Studi Al-Qur’an Barat Pada Universitas Islam di Indonesia
Riset AgamaArtikel berjudul “Western Qur’anic Studies in Indonesian Islamic Univiersities: Responses, Contestations, and Curriculum Politics” merupakan karya Yusuf Rahman dan Ervan Nurtawab. Tulisan ini terbit di Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies tahun 2025. Studi tersebut mengkaji pandangan para dosen Ilmu Al-Qur’an di Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir dari lima Universitas Islam Negeri terhadap keilmuan Barat mengenai Al-Qur’an yakni Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga, UIN Alauddin Makassar, UIN Imam Bonjol Padang, dan UIN Bukittinggi. Data yang dianalisis dalam studi ini diperoleh melalui kunjungan lapangan ke lima program studi tersebut. Selain itu, artikel ini juga berinteraksi secara kritis dengan literatur akademik mutakhir, sehingga memperkuat posisinya dalam wacana keilmuan kontemporer. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, akademisi muslim dan kajian barat tentang al-Qur’an. Ketiga, beasiswa al-Qur’an barat di Indonesia: lima Universitas Islam.
Pendahuluan
Para cendekiawan Muslim telah mengembangkan kajian Al-Qur\'an dan tafsir sejak awal. Akademisi Barat, yang sebagian besar non-Muslim, juga telah memberikan kontribusi penting di bidang ini, namun karya dan gagasan mereka terkadang memicu kontroversi di kalangan komunitas Muslim. Kritik terhadap kajian Al-Qur\'an Barat oleh para akademisi Muslim seringkali diwarnai oleh isu-isu teologis atau polemik. Pada studi Al-Qur\'an di Iran, Malaysia, dan Selandia Baru, mengidentifikasi beberapa keterbatasan struktural dalam studi Islam di negara-negara mayoritas Muslim. Keterbatasan ini meliputi pendekatan yang didominasi apologetik, bias sektarian, keterlibatan kritis yang terbatas, dan pembatasan kebebasan akademik.
Akademisi Muslim dan Kajian Barat Tentang Al-Qur’an
Pada waktu yang lama, kajian barat tentang Studi Islam merupakan bagian dari Orientalisme, sebuah elemen minat orientalis dalam mengamati masyarakat non-Barat. Para akademisi Barat ini terutama mendorong pendekatan \'non-konfesional\' atau \'kritis dan tanpa emosi\' dalam studi Islam. Artinya, mereka dan karya-karya akademisnya didorong oleh sikap kritis dan analisis kritis terhadap objek studinya, yang berbeda dari pendekatan normatif dan teologis yang sering dijumpai dalam program Studi Islam di universitas-universitas di seluruh dunia Muslim, khususnya Timur Tengah.
Di Indonesia, opini tentang kajian Barat tentang Al-Qur\'an bisa dikatakan negatif. Misalnya, Syamsuddin Arif yang melihat skeptisisme sebagai titik awal bagi para cendekiawan Barat dalam studi mereka tentang Al-Qur\'an dan subjek terkait, sambil menyatakan bahwa para orientalis Barat memulai karya mereka dengan prasangka dan kecurigaan. Adian Husaini juga berpendapat bahwa budaya akademis Barat telah secara sistematis diperkenalkan dan menyusup ke dalam kajian Al-Qur\'an Indonesia. Ia tampaknya frustrasi dengan apa yang ia pandang sebagai penerimaan unsur-unsur pendekatan akademis Barat oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, khususnya dalam Studi Al-Qur\'an. Jelaslah bahwa kritik-kritik kaum Muslim terhadap ilmu pengetahuan Barat tentang Al-Qur\'an umumnya memiliki nada teologis atau bahkan polemik.
Pandangan negatif dan sikap permusuhan akademisi barat dan timur sampai batas tertentu merupakan hasil sejarah panjang permusuhan antara Kristen dan Muslim. Lebih lanjut, karya-karya yang disusun pada periode formatif Studi Islam di Barat, yang dari perspektif Muslim, jelas menunjukkan perilaku Barat yang bermusuhan terhadap Muslim dan agama mereka. Namun, jelas bahwa literatur yang dikaji telah mengabaikan Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar. Hanya segelintir penelitian yang membahas perkembangan Studi Al-Qur\'an di universitas-universitas Islam Indonesia. Keterbatasan ini khususnya terlihat selama periode pembentukan Studi Al Qur\'an sebagai departemen independen.
