(Sumber : Nur Syam Centre)

Sang Tetangga

pepeling

Oleh: Jambedaweh

  

Mari kita awali menikmati narasi ini dengan membacakan surat al-Fatihah pada Mbah Mo dan Mak Ning Tun, pasangan suami istri yang oleh warga kampung diakui merupakan warga yang sangat baik. Pada keduanya, al-Fatihah.

  

Tidak ada yang menyangka bahwa Mbah Mo dan Mak Ning Tun, pasangan suami-istri renta di kampung kami merupakan orang yang istimewa. Kecuali keduanya bisa baca-tulis, tentu dalam taraf yang sangat terbatas. Tiada yang mengetahui dari mana mereka berasal, dan siapa kerabat keduanya. Di kampung kami, mereka dikenal sebagai pasangan kakek-nenek yang tidak memiliki keturunan dan juga handai taulan. Tapi keduanya punya kebiasaan unik, yaitu mengumpulkan atau meminta amplop kosong pada orang yang telah hajatan. Memang di kampung kami biasanya saat ada hajatan ada tradisi buwuh, yaitu pemberian uang sebagai tahni’ah dari tamu pada tuan rumah.

  

Bila Mbah Mo sehari-harinya menjadi kuli batu yang membantu para tukang batu mengerjakan order pengerjaan bangunan, maka Mak Ning Tun tiada memiliki pekerjaan, kecuali di banyak waktu terlihat ia merawat beberapa tanaman di sekitar gubuknya yang terletak di ujung kampung bersebelahan dengan persawahan warga. Tanaman itu seperti turi, ketela, koro, kacang, lombok, pepaya dan satu pohon kecacil yang tumbuh besar di depan gubug. Sebenarnya keduanya memiliki tanah sawah sebahu yang mangkrak tak mereka tanami atau sewakan. Kini sawah itu malah sering dipakai tempat parkirnya hewan ternak orang-orang di kampung kami untuk merumput. Tapi tak terlihat keengganan dari Mbah Mo dan Mak Ning Tun, justru keduanya senang dengan perilaku pemilik ternak kampung kami, walau dipastikan keduanya tak mendapat keuntungan material atas “penyerobotan” itu.

  

Gubug bambu yang menjadi tempat tinggal keduanya memang berada di sudut terjauh dari persawahan di kampung kami. Luasnya kira-kira sekitar 5x6 meter dengan satu pintu dan satu jendela. Sedangkan untuk untuk mandi dan buang air besar, keduanya membuat tempat di belakang gubug. Tempat mandi mereka terbuat dari bambu setinggi satu meter yang ditata empat persegi yang di dalamnya hanya ada gentong air, gayung, dan batu kali sebesar kepala kerbau untuk duduk saat mandi. Di luarnya ada sumur yang mereka gunakan untuk minum dan juga untuk keperluan lainnya. Bahkan oleh banyak petani di kampung kami, sumur dan tempat mandi itu sering mereka gunakan untuk membersihkan diri dan buang hajat karena memang hanya itulah sumur dan tempat mandi dan buang hajat paling representatif. 

  

Tiap bulan puasa, baik Mbah Mo maupun Mak Ning Tun terkadang ditamui beberapa orang kaya yang juga dermawan di kampung kami sekedar memberikan zakat fitrah atau zakat mal mereka. Bahkan sering kali yang datang merupakan utusan dari para dermawan dadakan yang memberi keduanya sedekah dengan motivasi buang sial dari keculasan mereka mendapatkan harta. Oleh Cak din, tetangga terdekat dari pasangan kakek-nenek ini, info itu disampaikan pada kami di suatu sore. “Kebanyakan pemberi sedekah pada Mbah Mo dan Mak Ning Tun hanya untuk meruwat harta yang mereka dapatkan dengan cara menjadi rentenir. Kata mereka, agar tak diadzab nanti, maka uang-uang receh dari keuntungan rentenirnya itu mereka berikan pada Mbah Mo dan Mak Nin Tun.” Ujarnya.

  

Kehidupan keduanya juga jauh dari kemewahan. Pada soal makan misalnya, sering kali keduanya terlihat makan sepiring berdua dengan hanya nasi putih, rebusan dedaunan dari tanaman yang ditanam dan dirawat Mak Ning Tun, dan sambal sekedarnya. Bahkan keduanya kerap terlihat mengkonsumsi nasi aking yang kini mungkin orang paling faqir pun tak mau mengkonsumsinya. Mungkin kemewahan makan terbesar bagi keduanya adalah saat ada tetangga yang punya hajat dan memberi mereka jatah makanan hajatan. Atau saat ada tetangga yang mengundang Mbah Mo kenduri, dan pulangnya diberi berkatan.

