(Sumber : Nur Syam Centre)

Paham Inklusif dan Eksklusif Pasca Konversi Agama di Perkotaan

Informasi

Ada banyak faktor yang menentukan terhadap konversi agama pada masyarakat perkotaan, sebagaimana yang terjadi di Masjid Al Falah Surabaya dan Nurul Hayat Surabaya. Di antara faktor tersebut antara lain adalah faktor keilahian, faktor pendidikan, faktor lingkungan, faktor keluarga dan yang menarik karena faktor mimpi. Demikian yang disampaikan oleh Budi Ichwayudi, Promovendus, yang hari Rabu, 19 Agustus 2020 diuji di dalam sidang terbuka ujian doktor di Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Ampel Surabaya melalui zoom atau daring.

  

Di dalam ujian ini, Budi Ichwayudi dicecar pertanyaan oleh para penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Aswadi, (ketua tim penguji), Prof. Dr. Nur Syam (promotor), Dr. Kunawi Basyir (promotor), Prof. Noorhaedy Hasan, PhD., (penguji), Prof. Ahmad Muzakki, PhD., Dr. Suhartini, dan Dr. Rofhani. Budi Ichwayudi mempertahankan disertasi dengan judul “Konversi Agama pada Masyarakat Perkotaan: Studi tentang Pemahaman Agama pasca Konversi Agama diLembaga Sosial YDSF dan Nurul Hayat Surabaya" dan memperoleh predikat sangat memuaskan. 

  

Semula ingin Mixed Method

  

Sebagaimana rancangan semula bahwa Promovendus Budi Ichwayudi ingin melakukan penelitian dengan mixed method, sehingga sedari awal sudah dirancang untuk melakukan penelitian dengan metode penelitian ini. Rancangan yang akan digunakan adalah desain Exploratory research, penelitian kualitatif dulu dan dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif. Sayangnya bahwa keinginan untuk menggunakan mixed method ini terpaksa harus diurungkan sebab faktor waktu yang mendesak untuk segera lulus. Semester ini adalah semester pamungkas untuk penyelesaian belajar Budi Ichwayudi. Jadilah penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif tanpa kelanjutannya, metode kuantitatif. 

  

Penelitian ini dilakukan di Yayasan Al Falah dan Nurul Hayat. Dua tempat ini menjadi tempat bagi non-muslim untuk melakukan tindakan konversi agama. Di antara yang melakukan konversi agama adalah etnis China dan Jawa. Sebanyak 40 orang yang menjadi informan penelitian. Latar belakang agama sebelumnya bervariasi ada yang Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Kebanyakan  yang konversi di Yayasan Al Falah maupun di Nurul Hayat sebelumnya beragama Kristen dan Katolik. 

  

Perspektif teori

  

Untuk melakukan analisis data, maka penelitian ini menggunakan beberapa teori sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Budi. Di antara teori yang digunakan adalah konsepsi George Simmel tentang interaksi sosial, konsepsi Sigmund Freud tentang mimpi, konsepsi Laurence Iannaccone, dan konsepsi Bourdieu tentang modalitas. Teori-teori ini digunakan untuk memahami bagaimana seseorang melakukan tindakan konversi agama. Di dalam konsepsi Simmel dijelaskan bahwa, manusia selalu berada di dalam nuansa interaksi yang menghasilkan perilaku subordinasi dan superordinasi, hubungan seksual, pertukaran dan konflik. Di dalam interaksi tersebut terdapat berbagai macam tipologi individu di dalam relasinya dengan orang lain. Lalu, teori Sigmund Freud, tentang mimpi yang berasumsi bahwa mimpi adalah alam bawah sadar yang terkait dengan kondensasi, displacement, dan simbolisasi. Kondensasi terkait dengan pengalaman sadar yang terbawa ke alam bawah sadar karena penting, displacement merupakan proses pemindahan alam sadar ke dalam alam sadar yang terkait dengan hal-hal yang urgen, dan simbolisasi merupakan lambang alam sadar yang terbawa ke dalam alam bawah sadar dalam bentuk simbol-simbol yang dapat ditafsirkan maknanya. 

