SEAbling, Wajah Baru Gotong Royong di Era Digital
InformasiEva Putriya Hasanah
Gotong royong sudah lama jadi DNA masyarakat Indonesia. Kita tumbuh dengan budaya bantu-membantu: dari kerja bakti membersihkan selokan kampung, patungan membuat acara hajatan, sampai galang dana kalau ada tetangga yang sakit. Tapi siapa sangka, di era digital dan dalam konteks regional, semangat gotong royong itu menjelma dalam wujud baru yang disebut netizen sebagai SEAbling.
SEAbling, gabungan dari kata SEA (Southeast Asia) dan sibling (saudara), adalah istilah yang muncul ketika netizen Asia Tenggara ramai-ramai memesan makanan online untuk para driver ojek online (ojol) di Indonesia di tengah aksi intensifikasi beberapa hari terakhir ini. Fenomena ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang solidaritas lintas negara yang mengakses internet melalui teknologi.
Dari Kampung ke Awan: Evolusi Gotong Royong
Kalau dulu gotong royong identik dengan tenaga fisik—mengangkat batu bareng-bareng untuk membangun jembatan desa—sekarang ia bermigrasi ke ruang digital. Internet dan aplikasi jadi alat baru, tapi semangatnya tetap sama: saling menopang.
Dengan satu kali klik di aplikasi pesan antar, masyarakat dari Malaysia, Singapura, Filipina, bahkan Jepang dapat mengirim makanan untuk driver di Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta. Dari jarak ratusan hingga ribuan kilometer, mereka bisa ikut merasakan denyut perjuangan rakyat Indonesia.
SEAbling adalah bukti bahwa gotong royong tidak mengenal batas geografis. Ia bisa bergerak bebas melintasi peta, asal ada niat baik dan jaringan internet.
Baca Juga : Sang Tetangga
Makanan sebagai Pesan Solidaritas
Dalam setiap nasi kotak, kopi dingin, atau bahkan vitamin C yang dikirim melalui aplikasi, ada pesan yang jauh lebih besar: “Kamu tidak sendirian.”
Bagi para driver ojol, dukungan ini bukan hanya mengisi perut. Ada energi moral yang datang dari setiap pesanan. Mereka merasa ada saudara jauh di negeri ini yang peduli, yang paham perjuangan, dan yang memilih untuk hadir dengan cara mereka sendiri.
Solidaritas ini terasa hangat karena lahir dari hal sederhana. Nggak ada orasi panjang atau spanduk besar, hanya layar ponsel, beberapa klik, dan transaksi kecil. Tapi efeknya luar biasa: ribuan driver merasa ditopang, ribuan netizen merasa terhubung.
SEAbling: Regionalisme Era Gotong Royong
Fenomena SEAbling juga membuka mata kita bahwa Asia Tenggara bukan hanya soal ASEAN, kemitraan KTT, atau perjanjian ekonomi. Ada bentuk regionalisme yang jauh lebih organik, lahir dari masyarakat, tanpa protokol resmi.
SEAbling adalah regionalisme dari bawah—rakyat yang menghubungkan rakyat, tanpa birokrasi. Mereka berbagi empati, bukan sekedar komoditas. Mereka membangun jaringan emosional, bukan sekadar infrastruktur dagang.
Dalam satu gerakan spontan, kita melihat Asia Tenggara sebagai keluarga, bukan hanya sekumpulan negara di peta. SEAbling adalah bukti nyata bahwa persaudaraan lintas batas bisa lahir dari momen solidaritas sederhana.
Baca Juga : Lahirnya 'Ulum Al-Qur'an
Tantangan dan Potensi
Tentu saja, SEAbling bukan tanpa tantangan. Ada risiko keamanan bagi driver, ada potensi salah alamat, bahkan ada kemungkinan gerakan ini dipolitisasi. Namun dibalik semua itu, SEAbling menyimpan potensi besar: membangun jejaring solidaritas digital Asia Tenggara.
Bayangkan jika gerakan serupa tidak hanya muncul di momen demo, tapi juga ketika ada bencana alam, krisis pangan, atau masalah kemanusiaan lainnya. SEAbling bisa jadi model gotong royong digital regional—dari masyarakat, untuk masyarakat.
Menjaga Api Gotong Royong
SEAbling menunjukkan bahwa gotong royong tidak pernah mati, ia hanya berevolusi. Dari kampung ke cloud, dari lokal ke regional, dari fisik ke digital.
Kisah SEAbling ini akan dikenang sebagai bukti bahwa rakyat Asia Tenggara bisa saling menguatkan tanpa harus menunggu negara bergerak. Ia adalah harapan baru bahwa di tengah dunia yang semakin terpecah, ada semangat kebersamaan yang justru menemukan bentuk segarnya.
Dan mungkin inilah pelajaran terpenting dari SEAbling: kita semua saudara, meski dipisahkan laut dan perbatasan.