  

Pakaian terbaik yang pernah dikenakan Mbah Mo adalah sarung dan baju koko bertuliskan salah satu pasangan calon bupati di tempat kami saat menjelang pemilihan kepala daerah bebepara tahun lalu. Selain itu, Mbah Mo kerap terlihat memakai celana klomprang dan berkaos yang nyaris pasti sobek di beberapa bagiannya. Mbah Mo lebih rapi dengan baju KORPRI biru using dan sarung butut saat datang tiap pagi dan sore di surau kampung kami. 


Baca Juga : Menantang Otoritas Dominasi Keagamaan dalam Platform Digital

  

Lain lagi ceritanya dengan Mak Ning Tun. Nenek periang dengan suara melengking ini terlihat mengenakan pakaian bagus adalah ketika suatu saat ada salah satu tokoh yang terkenal pelit di kampung kami datang padanya dan memberikan beberapa baju bekas pembantunya yang kabur karena penyiksaan yang dilakukannya. Ternyata pemberian itu untuk melegitimasi kelayakan sang pemberi untuk pantas dipilih sebagai anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) di kampung kami. Di depan gubugnya Mak Ning Tun tertawa kecut saat dia dipaksa mengenakan daster batik merah merona dan harus acting di depan kamera tim sukses sang dermawan tersebut. Selang sehari berikutnya foto Mak Ning Tun terpampang pada baliho-baliho yang sudah terpasang di kampung kami lengkap dengan foro pemberi daster dan sebuah kalimat “Ratu Dermawan Sejagat”.

  

Salah satu keistimewaan kampung kami adalah di samping ada beberapa warganya yang menjadi hartawan pilih tanding, paling tidak bagi warga kampung sekitar. Selain itu, juga ada beberapa warga kampung kami yang berhasil mendapat pulung politik sebagai pimpinan pemerintah atau anggota legislatif di tingkat kabupaten/kota atau propinsi. Hal itu menjadikan kampung kami disegani. Tapi ironisnya, tidak ada lembaga pendidikan dari dasar sampai menengah atau pesantren di kampung kami. Sehingga banyak anak-anak kampung kami yang sekolah di kampung lain. Bahkan ketiadaan lembaga pendidikan tersebut menjadikan beberapa orang tua enggan menyekolahkan anaknya.

  

Jumat pagi warga kampung kami dikagetkan dengan sebuah alarm tradisional dari kentongan yang dipukul dengan cara titir di rumah Kamituwo, tanda bahwa ada yang lelayu atau meninggal dunia. Tersiar kabar bahwa Mbah Mo meninggal dunia usai menunaikan shalat subuh di surau yang biasa didatanginya dengan Mak Ning Tun. Mak Ning Tun menuturkan bahwa setelah mengikuti wiridan dan doa, Mbah Mo bersandar sebentar di dinding surau seperti orang mau melepaskan kepenatan barang sebentar. Saat Cak Din akan berangkat ke sawah, hatinya tergerak berbelok melihat surau yang terlihat masih terbuka dan melihat Mbah Mo masih bersandar sambil memegang tasbih bijih asemnya. Ketika disapa, Mbah Mo tak kunjung menjawab, dan setelah diperiksa, ternyata kakek itu sudah meninggal. 

  

Tak tahu mengapa dan untuk apa, proses pemulasaraan jenazah Mbah Mo relatif cepat, sehingga belum jam 10 siang, jenazahnya sudah dikuburkan di pemakaman kampung kami. Mungkin karena tiada sanak famili yang harus ditunggu, yang kerap kali menghambat proses pemulasaraan dan pemakaman. Tapi yang jelas, seluruh lapisan warga kampung kami seperti tergerak untuk memuliakan Mbah Mo di saat terakhirnya. Tapi sayangnya sampai proses pemakaman usai, tak tampak calon bupati yang dulu memberikan sarung dan baju koko dan pemberi daster dengan gelar Ratu Dermawan Sejagat datang untuk berbelasungkawa.

