(Sumber : Tamiang News)

Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ilmu Bahasa Transendental

Opini

Bahasa dipastikan memiliki relevansi dengan kehidupan manusia dan masyarakat. Di antara relasi tersebut adalah sebagaimana di dalam antropologi kognitif mengkaji tentang relasi bahasa, budaya dan pemikiran manusia. Jadi yang dikaji oleh antropologi kognitif adalah bagaimana manusia mengembangkan budaya dan bahasanya berbasis pada seperangkat pengetahuan yang dimilikinya. Kita bisa melihat perkembangan bahasa yang dikaitkan dengan budaya dan pemikiran manusia. Dewasa ini di tengah perkembangan media social, maka banyak konsep bahasa yang baru yang diakibatkan oleh relasi manusia di dalam media social. 

  

Manusia dapat melakukan relasi di antara mereka dengan menggunakan bahasa, baik secara ekpressif yang diucapkan maupun melalui simbol-simbol kebahasaan yang memungkinkan mereka bisa saling terhubung. Manusia dapat mengembangkan kebudayaan dan bahasanya melalui pemikiran yang dikembangkan. Semakin modern sebuah masyarakat maka akan semakin berkembang bahasa dan kebudayaannya. Selain masyarakat memiliki bahasanya sendiri yang dikembangkan melalui kemampuan berpikirnya dan lokalitas budayanya juga dapat berkembang melalui interaksinya dengan pemikiran dan kebudayaan eksternal lainnya. Serapan bahasa Indonesia atas bahasa Arab dan bahasa Inggris dapat dilihat dari perkembangan bahasa Indonesia. Selain itu juga terdapat serapan internal, misalnya pengaruh bahasa daerah atas bahasa Indonesia.

  

Ilmu bahasa adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur, fungsi dan penggunaan bahasa dalam kehidupan masyarakat. Adapun yang dipelajari mengenai ilmu bahasa atau linguistic adalah fonologi, morfologi, semantik, sintaksis dan pragmatic. Fonologi adalah kajian mengenai system suara di dalam bahasa, morfologi adalah mengkaji tentang struktur dan pembentukan kata, semantic mengkaji tentang makna kata dan kalimat, sintaksis mengkaji tentang struktur kalimat dan hubungan antar kata dalam berbahasa, pragmatic mengkaji tentang penggunaan bahasa dalam konteks social dan komunikasi. 

   

Di antara pengembangan ilmu bahasa adalah sosiolinguistik yang merupakan  penggabungan antara ilmu bahasa dan sosiologi. Yang menjadi sasaran kajian atau subject matter sosiolinguistik adalah variasi bahasa dan relasi antara variasi bahasa tersebut dengan kehidupan masyarakat yang terdapat keajegan dan perubahan di dalamnya. Setiap masyarakat dapat mengembangkan bahasanya sesuai dengan alam pikirannya dan fungsinya di dalam kehidupannya. Makanya di dalam ragam bahasa dan relasinya dengan kehidupan masyarakat juga terjadi perubahan dan keajegan yang relevan dengan fungsi bahasa tersebut bagi masyarakatnya. (Nur Syam, Integrasi Ilmu Madzhab Indonesia, 2023).

  

Ada beberapa konsep mendasar di dalam sosiologi bahasa atau sosiolinguistik sebagaimana pandangan De Saussure adalah langue dan parole, sintakmatik  dan paradigmatik, signified (petanda) dan Signifier (penanda). Langue adalah bahasa universal dan parole adalah bahasa lokal. Signified adalah petanda yang bercorak konseptual, sedangkan signifier (penanda) bercorak realistik.  Sintakmatik adalah penggunaan bahasa untuk memahami relasi antar kata dalam kalimat, sedangkan paradigmatik penggunaan bahasa dalam konteks yang lebih luas, yaitu konteks sosial, budaya, politik dan agama (Nur Syam, Integrasi Ilmu Madzhab Indonesia, 2023). 

  

Murid De Saussure yang terkenal adalah Noam Chomsky. Sebelum menjadi politikus, Chomsky adalah ahli sosiolinguistik. Menjadi terkenal karena berbeda dengan gurunya. Jika menurut De Saussure seseorang berbahasa karena faktor eksternal atau kemampuan dari luar  dirinya masing-masing, sedangkan Chomsky menyatakan bahwa seseorang berkemampuan berbahasa karena faktor dari internal. Untuk menjadi besar, seorang ilmuwan harus melakukan upaya distingtif dengan para pendahulunya, sehingga temuannya menjadi orisinal dan menjadi otoritas teoretik keilmuan yang berbeda dengan pendahulunya. Menurut Chomsky bahwa bahasa dapat  terekspresi di dalam perilaku dan bahasa dapat menjadi kontrol sosial. Bahasa dapat digunakan untuk menjadi sarana melakukan kritik atas kekuasaan dan perilaku sosial lainnya. Konsep yang dikembangkan adalah gramatika generatif dan gramar universal. Gramatika generatif mengkaji bahasa dari dimensi atau  faktor internal yang dapat menghasilkan banyak kalimat dan variasi-variasinya,  sedangkan gramar universal mengkaji unsur dasar bahasa yang sesungguhnya memiliki kesamaan  (Nur Syam, Integrasi Ilmu Madzhab Indonesia, 2023). 

  

Di dalam kajian integratif, terutama yang terkait dengan cabang ilmu dalam rumpun yang berbeda, misalnya ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu balaghah, ilmu ‘arudh dan sebagainya, yang berada di dalam rumpun ilmu agama, sedangkan yang berada di dalam ilmu humaniora, misalnya sejarah bahasa, filsafat bahasa, seni bahasa dan sebagainya. yang berada di dalam konteks crossdisipliner misalnya sosiologi bahasa, antropologi bahasa, psikhologi bahasa, komunikasi bahasa dan sebagainya.

  

Ranting ilmu sosial, misalnya hermeunetika bahasa, sosiolinguistik dan antropologi bahasa dan sebagainya dapat diketagorikan dalam studi crossdisipliner. Yaitu penggabungan antara rumpun humaniora dan rumpun ilmu sosial. Melalui kajian-kajian interdisipliner antara bahasa dengan cabang ilmu lain, maka akan memperkaya ranting-ranting ilmu yang terus berkembang.

   

Wallahu a’lam bi al shawab.