Menantang Otoritas Dominasi Keagamaan dalam Platform Digital
Riset SosialArtikel berjudul “Reclaiming Moderate Islam in Nahdlatul Ulama: Challenging the Dominant Religious Authority in Digital Platform" merupakan karya Wahyudi Akmaliah. Tulisan ini terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2022. Studi tersebut berusaha mengkaji upaya Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi tiga tantangan. Mulai dari dinamika internalnya di kalangan elit keagamaan, pengaruh kepemimpinannya di tingkat akar rumput, dan munculnya otoritas agama baru yang memanfaatkan media sosial untuk memperbesar pengaruhnya. Di tengah penggunaan internet yang menjembatani kesenjangan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, kebangkitan otoritas keagamaan baru telah menggerus dominasi NU yang mendasarkan tradisionalisme Islam terutama di pedesaan. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, kalangan elit agama NU dan kontestasi dari dalam. Ketiga, wacana dominan kelompok Islam konservatif di era platform digital. Keempat, reklamasi otoritas keagamaan: kalangan muda NU dan keterlibatannya dengan platform digital.
Pendahuluan
Nahdlatul Ulama (NU) telah mendominasi narasi Islam moderat di Indonesia, yakni sebagai kelompok Islam tertua bersama Muhammadiyah. NU memotret wajah toleransi umat Islam Indonesia di antara ormas keagamaan lainnya dengan memadukan tradisi lokal dan prinsip-prinsip Islam. Jumlah umat Islam Indonesia yang menjadi anggota NU diperkirakan 70,04 juta dari total populasi 231 juta umat muslim di Indonesia. Selain itu, NU memiliki 28.958 taman kanak-kanak, 59.650 Majelis Taklim, 99 universitas, 23.000 pesantren, dan 30 rumah sakit. Hal ini menjadikan NU memiliki pengaruh yang sangat besar di Indonesia.
Meskipun demikian, fungsi NU sebagai pengawal Islam moderat banyak dikritik oleh berbagai pihak. Misalnya, Menchik dalam bukunya berjudul “Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance without Liberalism” yang mengkritisi respons kalangan elit NU yang berurusan dengan kelompok agama minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, bahkan komunitas LGBT. Bagi Menchik, banyak anggota NU yang menentang kelompok minoritas tersebut. Sebaliknya, jika menghadapi perbedaan ekspresi keagamaan, hidup rukun dan memahami keragaman budaya disambut hangat oleh orang-orang NU. Jika dikaitkan dengan perspektif demokrasi liberal, orientasi keagamaan ini menghadapi ambiguitas ketika mereka memilih untuk mengintervensi opsi mana dan siapa yang diperbolehkan atau tidak. Jika mereka memilih nilai toleransi, seharusnya mereka menerima ekspresi budaya yang berbeda. Menchik menambahkan citra NU sebagai “toleransi tanpa pembebasan”.
Kalangan Elit Agama NU dan Kontestasi dari Dalam
Posisi NU dikritik oleh sebagian besar kalangan karena pengaruhnya yang kurang dalam mengawal Islam moderat guna membendung orientasi keagamaan kelompok Islam konservatif pasca rezim otoriter. Meskipun demikian, NU dinilai sebagai wajah tunggal yang merepresentasikan Islam moderat. Ada kontestasi agama di kalangan elit NU dalam menyikapi berbagai isu. Misalnya, banyak senior NU yang mengkritik Jaringan Islam Liberal (JIL) yang diprakarsai intelektual muda NU seperti Agmad Muq sid Ghazali, Ulil Abshar Abdalla, dan Ahmad Sahal.
NU memiliki banyak sumber daya manusia, lembaga pendidikan dan lembaga amal. Sayangnya, kondisi tersebut tidak mampu menopang latar belakang ekonomi anggotanya. Faktor utamanya adalah infrastruktur NU dikiliki oleh para pemuka agamanya, khususnya lembaga pendidikan itu sendiri. Sifat pribadi ini menjadi faktor yang lebih kompleks bagi anggota NU lain untuk membangun karir profesional mereka dalam lembaga pendidikan. Hal ini membentuk kondisi prekariat di kalangan warga NU. Struktur ini menciptakan arena politik di kalangan elit agama NU untuk mendapatkan kekuasaan dan kepentingannya.