  


Baca Juga : Mencermati Launching ADP: Tetaplah Speak Up Islam Wasathiyah (Bagian Empat)

Teori Iannacone tentang agama dapat dikaitkan dengan pengaruh ekonomi terhadap perilaku agama. Teori ini dipengaruhi oleh teori rational choice, bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang secara rasional menguntungkan. Jadi orang beragama juga dipengaruhi oleh keuntungan apa yang didapatkannya. Kemudian teori Bourdieu, tentang habitus menyatakan bahwa di dalam melakukan tindakan manusia selalu dikaitkan dengan modalitas yang dimilikinya. Misalnya modalitas ekonomi, politik, sosial atau jejaring dan sebagainya.

  

Temuan penelitian

  

Dari penelitian lapangan diperoleh gambaran bahwa seseorang melakukan konversi agama disebabkan karena keraguan akan kebenaran ajaran agama, rasa ingin tahu tentang ajaran agama lainnya, mimpi tentang cahaya bertuliskan kalimat Allah SWT, kemudian terjadi interaksi dengan orang lain yang memberikan penjelasan, baik dengan pernyataan maupun tindakan, belajar agama dan mendiskusikannya dengan orang yang ahli agama dan sebagainya sehingga akhirnya tertarik dan masuk agama Islam.

  

Secara prosesual, maka bisa dilihat adanya faktor internal yang berupa keyakinan agama yang bercorak keraguan, lalu diteruskan dengan interaksi dengan orang lain, baik kawan atau ahli agama, kemudian memutuskan untuk pindah agama. Jadi konversi beragama ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Jika di dalam proses interaksi tersebut bertemu dengan kelompok yang berpaham agama eksklusif, maka pasca konversi juga berpaham agama seperti itu dan jika bertemu dengan orang yang paham keberagamaannya inklusif, maka pasca konversi juga berpaham agama inklusif.

  

Berdasarkan penelitian Dr. Budi dinyatakan bahwa kecenderungan orang yang konversi di Yayasan Al Falah,   kebanyakan menjadi eksklusif . Sedangkan yang berkonversi agama di Nurul Hayat lebih cenderung menjadi inklusif. Selama dalam tiga bulan mereka diajarkan tentang Islam oleh masing-masing Yayasan yang membimbingnya. Di Al Falah, kebanyakan pembimbingnya adalah orang yang bisa dilabel eksklusif, misalnya Felix Siaw, dan sebagainya. Sedangkan, di Nurul Hayat adalah tokoh-tokoh Islam inklusif, misalnya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz dan sebagainya.

  

Beberapa catatan

  

Di dalam pemberian sambutannya, Prof. Dr. Nur Syam., M.Si  selaku promotor menyatakan: “Terdapat kendala waktu penyelesaian disertasi Sdr. Dr. Budi, sehingga menyebabkan ada beberapa pertanyaan mendasar seperti bagaimanakah konsepsi faKtor ekonomi menentukan terhadap konversi agama, dan sebagainya. Tetapi tabel-tabel di lampiran tentunya dapat menjelaskan mengenai faktor-faktor rinci mengenai mengapa orang berkonversi agama. Selain itu juga tipologi yang hanya mengidentifikasi dua penggolongan pemahaman agama pasca konversi juga menarik.  Hanya  saja perlu dipertimbangkan apakah juga ada dari para muallaf tersebut yang berada di antara kedua tipologi tersebut atau dari Nurul Hayat yang berpotensi eksklusif  dan dari Al Falah yang juga menjadi inklusif."

  

Namun yang jelas hari ini Dr. Budi tentu menjadi bagian dari keinginan untuk memperbanyak doktor di Fakultas Usuluddin dan Filsafat, dan harapannya agar segera menjadi professor.