Guru, Pedagang, dan Kemuliaan
OpiniDi era media sosial yang powerfull siapapun akan bisa menjadi korbannya. Saya pernah merasakannya. Pada saat bedah buku saya, “Islam Nusantara Berkemajuan, Menjaga Harmoni Sosial Menuai Damai dan Demi Agama, Nusa dan Bangsa” di Amphitheater UIN Sunan Ampel, akhir tahun 2018, maka saya menyampaikan suatu joke “saya ditanya oleh salah seorang kawan, kenapa di sampul buku Islam Nusantara Berkemajuan itu terdapat lambang Muhammadiyah kecil tetapi jelas, dan kenapa ada lambang NU besar tetapi tidak jelas”, maka saya jawab dengan gurauan: “NU itu besar tetapi tidak jelas, karena memang tidak jelas.” Lalu saya lanjutkan” ini gurauan, jangan dianggap serius.” Lalu, hari itu juga ungkapan saya, “NU itu tidak jelas” beredar di media sosial. Jadilah saya korban gurauan saya sendiri.
Beberapa hari yang lalu, Prof. Nasaruddin Umar, Menag, juga mengalami hal yang sama. Pada saat memberikan pengarahan tentang guru secara daring, Prof. Nasaruddin Umar menyatakan “kurang lebih” bahwa “kalau mau menjadi guru jangan ingin menjadi kaya, kalau mau menjadi kaya jadilah pedagang.” Sontak, kalimat itu diviralkan di media social dengan sengaja menghilangkan konteks pembicaraannya. Maka ramailah jagad media social, bahwa Menag merendahkan para guru. Dan saya sampailah kepada keyakinan bahwa ungkapan Prof. Nasaruddin Umar dipotong secara sengaja dan diupload agar dunia media social menjadi hingar bingar. Betul dan akhirnya Prof. Nasaruddin Umar harus menyampaikan ucapan mohon maaf kepada seluruh guru dan sekaligus juga mengungkapkan data-data keberpihakan Kemenag kepada para guru dengan program pemberdayaan dan penguatan guru dalam profesionalitas dan kesejahteraannya.
Berdasarkan logika tidak ada satu kesalahan dari Menag dalam mengungkapkan bahwa “kalau mau menjadi kaya jadilah pengusaha dan jangan menjadi guru.” Sama sekali tidak salah. Dengan menggunakan logika yang paling sederhana dipastikan tidak ada kesalahan sedikitpun. Itu ungkapan yang sangat realistis. Guru sebagaimana pada aparat negara lainnya sudah ditentukan berapa tarif pendapatannya. Ada pagu yang mengikat tentang berapa besarnya anggaran yang diperuntukkan bagi para guru, baik PNS maupun PPPK. Jadi dipastikan hanya sekedar cukup untuk menjalani kehidupan. Tidak berlebih. Yang bisa membuat seseorang kaya adalah para bisnisman, para pengusaha dan pedagang. Bahkan ada pernyataan KH. Wahid Hasyim yang menyatakan bahwa harta itu berputar di kalangan pengusaha besarnya 80%, dan yang lainnya hanya 20%. Jadi kalau mau menjadi kaya, maka bukan menjadi guru bahkan dosen, akan tetapi menjadi pengusaha. Bayangkan kekayaan Jeff Bezos, Rp3.748 triliun, lebih besar dari APBN Indonesia 2025 sebesar Rp3.621,3 triliun.
Memang dunia ini dikuasai oleh orang kaya, jumlahnya sebanyak satu persen yang tersebar di setiap negara di seluruh dunia. Jadi janganlah heran jika ada pernyataan bahwa jika ingin kaya jadilah pengusaha, jangan menjadi lainnya termasuk menjadi guru atau dosen. seorang guru besar, pendapatan atau take home pay sebesar 20-25 juta tetapi pengeluarannya kira-kira 70 persen. Dari pembiayaan pendidikan, kesehatan, keperluan rumah tangga dan kepentingan update pengetahuan dan ilmu, yang semuanya tidak bisa ditunda. Janganlah berpikir berlebihan. Tetapi yang penting keberkahannya.
Menjadi guru atau pengusaha sesungguhnya sama-sama pekerjaan mulia dan menghasilkan kemuliaan. Jika seorang pengusaha sebagaimana Syekh Hasan Syadzili, pemuka tarekat Syadziliyah, yang mendarmabaktikan kekayaannya untuk kemaslahatan, maka inilah pengusaha yang mulia. Bahkan Beliau menyatakan: “harta adalah wasilah tercepat untuk sampai kepada Tuhan.” Tentu tidak semua pengusaha seperti Syekh Hasan Syadzili. Ada juga yang bermoral hazzrad, ada yang culas, dan ada yang tidak jujur. Jika seperti ini, maka tidak ada kemuliaan di dalam kehidupannya.
Menjadi guru sungguh pekerjaan yang sangat mulia. Di tangan para guru kualitas manusia akan menjadi unggul atau tidak. Di tangan para guru, maka sebuah negara akan maju atau tidak. Guru dengan dunia pendidikannya merupakan instrument terbaik dalam rangka peningkatan kualitas SDM pada suatu negara. Diyakini bahwa pendidikan adalah instrument terbaik di dalam peningkatan SDM. Di sinilah kemuliaan guru yang tidak ada tandingnya. Tidak dapat dibandingkan dengan profesi lainnya. Kita semua merasakan bahwa kita dapat menjadi sebagaimana sekarang adalah karena darmabakti para guru. Makanya, dinyatakan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Berbahagialah para guru dan dosen. Pekerjaan sebagai guru dan dosen adalah pekerjaan yang mengandung kemuliaan. Allah memberikan jaminan bahwa jika kebaikan yang diajarkan oleh para guru dan dosen itu dilakukan oleh muridnya atau mahasiswanya, maka para guru dan dosen akan terus mendapatkan pahala. Jika apa yang dinyatakan dan keteladanan guru atau dosen itu disebarkan oleh para muridnya sampai akhir kiamat, maka pahalanya juga akan terus berlangsung sampai akhir kehidupan. Itulah sebabnya, Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhu menyatakan bahwa “ Beliau akan mengabdikan diri kepada gurunya meskipun hanya mengajarkan satu huruf.”
Dengan demikian, menjadi guru atau pengusaha hanyalah instrumen kehidupan. Tetapi yang penting bahwa setiap pekerjaan itu harus dilakukan untuk memilki visi mencapai ridhanya Allah. Inilah ultimate goal. Ada purpose. Bekerja haruslah memiliki hope atau harapan. Dan ultimate hope adalah memperoleh keridlaan Allah. Dan yang tidak kalah penting bahwa sebagai guru dan dosen juga harus memiliki sahabat atau friendship. Jadikan kawan atau sahabat sebagai instrument untuk juga memperoleh ridhanya Allah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