Wacana Dominan Kelompok Islam konservatif di Era Platform Digital
Baca Juga : KH. Sonhaji Hasbullah Guru Tarekat Gus Dur : Sosok Sederhana, Khumul Dan Ahli Tirakat
Kelompok Islam konservatif yang terdiri dari kelompok Islam baru dan lama seakan mengartikulasikan identitas keislaman secara signifikan kepada masyarakat Indonesia. Dalih moralitas publik membuat para kelompok berusaha menegaskan jati diri mereka sebagai kelompok Islam sejati yang merepresentasikan otentisitas Islam sebagaimana al-Qur’an dan Sunnah. Otentisitas tersebut dibuktikan dengan terselenggaranya beragam kegiatan di depan umum. Misalnya pengajaran Islam di tingkat akar rumput, bahkan aksi demonstrasi untuk merespon isu sosial-politik di tingkat nasional dan internasional.
Saat ini, maraknya media baru seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan platform komunikasi chatting yang lain telah menempatkan pengguna sebagai produsen sekaligus konsumen. Bentuk interaksi yang cepat memberikan penawaran yang beragam bagi para pengguna. Struktur komunikasi semacam ini membentuk otoritas baru di berbagai bidang, selama pengguna dapat mempengaruhi pengikutnya melalui konten yang menarik. Meskipun struktur ini menguntungkan publik figur, namun memungkinkan orang biasa menjadi “mikro-selebriti”.
Pada kaitannya dengan masyarakat muslim Indonesia, media baru telah banyak digunakan oleh otoritas agama untuk menarik khalayak muslim. Otoritas agama dengan platform digital terdiri dari individu dan masyarakat kolektif. Jika ditinjau dari orientasi keagamaan, sebagian besar berasal dari kelompok Islam konservatif, meskipun ada juga yang berasal dari Islam tradisionalis dan modernis. Misalnya, dari sisi kelompok Islam konservatif ada Hanan Attaki dengan Gerakan Shiftnya dan Felix Siauw dari HTI. Sementara itu, dari Islam tradisionalis seperti Abdul Somad dan Islam modernis seperti Adi Hidayat.
Munculnya media baru dan otoritas agama baru telah ‘menantang’ pembentukan otoritas keagamaan. Meskipun, otoritas tersebut lebih kecil jumlahnya dan infrastruktur lebih buruk dibandingkan dua ormas Islam terbesar di Indonesia, penggunaan platform digital dengan ciri khas tertentu dapat mengartikulasikan pengaruhnya secara luas. Signifikansi kontemporer pengguna internet di Indonesia tentu memberikan kontribusi yang nyata. Kondisi ini menggerus wibawa NU.
Para pemuka agama baru telah masuk ke akar rumput NU dan mengintervensi orientasi ajaran agama, sehingga banyak pengikut NU yang akhirnya mengikuti mereka. Alhasil, banyak pengikut NU yang merasa terancam. Akmaliah dalam tulisannya berjudul “The Demise of Moderate Islam: New Media, Contestation, and Reclaiming Religious Authorities” mengkaji perasaan terancam kalangan NU dengan memberikan tiga contoh kasus. Pertama, penolakan Hamid Basalamah sebagai ustaz dari kelompok Salafi untuk berdakwah di beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Lamongan, Sidoarjo dan Surabaya. Kedua, penolakan Felix Siauw di Semarang dan Jakarta. Ketiga, penolakan terhadap Hanan Attaki yang akan mengisi kajian di Hotel Bahari Inn, Tegal, Jawa Tengah. Sebagian besar masyarakat akar rumput NU menolak mereka, karena orientasi keagamaan sebagai kelompok Islam konservatif dengan ideologi Wahabisme dan Salafi yang dianggap sebagai bentuk perjuangan memurnikan Islam dari tradisi dan budaya lokal mereka. Sedangkan, ideologi Aswaja NU adalah antitesa dari kelompok kelompok Islam konservatif ini.