  

Hampir sepekan dari meninggalnya Mbah Mo, terdengan kembali kentongan titir berbunyi saat kamis setelah isya sekitar jam 20.00 WIB. Ternyata Mak Ning Tun yang kini meninggal dunia. Sekali lagi Cak Din yang mengetahui meninggalnya nenek periang ini. Diceritakan olehnya bahwa setelah shalat isya, Mak Ning Tun tak kunjung pulang sehingga Cak Din yang bertugas merawat surau menunggui. Mak Ning Tun menyuruh Cak Din pulang dulu untuk makan malam atau berganti baju, dan mengharapnya tak menguatirkan surau karena Mak Ning Tun yang nanti bersedia menutup surau. Cak Din pulang menuruti, tapi setelah sejam berlalu hatinya tergerak melihat surau kembali. Pada saat itulah Cak Din menemukan Mak Ning Tun sudah meninggal dengan masih mengenakan mukena putih using yang biasa dikenakannya.

  

Tidak seperti Mbah Mo, pemulasaraan jenazah dan pemakaman Mak Ning Tun bahkan jauh lebih ramai.

  

Sepulang pemakaman, ketua RT, ketua RW, Modin, Kamituwo, dan kyai kampung kami, dan tak ketinggalan Cak Din berembug untuk memutuskan bagaimana memperlakukan asset Mbah Mo dan Mak Ning Tun berupa sepetak gubug dan tanah sawah tak produktif. Singkat cerita, Pak Tinggi (Kepala Desa) dan anggota BPD menyetujui untuk membuka gubug Mbah Mo dan Mak Ning Tun, melakukan pemeriksaan siapa tahu ada wasiat dari kedua almarhum. Bila tidak ditemukan wasiat, mereka akan mengalih fungsikan asset kekayaan keduanya untuk desa.

  

Sebagai orang yang sehari-hari bertetangga paling dekat, Cak Din ditugasi menjadi guide melakukan pemeriksaan pada gubug reyot tersebut. Beberapa orang yang ditunjuk Pak Tinggi dan juga beberapa orang anggota kepolisian terlihat berdiri dan saling berbincang di luar gubug. Setelah beberapa jam, Cak Din keluar dengan tergopoh-gopoh sambil membawa lima kaleng kotak yang biasanya menjadi tempat roti bermerk terkenal.

  

Setelah terjadi percakapan singkat, mereka terlihat membuka lima kaleng tersebut dan terlihat semua wajah yang hadir itu terkejut sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka. Ternyata kaleng-kaleng tersebut berisi amplop yang di dalamnya ada uang dalam berbagai pecahan. Bahkan ada di antara amplop yang berisi pecahan uang yang sudah tak beredar sebagai alat tukar. Di beberapa amplop tertulis nama pemberi uang, hari, tanggal, dan jam pemberian diterima. Tapi kebanyakan amplop bertuliskan keterangan seperti hasil penjualan atau pekerjaan yang dilakukan Mbah Mo atau Mak Ning Tun, lengkap dengan keterangan waktunya.

  

Tapi ada satu hal yang membuat petugas pemeriksa terperanjat. Salah satu kaleng ada amplop lebih besar yang tak berisi uang, tapi berisi selembar kertas bertuliskan tulisan tangan. Isi tulisan, “Kang Kinormatan Pak Tinggi soho warga sedantene. Nyuwun kerso Panjenengan ngedekaken lan ndamelaken madrasah ten siti saben milik kulo (Mo kaliyan Tun) kangge pendidikan putro-wayah kito. Bilih arto ten omplong-omplong meniko damel keperluan meniko. Menawi kirang, kulo pasrahakan dumateng Panjenengan kaliyan warga. Matur nuwun.” Kira-kira artinya adalah, “Yang Mulia Pak Tinggi dan semua warga. Mohon Anda berkenan mendirikan dan membuat madrasah di tanah sawah milik saya (Mo dan Tun) untuk anak-cucu kita. Adapun uang di kaleng-kaleng itu untuk keperluan tersebut. Bila kurang, saya pasrahkan pada Anda dan warga. Terima kasih.”

  

Itulah Mbah Mo dan Mak Ning Tun. Sepasang kakek-nenek tetangga kami yang kesehariannya menampilkan kehidupan biasa-biasa, namun memandang jauh ke depan dengan luar biasa. Bahkan wasiat kematian keduanya pun menjadi alarm bagi tetangga sekitarnya. Semua yang hadir saling berpandangan, kecuali Cak Din yang terkatup dan bersembab air mata.