Gen Z, Discord, dan Lahirnya Pemimpin Perempuan Nepal
InformasiEva Putriya Hasanah
Nepal baru saja menorehkan sejarah baru dalam panggung politiknya. Untuk pertama kalinya, negeri di kaki Himalaya itu memiliki perdana menteri interim perempuan: Sushila Karki. Kejutan ini tidak hanya datang dari sosok yang terpilih, tetapi juga dari cara pemilihannya. Generasi Z, kelompok muda yang lahir di era digital, memainkan peran dominan dengan gaya mereka sendiri—bukan lewat rapat umum atau baliho raksasa, melainkan lewat platform populer bagi gamer.
Kemenangan Sushila menjadi semacam penanda zaman: politik tak lagi dimonopoli elite senior, tetapi mulai bergerak oleh partisipasi aktif generasi muda. Dan di tengah sejarah panjang patriarki politik Nepal, momen ini menghadirkan optimisme baru.
Krisis Politik, Gen Z dan Cara Baru Memilih
Gejolak ini berawal dari meluasnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah sebelumnya, terutama setelah pemerintah melarang penggunaan media sosial dan dituding sarat korupsi serta nepotisme. Keputusan tersebut memicu gelombang protes yang dipimpin generasi muda, khususnya Gen Z, yang merasa hak berekspresi dibungkam mereka. Demonstrasi terjadi secara masif, meluas ke berbagai kota, dan tak jarang terjadi bentrokan. Gedung-gedung publik terbakar, korban jiwa berjatuhan, dan tekanan terhadap pemerintah lama kian tak terbendung.
Di tengah-tengahnya, Gen Z menunjukkan kekompakan dan kreativitas. Tidak hanya turun ke jalan, mereka juga melakukan pemilihan perdana menteri interim Nepal kali ini berbeda. Di tengah krisis politik yang membuat elite sulit bersepakat, justru anak muda mengambil inisiatif untuk mengorganisasi suara mereka. Dengan populasi yang semakin dominan, Gen Z Nepal membuktikan dirinya sebagai kelompok politik baru yang tidak bisa diabaikan.
Menariknya, medium yang mereka gunakan jauh dari kesan formal. Alih-alih turun ke jalan atau mengandalkan forum politik tradisional, mereka menggalang dukungan melalui Discord—aplikasi yang biasanya digunakan untuk komunitas gamer. Ribuan anak muda bergabung di kanal khusus, berdiskusi, hingga melakukan voting tidak resmi yang kemudian viral di media sosial. Hasil voting ini menampilkan preferensi kuat mereka pada figur independen yang dianggap bersih dan berintegritas, yaitu Sushila Karki.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi digital mengubah pola partisipasi politik. Discord, yang awalnya menjadi ruang hiburan, kini berfungsi sebagai arena musyawarah publik. Bagi Gen Z, batas antara dunia virtual dan nyata semakin kabur: keputusan politik bisa sama sahihnya jika lahir dari ruang digital. Inilah cara baru anak muda Nepal menyuarakan aspirasi, sekaligus menegaskan bahwa mereka adalah aktor penting dalam demokrasi masa depan.
Baca Juga : Di Balik Lukisan Henna Indah Untuk Pengantin
Siapa Sushila Karki?
Nama Sushila Karki bukan sosok asing dalam dunia hukum dan keadilan di Nepal. Lahir pada tanggal 7 Juni 1952 di Biratnagar, ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Tribhuvan dan meraih gelar master dari Banaras Hindu University. Karier panjangnya di ranah hukum diangkat menjadi advokat senior, sebelum akhirnya diangkat menjadi hakim Mahkamah Agung pada tahun 2009.
Pada bulan Juli 2016, Karki mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Nepal. Reputasinya dikenal bersih, berintegritas, dan tegas menolak korupsi. Rekam jejak itulah yang membuat banyak pihak, termasuk generasi muda, menaruh harapannya untuk memimpin Nepal melewati masa transisi politik yang penuh gejolak.
Sejarah Gender dan Kepemimpinan di Nepal
Nepal memiliki sejarah panjang dominasi laki-laki dalam politik. Selama puluhan tahun, kursi perdana menteri selalu diisi figur pria dari partai-partai besar, sementara perempuan lebih sering ditempatkan pada posisi simbolik atau sekunder. Apalagi ketika Nepal bertransformasi menjadi republik federal pada tahun 2008, representasi perempuan di panggung politik nasional masih minim.
Namun, langkah demi langkah, perempuan Nepal mulai menembus batas. Mereka pernah memiliki presiden perempuan, Bidhya Devi Bhandari, yang menjabat sejak 2015 hingga 2023. Meski begitu, jabatan eksekutif tertinggi sebagai perdana menteri tetap belum pernah disentuh perempuan—hingga akhirnya Sushila Karki ditunjuk pada tahun 2025. Penunjukan ini bukan hanya keputusan praktis di tengah kebuntuan politik, tetapi simbol perubahan besar dalam lanskap juga kepemimpinan Nepal.
Sosok Karki menjadi penting bukan sekadar karena ia perempuan, melainkan karena ia membawa rekam jejak independensi dan integritas. Keberadaannya di pucuk yang mencerminkan fase baru perjuangan kesetaraan gender: bahwa perempuan tak lagi hanya menjadi pengisi kuota, melainkan dipercaya memegang kendali penuh atas arah negara.
Baca Juga : Dr. KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag: Kamus Berjalan Dalam Forum Bahtsul Masail
Bagi masyarakat Nepal, terutama generasi muda, momen ini mengingatkan bahwa demokrasi tidak hanya tentang siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang diberi kesempatan untuk memimpin.
Resonansi Sosial dan Politik
Penunjukan Sushila Karki langsung memantik reaksi beragam. Bagi banyak warga Nepal, terutama kalangan muda, keputusan ini membawa optimisme baru. Media sosial dipenuhi ucapan selamat dan potret Karki yang dipasarkan sebagai simbol “era baru” bagi negeri Himalaya. Sementara itu, kelompok perempuan melihatnya sebagai kemenangan moral setelah bertahun-tahun berjuang menuntut representasi yang adil.
Di kancah internasional, langkah Nepal mendapat sorotan positif. Para pengamat menilai, kehadiran Karki bukan hanya solusi praktis atas kebuntuan politik, tetapi juga pesan kuat bahwa demokrasi di Asia Selatan masih mampu melahirkan kejutan progresif. Meski demikian, tantangan besar tetap menanti. Sebagai pemimpin sementara, Karki harus menjaga stabilitas pemerintahan sekaligus menyiapkan pemilu yang kredibel dalam enam bulan ke depan. Ia juga harus membuktikan bahwa simbol gender dapat berjalan seiring dengan efektivitas kepemimpinan.
Kisah terpilihnya Sushila Karki sebagai perdana menteri interim Nepal menandai bab penting dalam sejarah negeri itu. Peran Gen Z yang memilih melalui Discord menunjukkan bahwa partisipasi politik kini berpindah ke ruang-ruang digital, sementara penunjukan Karki menegaskan bahwa perempuan pada akhirnya mendapat tempat di kursi eksekutif tertinggi.
Lebih dari sekedar rotasi kekuasaan, momen ini adalah refleksi budaya: dari dominasi patriarki menuju ruang yang lebih setara, dari politik elitis menuju demokrasi partisipatif yang mendorong generasi muda. Nepal kini bukan hanya mengajarkan cara menghadapi krisis politik, tetapi juga bagaimana harapan bisa lahir dari generasi baru dan sosok perempuan yang berani menembus batas.

