(Sumber : nursyamcentre.com)

Raih Gelar Doktor Dengan Meneliti Konversi Agama di Perkotaan

Informasi

Konversi agama pada masyarakat perkotaan kini banyak ditemui, misalnya di Masjid Al Falah Surabaya dan Nurul Hayat Surabaya. Ada banyak faktor yang menentukan konversi agama terjadi. Adapun di antara faktor tersebut antara lain, yaitu faktor keilahian, faktor pendidikan, faktor lingkungan, faktor keluarga, dan faktor mimpi. Demikian yang disampaikan oleh Budi Ichwayudi, promovendus yang diuji dalam sidang terbuka ujian Doctor di Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Ampel Surabaya melalui Zoom, (19/08). Ia menyampaikan bahwa dalam hasil penelitian ditemukan konversi agama di perkotaan, yang kemudian memunculkan dua model paham Islam pasca konversi agama, yaitu paham agama yang inklusif dan agama yang eksklusif.

 

Dalam ujian kali ini, Budi Ichwayudi dicecar dengan banyak pertanyaan oleh para penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Aswadi, sebagai ketua tim penguji, Prof. Dr. Nur Syam sebagai promotor, Dr. Kunawi Basyir sebagai promotor. Demikian, Prof. Noorhaedy Hasan, PhD, Prof. Ahmad Muzakki, PhD, Dr. Suhartini, dan Dr. Rofhani sebagai penguji. Budi Ichwayudi mempertahankan disertasi dengan judul "Konversi Agama pada Masyarakat Perkotaan: Studi tentang Pemahaman Agama pasca Konversi Agama di Lembaga Sosial YDSF dan Nurul Hayat Surabaya" dan memperoleh predikat sangat memuaskan.

 

Kendati demikian, sebelumnya Promovendus Budi Ichwayudi ingin melakukan penelitian dengan mixed method hingga akhirnya sejak awal sudah dirancang untuk melakukan penelitian dengan metode penelitian tersebut. Rancangan yang akan digunakan adalah desain Exploratory research, yaitu penelitian kualitatif dan dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif. Sayangnya, keinginan tersebut untuk menggunakan mixed method tak dapat dilakukan.

 

"Ini terpaksa harus diurungkan sebab faktor waktu yang mendesak untuk segera lulus. Semester ini adalah semester pamungkas untuk penyelesaian belajar. Jadilah penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif tanpa kelanjutannya, metode kuantitatif," jelas Budi.

 

Penelitian ini dilakukannya di beberapa tempat di Surabaya. Demikian Budi menyampaikan bahwa penelitian dilakukan di beberapa tempat, yaitu Yayasan Al Falah dan Nurul Hayat. Dua tempat ini menjadi tempat bagi non muslim untuk melakukan tindakan konversi agama. Sementara, di antara yang melakukan konversi agama adalah etnis China dan Jawa. Demikian banyak dari konversi agama di Yayasan Al Falah maupun di Nurul Hayat sebelumnya beragama Kristen dan Katolik.

 

"Terdapat sebanyak 40 orang yang menjadi informan penelitian. Adapun latar belakang agama sebelumnya bervariasi, yaitu Kristen, Katolik, Hindu dan Budha," ucapnya.

 

Interaksi Sosial, Mimpi, dan Modalitas

 

Demikian penelitian kali ini menggunakan beberapa teori untuk melakukan analisis data. Adapun di antara teori yang digunakan adalah konsepsi George Simmel tentang interaksi sosial, konsepsi Sigmund Freud tentang mimpi, konsepsi Laurence Iannaccone, dan konsepsi Bourdieu tentang modalitas. Seperti halnya yang disampaikan Budi, ia mengatakan bahwa teori-teori tersebut digunakan untuk memahami bagaimana seseorang melakukan tindakan konversi agama.


Baca Juga : Dampak Pengalaman Belajar Anak Saat Learn From Home

 

"Dalam konsepsi Simmel, manusia selalu berada di dalam nuansa interaksi yang menghasilkan perilaku subordinasi dan superordinasi, hubungan seksual, pertukaran dan konflik. Di dalam interaksi tersebut terdapat berbagai macam tipologi individu di dalam relasinya dengan orang lain," ujarnya.

 

Budi pun kembali menyampaikan terkait teori Sigmund Freud tentang mimpi. Ia mengatakan bahwa mimpi adalah alam bawah sadar yang terkait dengan kondensasi, displacement, dan simbolisasi. Kondensasi adalah suatu hal yang terkait dengan pengalaman sadar yang terbawa ke alam bawah sadar karena penting. Sementara, displacement merupakan proses pemindahan alam sadar ke dalam alam sadar yang terkait dengan hal-hal yang urgen.

