakukan orang lain dengan hormat dalam ajaran agama—mereka mungkin merasa berkewajiban untuk berperilaku hormat. Jadi, kesadaran Islam berfungsi sebagai tindakan pencegahan sekaligus panduan moral, yang berpotensi mengurangi kebutuhan akan intervensi eksternal yang ketat dalam mengelola perilaku daring.
Baca Juga : Politik Uang: Problem Transisi Demokrasi
Kesadaran Islam sebagai Kerangka Etika untuk Digital
Berdasarkan i perspektif praktis, kesadaran Islam dapat diintegrasikan ke dalam program literasi digital untuk mendorong perilaku etis daring. Kampanye media sosial dan inisiatif edukasi yang menekankan nilai-nilai Islam dapat menjadi alat yang efektif untuk mendorong interaksi digital yang saling menghormati dan bertanggung jawab. Pada konteks di mana peraturan formal mungkin terbatas atau ditegakkan secara tidak konsisten, kerangka kerja berbasis nilai seperti kesadaran Islam dapat mendorong pengguna untuk bertindak dengan akuntabilitas moral yang lebih besar.
Lebih lanjut, kerangka etika ini sangat selaras dengan diskusi yang lebih luas tentang etika digital. Seiring dengan terus berkembangnya interaksi daring, semakin dibutuhkan tanggung jawab pribadi dan kesadaran etika di antara para pengguna. Kesadaran Islam, dengan penekanannya pada kewajiban moral dan rasa hormat terhadap sesama, selaras dengan tujuan etika digital dengan mendorong perilaku positif yang melampaui batasan aturan formal. Pendekatan berbasis agama ini tidak hanya selaras secara budaya tetapi juga menawarkan alternatif praktis bagi strategi yang sarat regulasi, dengan mendorong terciptanya lingkungan digital yang mengutamakan empati dan inklusivitas.
Implikasi yang Lebih Luas terhadap Etika Islam di Ruang Digital
Implikasi yang lebih luas dari studi ini melampaui pencegahan perundungan siber, hingga peran etika Islam secara keseluruhan di ruang digital. Seiring dengan semakin terintegrasinya interaksi digital dalam kehidupan sehari-hari, muncul kebutuhan yang semakin besar untuk mengatasi masalah etika dalam perilaku daring. Kesadaran Islam menawarkan pendekatan terstruktur yang mendorong perilaku hormat dan mendorong pengguna untuk mempertimbangkan dimensi moral dari tindakan mereka.
Kerangka kerja ini menyediakan solusi yang relevan secara budaya yang selaras dengan nilai-nilai komunitas Muslim dan dapat diadaptasi untuk mengatasi berbagai tantangan etika di ruang digital. Kesadaran Islam mendorong budaya digital yang sejalan dengan tujuan masyarakat yang lebih luas yaitu inklusivitas dan saling menghormati dengan mempromosikan nilai-nilai yang menekankan rasa hormat, empati, dan akuntabilitas moral. Jadi, temuan studi ini berkontribusi pada perkembangan wacana etika digital, yang menyoroti potensi nilai-nilai agama untuk memengaruhi perilaku secara bermakna.
Studi tersebut menggarisbawahi dampak positif kesadaran Islam terhadap interaksi media sosial, khususnya dalam mengurangi perundungan siber terhadap individu penyandang disabilitas. Studi ini menggarisbawahi dampak positif kesadaran Islam terhadap interaksi media sosial, khususnya dalam mengurangi perundungan siber terhadap individu penyandang disabilitas. Temuan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam, ketika diinternalisasi, dapat mendorong pengguna untuk berperilaku suportif dan empatik, sehingga menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan inklusif. Pendekatan berbasis nilai terhadap pencegahan perundungan siber ini menawarkan pelengkap yang berharga bagi strategi regulasi tradisional, memberikan solusi yang selaras dengan budaya yang menumbuhkan tanggung jawab pribadi dan kesadaran etika. Melalui integrasi prinsip-prinsip Islam ke dalam pendidikan digital dan inisiatif komunitas, pendekatan ini berpotensi mengubah ruang digital menjadi lingkungan yang mengutamakan rasa hormat dan kasih sayang bagi semua.
Kesimpulan
Kesadaran Islam secara signifikan memengaruhi respons pengguna media sosial terhadap perundungan siber, terutama terhadap individu penyandang disabilitas. Analisis terhadap 3.869 komentar dari platform seperti Instagram, Facebook, dan TikTok menunjukkan pola dukungan, empati, dan rasa hormat yang berlandaskan nilai-nilai Islam seperti keadilan, kasih sayang, dan empati. Nilai-nilai ini memberikan kerangka moral yang mendorong perilaku positif daring dan berkontribusi pada lingkungan digital yang lebih inklusif dan saling menghormati. Pengguna yang menginternalisasi nilai-nilai ini cenderung menghindari Bahasa yang kasar, menawarkan dukungan moral, dan memperkuat solidaritas sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa kesadaran Islam dapat melengkapi strategi pencegahan perundungan siber yang ada dengan melampaui pendekatan regulasi tradisional.

