(Sumber : Brain Academy)

Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ilmu Kesehatan Transendental

Kelas Sosiologi

Salah satu kelebihan dari para ulama Islam pada generasi pertengahan adalah mereka itu orang-orang yang menguasai berbagai macam ilmu atau disebut sebagai polymath. Jika ada orang yang menguasai banyak bahasa disebut polyglot. Yang disebut polymath adalah orang yang menguasai banyak ilmu pengetahuan dengan tuntas. Bukan penguasaan separoh-separoh, tetapi penguasaan ilmu yang sangat banyak dengan ketuntasan yang sangat tinggi. 

  

Abu Bakar Ar Razi adalah seorang yang memiliki keahlian yang sangat variatif.  Ar Razi ahli dalam bidang kedokteran, ahli ilmu kimia, dan ahli farmasi. Al Hasan bin Al Haitsam adalah seorang ahli dalam ilmu optik, astronomi, matematika dan kamera. Selain itu juga memahami ilmu-ilmu keislaman. Ibnu Sina ahli dalam Bahasa Arab, bidang kedokteran, ahli ilmu agama seperti ilmu Al-Qur’an, ilmu tafsir dan banyak lainnya. Ibnu Sina adalah pelopor ilmu kedokteran modern dan telah melakukan banyak operasi untuk penyembuhan penyakit. Selain itu Abu Raihan al Biruni, Al Battani, Abu Qasim Az Zahrawi dan lainnya. Muhammad Gharib Jaudah dalam karyanya “147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam” telah mengidentifikasi ada sebanyak 147 ilmuwan muslim yang benar-benar mengguncang jagad ilmu pengetahuan. 

  

Al Kindi, Abu Bakar Ar Razi, Ibnu Sina dan lainnya adalah ilmuwan yang sudah mengembangkan ilmu pengetahuan  integratif, artinya memadukan antara ilmu keislaman yang bersumber dari Kitab Suci Alqur’an dan Sirah Nabawiyah dan juga karya-karya para ahli ilmu pengetahuan sebelumnya, seperti dari Romawi, Mesir, Persia dan juga Hindustan. Mereka menterjemahkan kitab-kitab kuno seperti karya Aristoteles, Plato, dan ahli-ahli filsafat dan ilmu pengetahuan dan kemudian dipadukan dengan ajaran Islam, sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru dan metodologi ilmu yang relevan dengan ilmu yang dikembangkan tersebut. 

  

Kita mewarisi ilmu-ilmu yang sangat adiluhung, yang sangat bermanfaat dan sangat penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan di zaman sekarang. Meskipun tidak diakui oleh ilmuwan Barat, akan tetapi sesungguhnya dunia ilmu pengetahuan Barat sangat berhutang budi pada ilmuwan Islam. Kemunduran Kerajaan Bani Abbasiyah dan kekalahan Kerajaan Islam di Spanyol  dan berlanjut pada kekalahan Kerajaan Turki Utsmani telah meninggalkan hilangnya ilmu-ilmu keislaman integratif dimaksud. Karya-karya ilmuwan muslim kemudian banyak yang dibawa ke Barat dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa mereka, sehingga menghasilkan revolusi ilmu pengetahuan yang diyakini sebagai milik ilmuwan Barat.

  

Kali ini saya akan sedikit membahas tentang ilmu kesehatan. Tentu saja secara selintas. ilmu kesehatan adalah ilmu pengetahuan yang membahas hal ihwal kesehatan dan penyakit manusia. Ilmu kesehatan meliputi ilmu kedokteran, keperawatan, epidemiologi, biokimia, dan farmakologi.  Ilmu kesehatan terutama kedokteran telah berkembang dengan sangat cepat dalam berbagai cara untuk penyembuhan atas penyakit yang diderita oleh manusia. Yang menjadi sasaran kajian ilmu kesehatan meliputi penyakit yang akan dilihat dari penyebab, gejala dan pengobatannya, kesehatan masyarakat mengkaji tentang hal-hal yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, promosi kesehatan yang mengkaji tentang pentingnya kesadaran dan perilaku sehat dan pengobatan  membahas  tentang pengobatan dan terapi atas penyembuhan suatu penyakit. 

  

Apa yang perlu dibicarakan adalah ilmu kesehatan yang memiliki kaitan integratif, yaitu menggabungkan ilmu keislaman dengan ilmu kesehatan. Ilmu kesehatan juga dapat berkembang dengan menggabungkan antara ilmu-ilmu sosial, humaniora dan bahkan ilmu agama. Tentu saja ilmu kesehatan dapat dijadikan sebagai subyek matter dan ilmu lainnya dapat dijadikan sebagai pendekatannya. Ilmu kesehatan dalam perbincangan integrasi ilmu dapat dinyatakan sebagai ilmu yang multidisipliner atau dapat didekati dengan banyak ilmu lainnya dalam rumpun selain sains dan teknologi. 

  

Dari perspektif interdisipliner, maka ilmu kesehatan dapat didekati dengan ilmu matematika sehingga menghasilkan ilmu matematika kesehatan, bisa juga didekati dengan teknologi  seperti imunologi kesehatan, atau ilmu kimia kesehatan, ilmu fisika kesehatan, ilmu lingkungan kesehatan dan sebagainya. Dari perspektif crossdisipliner ilmu sosial,  misalnya dapat didekati dengan sosiologi kesehatan, antropologi kesehatan, psikhologi kesehatan, politik kesehatan, ilmu hukum kesehatan, ilmu komunikasi kesehatan. Kemudian dari ilmu humaniora misalnya dapat menjadikan filsafat yang akan menghasilkan  ilmu filsafat kesehatan, etika kesehatan, sejarah kesehatan dan sebagainya. Dan berikutnya dari perspektif multidisipliner, misalnya dapat didekati dengan berbagai macam ilmu dalam rumpun yang variatif, bisa dihubungkan dengan cabang ilmu dari rumpun ilmu sosial, cabang ilmu dalam ilmu humaniora dan bahkan juga cabang dalam ilmu agama.

  

Dari rumpun ilmu agama, kita berhutang budi pada Ahmad Ramali, karena pada tahun 1950-an sudah menulis tentang relasi antara agama dan ilmu kesehatan. Banyak karyanya yang menghubungkan antara ilmu kesehatan dan agama, misalnya “Memelihara  Kesehatan Dalam Syara’ dan Hukum Islam” (1956). Yang menjadi kajian dalam ilmu kesehatan integratif dalam kaitannya dengan Islam, misalnya adalah fiqih kesehatan, Alqur’an dan kesehatan, manusia dalam Alqur’an dan kesehatan, hadits kesehatan dan sebagainya. Di dalam konteks ini, maka yang menjadi sasaran kajian adalah mengenai kesehatan manusia dan masyarakat dan kemudian dilihat dari perspektif ilmu keislaman. Tetapi juga bisa  misalnya fenomena keagamaan, seperti thaharah lalu dilihat dari perspektif kesehatan. Tradisi melakukan puasa dilihat dari perspektif kesehatan dan gerakan shalat dilihat dari perspektif kesehatan. 

  

Dengan demikian dalam integrasi ilmu keislaman dan kesehatan, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu suatu ketika fenomena keagamaan dilihat dari perspektif kesehatan dan suatu kesempatan fenomena kesehatan dilihat dari perspektif agama. Tetapi yang jelas bahwa dengan melakukan integrasi ilmu kesehatan dengan rumpun ilmu lainnya akan menghasilkan varian-varian baru dalam ilmu dimaksud.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.