 

"Demikian  simbolisasi merupakan lambang alam sadar yang terbawa ke dalam alam bawah sadar dalam bentuk simbol-simbol yang dapat ditafsirkan maknanya," tuturnya.

 

Sementara, konsep terakhir yang digunakan, yaitu teori Iannacone tentang agama yang dapat dikaitkan dengan pengaruh ekonomi terhadap perilaku agama. Budi pun menyampaikan bahwa teori ini dipengaruhi oleh teori rational choice, bahwa perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang secara rasional menguntungkan. Demikian orang beragama juga dipengaruhi oleh keuntungan apa yang didapatkannya.

 

"Kalau teori Bourdieu, tentang habitus menyatakan bahwa di dalam melakukan tindakan, manusia selalu dikaitkan dengan modalitas yang dimilikinya. Misalnya, modalitas ekonomi, politik, sosial atau jejaring dan sebagainya,"ucapnya.

 

Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal

 

Adapun seseorang melakukan konversi agama disebabkan karena keraguan akan kebenaran ajaran agama dan rasa ingin tahu tentang ajaran agama lainnya. Demikian disampaikan oleh Budi, ia menyampaikan bahwa seseorang mimpi tentang cahaya bertuliskan kalimat Allah.   Lalu, terjadi interaksi dengan orang lain yang memberikan penjelasan, baik dengan pernyataan maupun tindakan. Selain itu, ia juga belajar agama dan mendiskusikannya dengan orang yang ahli agama hingga akhirnya tertarik dan masuk agama Islam.

 


Baca Juga : Media Sosial, Habaib dan Gugatan Status Sosial Religious

"Secara prosesual, maka bisa dilihat adanya faktor internal yang berupa keyakinan agama yang bercorak keraguan, lalu diteruskan dengan interaksi dengan orang lain, baik kawan atau ahli agama, dan kemudian memutuskan untuk pindah agama. Jadi konversi beragama ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal," ujar Budi.

 

Sementara, konversi agama dapat memunculkan paham agama yang inklusif dan eksklusif. Demikian paham tersebut bergantung pada pengaruh eksternal, seperti ilmu agama yang diajarkan oleh guru-guru di tempat masing-masing. Budi pun mengatakan bahwa di dalam proses interaksi bila bertemu dengan kelompok yang berpaham agama eksklusif, maka pasca konversi juga berpaham agama eksklusif. Namun, bila bertemu dengan orang yang paham agama  inklusif, maka pasca konversi juga berpaham agama inklusif.

 

"Kecenderungan orang yang konversi di Yayasan Al Falah,   kebanyakan menjadi eksklusif dan yang berkonversi agama di Nurul Hayat lebih cenderung menjadi inklusif. Di Al Falah, kebanyakan pembimbingnya adalah orang yang bisa dilabel eksklusif, misalnya Felix Siaw, dan sebagainya. Sedangkan, di Nurul Hayat adalah tokoh-tokoh Islam inklusif, misalnya Prof. Dr. Moh. Ali Aziz dan sebagainya," imbuhnya.

 

Pengaruh Faktor Ekonomi Belum Terjelaskan

 

Namun, sisi lain terdapat beberapa catatan dalam penelitian yang dilakukan. Adapun beberapa catatan, salah satunya yaitu pertanyaan mendasar tekait aspek ekonomi yang menentukan konversi agama. Hal ini yang disampaikan oleh Nur Syam selaku promotor, ia menyatakan terdapat kendala waktu penyelesaian disertasi hingga menyebabkan ada beberapa pertanyaan mendasar yang belum terjawab dalam penelitiannya.

 

"Bagaimanakah konsepsi faktor ekonomi menentukan terhadap konversi agama, dan sebagainya. Tetapi tabel-tabel di lampiran tentunya dapat menjelaskan mengenai faktor-faktor rinci mengenai mengapa orang berkonversi agama," jelas Nur Syam.

 

Selain itu, Nur Syam kembali mengatakan bahwa juga perlu dipertimbangkan terkait apakah juga ada dari para muallaf tersebut yang berada di antara kedua tipologi, yaitu paham inklusif dan paham eksklusif. Misalnya, Nurul Hayat yang berpotensi memiliki paham agama yang eksklusif  dan dari Al Falah juga dapat menjadi memiliki paham agama yang inklusif.

 

"Tipologi yang mengidentifikasi  dua penggolongan pemahaman agama pasca konversi menarik. Hanya saja perlu dipertimbangkan apakah juga ada mu\'allaf yang masuk dalam kedua tipologi sekaligus," ucapnya.

 

Walau demikian, akhir kata, Nur Syam mengatakan bahwa jelas hari ini Budi tentu menjadi bagian dari keinginan untuk memperbanyak Doctor di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sementara, harapannya dapat segera menjadi Professor.