Reklamasi Otoritas Keagamaan: Kalangan Muda NU dan Keterlibatannya dengan Platform Digital
Dominasi kelompok Islam konservatif di platform digital mempengaruhi hampir seluruh kalangan muslim baik di pedesaan maupun perkotaan. Secara khusus, kawasan pedesaan adalah basis warga NU, sehingga membuat mereka merasa terancam secara signifikan. NU telah melakukan dua cara untuk merespon kelompok ini, terutama pada level jaringan pejabat dan budaya. Pada level kepengurusan, NU telah melakukan rebranding organisasinya dengan semangat baru menjadi Islam Nusantara yang diangkat menjadi tema pada Muktamar NU ke 33 di Jombang, Jawa Timur pada 1-5 Agustus 2015.
Pada tingkat jaringan budaya yang diprakarsai kaum muda NU, mereka telah mendirikan situs web Islami guna melawan suara kelompok Islam konservatif. Pada tahun 2009, Ali Savic dalam tulisannya “Kunci Pembuatan Konten Moderat” menemukan strategi untuk mengalahkan situs Islam kelompok-kelompok tersebut. Akhirnya, ia berhasil mengangkat NU Online ke level yang lebih baik. Salah satunya dengan melakukan kolaborasi dengan pemuda NU lain. Gunanya adalah membentengi NU Online dengan ajaran Islam berdasarkan orientasi agama NU. Ia kemudian mengorganisir generasi muda NU dalam gerakan literasi. Kemudian, tahun 2013, ia dan pemuda NU membuat situs Islami lainnya yakni “Islami.co” yang berisi informasi Islam yang mewakili orientasi keagamaan NU. Berdirinya website Islami ini menginspirasi pemuda NU lain membuat website dengan karakteristik yang beragam. Misalnya, “alif.id” dan “bincangsyariah.com”.Jika ditinjau dari segi konten, situs Islam dengan orientasi keagamaan NU memberikan pandangan moderat yang terdiri dari pluralitas, toleransi dan penghargaan terhadap modus lain ekspresi keagamaan. Sebagian besar situs web tersebut menghargai kekayaan praktik Islam mereka yang didukung oleh sumber al-Qur’an dan sunnah, serta beragam kisah Islami lainnya.
Berdasarkan ranking Alexa tahun 2021, website Islam NU berada pada peringkat teratas. Hal ini disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, bentuk perlawanan ideologis. Berdasarkan sejarah, NU berdiri sebagai bentuk perlawanan di tengah Arab Saudi yang menggiring ideologi Wahabi. Ideologi ini secara signifikan dipengaruhi oleh trans ideologi Islam. Kedua, budaya solidaritas dan kegigihan komunal di kalangan pemuda NU. Ketiga, latar belakang sejarah aktivitas NU yang menggunakan media sebagai representasi perjuangannya. Para pemuda NU telah “meninggalkan” organisasi Salafi dengan ragam otoritas keagamaan kolektif. Misalnya dari saluran NU di Youtube bernama NU Channel; dengan 744 ribu pelanggan dan 4.460 video; TVNU dengan 190 ribu pelanggan dan 1.850 video; Aswaja Tube dengan 210 pelanggan dan 991 video.
Kesimpulan
Inti dari studi ini adalah NU tidak bisa dipandang sebagai sebuah wajah tunggal dari orientasi keagamaan. Namun, dalam tataran ideologi, Aswaja membawa pengikutnya dalam pandangan moderat. Orientasi keagamaan ini diperebutkan di tengah struktur organisasi dan perbedaan lanskap geografis umat NU. Sementara itu, dominasi keompok Islam konsevatif pada platform digital cukup kuat. Alhasil, NU dihadapkan dengan tantangan-tangan tersebut yang memaksa ormas ini berjuang untuk merebut kembali otoritas keagamaannya terutama pada tingkat kalangan paling muda.

