(Sumber : doc.)

Musik dan Parfum

Horizon

Oleh: Sri Wahyuni 

  

Ah, entahlah....kenapa ketika mendengar suara musik atau itu nada-nada, fikiran saya merasakan sesuatu yang berbeda. Kadangkala dari bunyi musik itu  membuat anggota tubuh saya ingin bergerak. Iiihhhh fenomena apa ini yaaa... Apakah ini normal dari seorang manusia, apakah semua manusia jika mendengar musik merasakan suatu yang berbeda, ataukah hanya orang-orang tertentu aja....aaahh tak pentinglah itu...tapi yang jelas musik ini cukup membuat hatiku berkesan.  

  

Alegorisnya mungkin manusia sejak lahir dimuka bumi juga sudah melantunkan nada-nada yang dia ekspresikan lewat tangisan, lalu kemudian dia di perdengarkan juga dengan suara azan yang sungguh memukau dengan nada yang sempurna menurut saya atau suara alam seperti bunyi semilir angin, gemercik air atau gemuruh lalu lintas kendaraan yang menimbulkan nada uniknya tersendiri.

  

Bukan bermaksud beralibi tentang perilaku saya yang ketika mendengar musik lalu kemudian melakukan gerakan-gerakan tertentu.Tapi hal ini mengingatkan saya pada seorang ilmuan yang bernama Al-Farabi dalam kitab Al-Musiko Al-Kubro ia mengatakan bahwa puncak tertinggi dalam mengekpresikan hal-hal yang bersifat metafisik itu adalah estetika dan estetika itu terekpresi ketat dalam dunia musik atau sastra. 

  

Meminjam istilah ini saya teringat pada pada pengalaman kejiwaan yang pernah saya alami beberapa puluh tahun yang lalu bahwa saya bisa menggerakkan tubuh saya meski berada di alam bawah sadar saya. Hal ini bukankah menunjukan bahwa meski di alam bawah sadar keteringatan kita tentang musik masih ada sama halnya dengan beberapa surah atau ayat dalam Al-Quran masih juga teringat dan bisa  dilantunkan dengan nada-nada indah meskipun tak sama persis seperti Qori Qoriah yang terkenal itu.

  

Tidak selesai pada musik  berikut nada-nada indahnya. Hati saya juga terusik dengan parfum atau harum-haruman yang selama ini sangat saya sukai. Bukan lebay atau alay memang parfum ini tidak bisa jauh dari saya. Mau solat, mau rehat, mau tidur, mau apapun pakai parfum.  Bahkan terkadang jika pergi lalu  saya terlupakan membawa parfum mini yang biasa selalu diselip di kantong baju atau ransel maka tak pikir panjang saya harus kembali  ke rumah untuk mengambilnya.

  

Bagi saya parfum ini sebuah penyemangat saya untuk mencapai rasa percaya diri, ketenangan dan buat hati bahagia. Pernah suatu saat saya di tegur oleh seorang teman. \"Ka iiek kok pake parfum sihhh... padahal kan cuma mau jadi MC di acara webinar di layar monitor laptop dan masuk di suatu ruangan pula sedangkan di ruangan itu hanya kaka sendirian yang duduk,  bukankah tidak ada juga orang-orang yang mencium aroma kaka imbuhnya\". Saya pun tersenyum  dan mengatakan ini untuk kaka sendiri sayang supaya merasa lebih nyaman enjoy dan tenang aja.

  

Dalam sebuah kenangan parfum ini sangat lekat bagi saya. Mengapa demikian, parfum dapat mengingatkan saya pada kejadian-kejadian tertentu dimana disaat tertentu pula ketika  mencium aroma parfum tersebut tiba-tiba ingatan saya akan muncul dengan  kejadian pada saat menggunakan  parfum tersebut. 


Baca Juga : Nasihat Habib Jafar Untuk Penanya “Kapan” di Hari Lebaran

  

Bicara masalah parfum mengingatkan saya pada penelitian  Scientific American, yang mengungkap bahwa zat yang terhirup oleh hidung akan berinteraksi dengan sel-sel reseptor bau pada olfactory bulb atau bola olfaktori yang langsung terhubung dengan bagian hipokampus dan amigdala di otak. Kedua bagian ini termasuk dalam sistem limbik. Hipokampus berfungsi pada pengelolaan memori dan informasi, sedangkan amigdala berfungsi pada pengelolaan emosi.

  

Selain fungsi diatas parfum ternyata juga hadir dialam bawah sadar  dimana saya merasakan seperti mencium aroma wewangian yang tak pernah saya cium aromanya, aroma wewangian yang sungguh enak dan rasanya tak akan pernah lagi saya cium wanginya, wewangian yang sungguh luar biasa.  

  

Bicara masalah parfum atau wewangian ini mengingatkan saya pada bacaan yang pernah saya temui saat kuliah strata satu dulu dalam  buku \'The Tao of Islam\' karangan Sachiko Murata. Dalam buku itu saya membaca hadits Nabi SAW  yang fenomenal dan berbunyi “Yang kucintai dari duniamu adalah wanita-wanita dan wewangian, dan kesejukan mataku ada pada doaku.” (Ahmad dan An-Nasa\'i)

  

Fokus saya pada hadits ini adalah tentang parfum. Referensi inilah yang mungkin melatarbelakangi penggunaan dan keragaman parfum di dunia muslim. Kenapa ya kira-kira parfum disebutkan di hadits ini atau makna alegoris apa yang dimiliki parfum atau wewangian? Mungkin ini ada hubungannya dengan sifat parfum itu sendiri. Artinya kita menggunakan parfum untuk mempercantik diri atau meningkatkan rasa percaya diri dan menumbuhkan semangat (bagi saya) atau menghilangkan beberapa aspek yang kurang menyenangkan dari sifat manusia. Parfum dengan kata lain juga membantu interaksi kita dalam berhubungan dengan orang lain dan ini merupakan bentuk konvensi sosial. Lebih jauh hal ini menunjukkan bahwa adab dalam perilaku yang pantas adalah parfum moral dan perilaku. Mengharumkan perilaku kita berarti memikirkan bagaimana orang lain memandang kita sebelum kita melanjutkan. Hal ini tentu menjadikan dunia yg diciptakan oleh interaksi kita \'beraroma harum\' dan selembut mungkin: dan itu membuat dunia lebih indah. 

  

Pada akhir tulisan ini saya ingin katakan bahwa tidak masalah menggunakan aroma harum-haruman dan wewangian selama hal itu digunakan secara wajar dan proporsional pada tempat dan waktunya. Dan saya senang berbagi parfum pada orang-orang yang saya merasa \'dekat dan nyaman padanya\'.

  

Sungai Rengas, 

Ahad 12 Mei 2024 

01 : 24