Beasiswa Al-Qur’an Barat di Indonesia: Lima Universitas Islam
Baca Juga : Rekonstruksi Peran Aktor Lokal dalam Islamisasi
Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir sebelumnya digabung dengan Studi Hadis. Namun, pada tahun 2015, kedua bidang tersebut diwakili oleh program studi independen. Meskipun demikian, karena alasan teknis, beberapa universitas baru menerapkan kebijakan ini di tahun-tahun berikutnya. Saat ini, terdapat lebih dari tujuh puluh Program Studi Studi Al-Qur\'an dan dua puluh sembilan Program Studi Hadis. Terdapat beberapa orientasi lulusan terkait program studi Al-Qur’an.
Pertama, menjadi akademisi atau pendakwah. Dua pandangan berbeda tentang tujuan pendidikan Islam dapat ditelusuri hingga masuknya gaya pendidikan Barat ke dalam sistem pendidikan Islam Indonesia pada awal abad ke-20. Perdebatan ini kemudian menjadi lebih panas di tingkat universitas, terutama ketika lebih banyak lulusan dari universitas Islam negeri Indonesia mengejar gelar dalam Studi Islam di universitas-universitas Barat pada tahun 1960-an dan 1970-an sebelum kembali ke Indonesia dan menduduki posisi penting di Kementerian Agama dan universitas.
Pada beberapa dekade selanjutnya, tradisi akademik Barat memperoleh lebih banyak dukungan dan kesempatan untuk berkembang di Indonesia sebagai hasil dari kemitraan antara lembaga-lembaga Barat dan lembaga-lembaga UIN/IAIN, yang terakhir bertujuan untuk mencapai pengakuan internasional. Kendati demikian, lulusan Studi Islam juga diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan masyarakat lokal yang membutuhkan penguasaan teks-teks Islam pada tataran normatif dan kemampuan menyampaikan ajarannya.
Pada kaitannya dengan beasiswa Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, yang saat ini adalah ketua Asosiasi Studi Al-Qur\'an Indonesia, dan menjabat sebagai wakil rektor UIN Yogyakarta dengan penuh semangat mendukung penggunaan pendekatan kritis beasiswa Al Qur\'an Barat di Departemen Studi Al-Qur\'an. Ia menyatakan bahwa akademisi Muslim kontemporer harus belajar dari rekan-rekan mereka di akademisi Barat, seperti halnya cendekiawan Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina di abad pertengahan Islam keemasan belajar banyak dari berbagai cendekiawan terlepas dari keyakinan dan afiliasi keagamaan mereka. Jadi, ia mendorong para akademisi Muslim untuk meneladani para pendahulu mereka yang telah mengabaikan segala identitas budaya, agama, dan politik dalam upaya mereka menimba ilmu. Upaya inilah yang dapat dilakukan para akademisi Muslim saat ini untuk mewujudkan peradaban Islam yang lebih baik di masa depan—yakni, belajar dari mereka yang memiliki pengetahuan paling banyak di zaman modern.
Kedua, tradisi akademik yang mendukung dan universitas sekitar. Terdapat dua faktor yang mendukung terciptanya suasana yang lebih akademis dalam kajian al-Qur’an di antaranya universitas harus memiliki cukup banyak spesialis multigenerasi dalam kajian Barat tentang Al-Qur\'an yang perspektifnya mendukung nilai-nilai akademis, alih-alih mencerminkan pendekatan apologetik dan normatif terhadap hal tersebut. Lalu, dukungan yang diberikan oleh universitas dan lembaga terkait, serta daerah dengan budaya yang mendukung kebebasan berpendapat di dunia akademis.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tersebut, kondisi terkini Studi Al-Qur\'an dan Tafsir di Indonesia terkait dengan kajian Barat tentang Al-Qur\'an. Hasil temuan menunjukkan individu-individu tertentu dengan latar belakang sosial dan intelektual yang kuat serta senioritas telah memengaruhi orientasi dan pengembangan departemen tersebut. Hal ini juga mencakup bagaimana akademisi yang berspesialisasi dalam Al-Qur\'an dan tafsir, serta calon lulusan, memperlakukan Al-Qur\'an dan mengembangkan kajiannya —yaitu, sebagai sarana untuk memperkuat keyakinan komunitas Muslim atau sebagai bahan kajian. Perspektif arus utama sangat dipengaruhi oleh pandangan individu-individu berpengaruh tertentu, yang memaksakan pandangan mereka kepada orang-orang di bawahnya, termasuk mereka yang bertanggung jawab mengelola program studi. Mereka mendorong para mahasiswa untuk mencerahkan diri mereka sendiri dengan merangkul pendekatan Barat, atau mengingatkan mereka bahwa melestarikan doktrin doktrin Muslim adalah tujuan utama pembelajaran di Prodi Studi Al-Qur\'an.

