(Sumber : Dokumentasi Pribadi )

Semakin Berumur Tetapi Sehat dan Beriman

Opini

Menjadi tua itu identik dengan manusia yang sudah pikun, sesakitan, dan lemah. Bahkan yang lebih ekstrim lagi dinyatakan “semakin bau tanah”. Ada banyak stereotip yang dilekatkan pada orang yang sudah berumur. Gambaran ini bukanlah pepesan kosong tetapi kenyataan. Artinya, bahwa menjadi berumur itu menjadi semakin tidak berdaya.  

  

Oleh karena itu, banyak orang  yang berupaya agar tidak menjadi semakin tua dengan gambaran semacam itu. Dan di antara upayanya adalah dengan melakukan steamcell yang konon katanya bisa meremajakan sel-sel yang sudah kedaluwarsa dan menggantinya dengan sel baru yang lebih muda. Karena yang menyatakan adalah orang yang berpengalaman, maka tentu kita bisa percaya. Hanya sayangnya harga untuk menjadi muda lagi itu tidak murah. Masih ratusan juta.

  

Pada hari Ahad, 5/02/2023, saya mengikuti acara reuni yang diselenggarakan oleh sahabat-sahabat alumni Fakultas Tarbiyah Bojonegoro di Surabaya, Angkatan pertama tahun 1979. Fakultas Tarbiyah Bojonegoro di Surabaya ini didirikan oleh beberapa dosen IAIN Sunan Ampel, yaitu KH. Drs. Abdul Jabbar Adlan, Drs. Masrani, Drs. Anwar Rasyid, Drs. Syahwan dan lain-lain yang berpikir bahwa diperlukan juga Fakultas Tarbiyah di Surabaya. Waktu itu terdapat regulasi bahwa pusat Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel adalah IAIN Sunan Ampel di Malang, sementara itu di IAIN Sunan Ampel Surabaya terdapat Fakultas Adab, Dakwah, Syariah dan Ushuluddin. Kala Fakultas Tarbiyah IAIN Bojonegoro dihentikan, maka Fakultas Tarbiyah di Surabaya didirikan. Pada tahun 1979 itulah kemudian diresmikan berdirinya Fakultas Tarbiyah Surabaya, yang sekarang menjadi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK). 

  

Yang melakukan reuni adalah Angkatan pertama Fakultas Tarbiyah tersebut. Saya masih mengenal wajah-wajah sahabat alumni Fakultas Tarbiyah ini meskipun cukup lama tidak bertemu. Masih familiar. Wajah  masih ingat tetapi nama yang sudah lupa, kecuali beberapa orang. Di antara yang masih ingat itu adalah sahabat Supandi, Baidlowi, Imam Wahyono, Mahfudz, Hifni, Ali Masyhur dan juga Titik, Ulya, Anis, Luthfiyah, Chumaidah dan beberapa lainnya. Karena sudah berumur, maka banyak perubahan pada wajahnya meskipun masih mengenal secara baik. Saya hadir karena istri saya, Indah. Istri saya  termasuk alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Bojonegoro di Surabaya. Acara ini dilaksanakan di rumah Sahabat Ulya, Bu Nyai, di Pondok Pesantren Rejoso Jombang.

  

Mungkin karena saya lebih senior, maka saya diminta untuk memberikan sambutan. Padahal ada banyak kyai dan bu Nyai di pertemuan ini. Ada di antaranya yang begitu pension langsung menjadi kyai panggung. Ada yang menjadi kyai di pesantren dan juga ada yang mengurus Yayasan Pendidikan, dan yang berwirausaha. Rata-rata sahabat-sahabat ini adalah pensiunan guru, sebagian ada yang pensiunan PNS dan ada yang wiraswasta. Tetapi rata-rata sudah menikmati kehidupan yang layak. Yang saya suka adalah keakrabannya. 

  

Saya memberikan sambutan dengan beberapa hal, yaitu: pertama,  saya hadir di acara ini karena diselenggarakan di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Tempat ini bersejarah bagi kehidupan saya. Sahabat Ulya ini yang mengantarkan saya untuk hidup bersama istri saya. Di Pondok ini saya  bertemu Kembali dengan istri saya dan berjanji akan menikah. Makanya, kala istri saya memberitahukan jika acara reuni dilakukan di sini, maka saya harus menyempatkan datang. Saya bersyukur melihat sabahat-sahabat masih sehat wal afiat dan sudah memiliki anak, cucu, dan hidup bahagia.

  

Kedua,  saya sampaikan bahwa kita boleh menjadi makin berumur, tidak disebut sebagai makin tua, akan tetapi kita harus sehat dan beriman. Nabi Muhammad SAW memberikan petuahnya untuk kita semua agar kita berdoa dengan doa sebagai berikut: “Allahumma thawwil umurana, wa shahih ajsadana, wa nawwir qulubana wa tsabbit imanana”. Yang artinya kurang lebih “Ya Allah panjangkan usia kami, sehatkan jasad kami, cahayailah hati kami da kuatkan iman kami”.  Doa ini memberikan gambaran kepada kita bahwa jika minta usia panjang kepada Allah SWT, maka jangan lupa bahwa usia panjang itu akan bermakna jika kita sehat fisik, hati kita baik dan iman kita kepada Allah SWT sangat baik. Oleh karena itu, indicator usia panjang yang baik adalah jika badan kita sehat, hati kita berada di dalam cahaya kebaikan dan iman kita kepada Allah tidak berkurang tetapi semakin bertambah.

  

Doa ini memang sebaiknya kita lantunkan pada saat yang tepat. Doa yang terarah kepada tujuan hidup yang benar dan keimanan yang benar. Kita harus selalu memohon kepada Allah SWT agar kita diselamatkan di dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akherat. Bukankah kekayaan yang melimpah, harta yang banyak dan jabatan yang tinggi juga tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan fisik yang sehat, hati yang penuh cahaya keimanan dan iman yang kuat dan bermanfaat.

  

Ketiga, ada di antara sahabat-sahabat yang sudah ditinggalkan suami atau istri. Sudah menjadi lajang kembali. Bagi laki-laki saya setuju jika menikah lagi. Karena laki-laki itu tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Jadi rasanya wajib menikah lagi, sedangkan bagi perempuan sunnah saja. Yang penting di dalam tradisi Jawa menikah itu menjadikan dua orang, dua keluarga, dua kerabat menjadi satu, maka yang penting adalah bagaimana pernikahan itu membawa kebahagiaan bagi semuanya. Selamat kepada yang barusan menikah lagi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.