Halal Bihalal Kelas Menengah Muslim: Antara Religiositas dan Strata Sosial
OpiniHalal bil halal merupakan tradisi umat Islam Indonesia. Tradisi ini terus berkembang seirama dengan semakin menguatnya kelas menengah Muslim di Indonesia. Dewasa ini semakin banyak umat Islam yang masuk ke dalam kelas menengah yang ditandai dengan berbagai gaya hidup sebagaimana layaknya kelas menengah, misalnya kecenderungan untuk bergaya hidup Islami atau halal life style.
Kebanyakan mereka ingin menerapkan Islam sebagai agama yang modern, yang kosmopolit dan Islamis. Jika mereka pergi rekreasi, maka yang dicari adalah tempat rekreasi Islami. Jika mereka makan di restoran maka yang dicari adalah restoran halal, jika mereka menginap di hotel juga dicari hotel syariah. Gaya hidup seperti ini merupakan pertanda baru bagi kehadiran kelas menengah Muslim di tengah kehidupan yang sesungguhnya juga semakin secular.
Banyak di kalangan generasi muda yang ingin berpenampilan Islami, misalnya dengan memakai pakaian-pakaian syar’i, baik untuk kalangan lelaki atau perempuan. Butik-butik pakaian perempuan ramai dikunjungi oleh generasi muda yang ekspresi keberagamaannya semakin kentara. Merek-merek pakaian perempuan Islami semakin mendapatkan tempat dalam gaya berekspresi kaum perempuan. Sungguh suatu pemandangan yang menyenangkan, bahwa semakin meningkat kuantitas generasi muda yang menjalankan ajaran agamanya. Yang penting bahwa mereka tidak tercerabut dari akar tradisi Islam lokalnya di kala mereka memasuki area baru kehidupan yang syar’i.
Di dalam gaya hidup kosmopolit di antaranya adalah menjadikan ruang pertemuan, misalnya Café, Rumah Makan dan Hotel. Cafe-café yang didesain modern banyak diserbu oleh generasi muda, baik lelaki atau perempuan. Café nyaris berdiri di mana-mana dan memiliki pelanggannya sendiri-sendiri. Café Starbuck atau Excelso, Café Bangi atau The Cafe Bean and Tea Leaf dan lain-lain merupakan tempat yang banyak dikunjungi secara berombongan. Tiga atau empat lelaki atau perempuan yang sengaja datang untuk menikmati makanan atau sekedar minum kopi. Bahkan banyak meeting untuk membahas masalah-masalah usaha atau kantor yang dilakukan di café-café dimaksud.
Semenjak Covid-19 mereda, maka banyak dijumpai Hotel yang di dalamnya terdapat restorant penuh sesak dengan acara Buka Bersama (bukber). Tradisi Buka Bersama (Bukber) telah menjadi tradisi di kalangan kelas menengah Indonesia. (nursyamcentre.com “Bukber: Tradisi Kelas Menengah Indonesia, diunggah 23/03/2023). Selain merupakan acara yang dikemas dengan menggunakan symbol keberagamaan, sesungguhnya acara ini juga sebagai symbol keberagamaan kelas menengah Indonesia yang realistik. Tradisi ini dilakukan oleh para pejabat dan stafnya, atau para pengusaha dengan koleganya, dan para pesohor yang berhasil secara ekonomi.
Selain acara bukber, maka juga terdapat fenomena halal bil halal keluarga. Di masa lalu sering disebut sebagai halal bil halal bani tertentu. Biasanya menjadi ajang pertemuan keluarga dari salah seorang leluhur yang dianggap fenomenal. Biasanya dilakukan di pondok pesantren atau rumah kerabat yang strategis untuk dijadikan sebagai tempat meeting keluarga. Juga terdapat halal bil halal antar sesama kawan sekolah atau Halal bil Halal organisasi baik formal atau nonformal.
Di tengah dunia yang semakin sibuk, maka antar kerabat tidak bisa saling kunjung rumah. Apalagi jika di antara kerabat tersebut sudah terpencar dengan jarak lokasi yang jauh, maka momentum hari raya dapat menjadi media untuk saling bertemu yang dikemas dalam halal bil halal kerabat. Di pedesaan masih kita jumpai halal bil halal kerabat yang menggunakan salah satu rumah kerabat sebagai shahibul hajat.
Dewasa ini terdapat fenomena yang menarik. Halal bil halal tidak dilakukan di rumah salah satu kerabat tetapi menggunakan hotel-hotel bintang empat atau lima sebagai tempat halal bil halal kerabat. Misalnya di Jakarta dapat menggunakan Hotel Ritz Carlton, Hotel Indonesia, Hotel Borobudur, Hotel Bidakara dan sebagainya sebagai tempat penyelenggaraan acara Halal bil Halal. Sungguh acara yang mewah dan bergengsi di dalam penyelenggaraan tradisi baru kelas menengah ke atas tersebut.
Jika di Surabaya, maka yang dijadikan sebagai venue adalah Hotel Bumi Surabaya, Sheraton Surabaya Hotel, The Westin Surabaya, JW Mariot Hotel Surabaya, Vasa Hotel, Hotel Ciputra World Surabaya dan sebagainya. Hotel-hotel ini dipilih sebagai meeting venue tentu terkait dengan status social dan eksistensi diri dalam relasi social. Tidak hanya halal bil halal yang menjadi lambang keberagamaan, akan tetapi juga social strata dan social cost yang dihadirkan. Agama dapat dijadikan sebagai komodifikasi status social dalam relasi social yang kompleks.
Halal bil halal tentu merupakan tradisi social keagamaan atau social religious tradition. Sebagai tradisi social religious tentu saja memberikan gambaran bahwa tradisi ini bukanlah tradisi yang berasal dari Islam dalam Kawasan Timur Tengah tetapi tradisi Islam local yang banyak diminati oleh berbagai kelas dan strata social di Indonesia. Meskipun tradisi ini relative baru dibandingkan dengan tradisi slametan, akan tetapi tradisi ini telah menjadi bagian dari tradisi Islam local di Indonesia. (nursyam.uinsby.ac.id “Menjadi Fitri Melalui Halal bil Halal, diunggah 09/05/2024).
Jika tradisi Islam local ini dihadirkan di hotel-hotel berbintang, maka dapat dipastikan bahwa penyelenggaranya adalah kaum “the have” yang memang memiliki kemampuan dan kapasitas yang memadai. Para pengusaha yang sukses, para pejabat tinggi dan orang penting di negeri ini tentu dapat menyelenggarakan tradisi Islam local yang di dalamnya dapat menghadirkan tidak hanya urusan religiositas tetapi juga social stratum dan social position yang memang layak menghadirkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

