(Sumber : Liputan 6)

Islam, Tradisi Jawa dan Muharram 1445 H

Opini

Tentu tidak ada pedoman yang baku  di Arab Saudi  untuk memperingati  akhir tahun dan awal tahun yang sedemikian gegap gempita sebagaimana terjadi di Indonesia. Gegap gempita di dalam makna melakukan ritual-ritual yang terjadi di tengah masyarakat. Di Jawa dikenal tradisi peringatan tanggal 1 Suro yang dilakukan dengan ritual khusus. Di beberapa tempat, misalnya di Makam Raja Jayabaya, di Menang Kediri yang diyakini sebagai tempat moksa Raja Jayabaya atau di Pemandian atau Patirtan Jolotundo di kaki Gunung Penanggungan yang diyakini  sebagai petilasan pemandian kerajaan Majapahit. 

  

Di tempat-tempat tersebut Orang Jawa melakukan upacara ritual semalaman dengan membaca mantera-mantera yang khas kaum Kejawen. Bisa saja mereka orang Jawa Islam tetapi melakukan upacara ini untuk mengambil makna esoteris  yang berupa semedi dengan doa-doa khusus. Apakah ini musyrik? Nanti dulu. Bisa saja mereka memanfaatkan ruang khusus, peninggalan leluhur untuk mencapai kekhusyuaan khusus yang tidak didapatkan di tempat secara sembarangan. Tetapi juga ada,  tentu saja, orang Kejawen yang memang menjadikan malam 1 Suro sebagai acara ritual yang sesuai dengan  keyakinannya. Bulan Suro juga diyakini sebagai bulan untuk memandikan pusaka atau membersihkan pusaka atau wesi aji. Jamas tosan aji  tersebut dilakukan oleh para ahli dengan menggunakan ramuan-ramuan khusus. Jangan dibayangkan memandikan pusaka tersebut dengan menggunakan air. 

  

Saya  pernah mandi di Patirtan Jolotundo di lereng Gunung Penanggungan. Saya lupa tetapi sebelum terjadinya Covid-19. Saya tentu hanya sekadar mandi dan merasakan dinginnya air pemandian yang di masa lalu menjadi tempat mandi para  bangsawan kerajaan Majapahit. Segar sekali airnya. Bahkan air yang bersumber dari sumber air Jolotundo itu disebut air dengan kadar mineral  dan pH yang sangat baik. Hanya kalah dari mineral dan pH pada sumber air Zamzam di Makkah Al Mukaramah. Saya tidak tahu persis kebenarannya. 

  

Di dalam tradisi Syiah, bulan Muharram disebut sebagai bulan Asyura yang merupakan bulan keprihatinan, sebab pada bulan inilah Sayydina Husin dipenggal kepalanya oleh tentara Yazid bin Muawiyah, dan kepalanya dijadikan sebagai bola untuk ditendang sana sini. Untunglah bahwa kepala Sayyidina Husin yang suci itu berhasil diamankan oleh para pemujanya dan kemudian diantarkan ke Mesir untuk dikebumikan. Makam Sayyidina Husin di Mesir tersebut menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya kaum Syiah. Saya pernah berziarah ke Makam ini sewaktu kunjungan kerja ke Mesir. Di dalam buku saya: “Perjalanan Etnografi Lima Benua” (2014) saya telah menceritakan tentang kunjungan saya ke Mesir tersebut. 

  

Di Iran, bulan Asyuro dianggap sebagai bulan keprihatinan. Di Iran  dilakukan upacara untuk mengenang penderitaan Sayyidina Husin dengan mengekspresikannya dalam bentuk menyakiti diri sendiri dalam upacara ritual yang mistis. Di Indonesia juga terdapat upacara Tabut di dalam kerangka memperingati kewafatan Sayyidina Husin. Tanggal 10 Asyura merupakan wafatnya Sayyidina Husin di Padang Karbala, Iraq, tahun 680 M. 

  

Peristiwa ini begitu  tragis bagi  Cucu Rasulullah yang sangat dikasihi. Pada waktu wafatnya Sayyidatina Khadijah, Malaikat Jibril mengantarkan kain kafan untuk Nabiyullah Muhammad SAW, Sayyidatina Khadijah, Sayyidina Ali, Sayyidatina Fathimah dan Sayyidina Hasan, sedangkan cucu kesayangan Rasulullah,  Sayydina Husin tidak memperoleh kain kafan tersebut dan ternyata memang Sayyidina Husin tidak memerlukan kain kafan. Sayyidina Husin wafat  syahid di Padang Karbala.

  

Islam sesungguhnya juga memuliakan bulan Muharram. Dari bulan-bulan di dalam Islam atau bulan hijriyah, maka terdapat bulan yang dimuliakan, yaitu Bulan Maulid, Bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan Dzulhijjah dan lainnya adalah Bulan Muharram. Bagi orang Islam Indonesia, maka bulan-bulan ini merupakan bulan yang disakralkan atau dijadikan sebagai bulan yang penuh dengan keutamaan beribadah. Bulan Maulid adalah bulan istimewa karena kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, bulan Rajab disunnahkan untuk puasa, bulan Say’ban juga disunnahkan  untuk puasa, Bulan Ramadlan diwajibkkan untuk berpuasa, dan bulan Dzulhijjah diutamakan karena bulan Haji, dan Muharram diutamakan karena peringatan-peringatan atas peristiwa yang menyedihkan. 

  

Bagi masyarakat Islam Indonesia, maka untuk menutup dan menyambut tahun baru Muharram maka dilakukan upacara berdoa. Dilakukan doa  sesudah maghrib  untuk akhir tahun dan awal tahun. Tahun 1445 H, tanggal 1 Muharram jatuh pada hari Rabu, 19 Juli 2023. Ada banyak masjid yang menyelenggarakan ritual doa untuk akhir dan awal tahun. Sebagai contoh di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency, maka dibacakan doa akhir dan awal tahun baru Muharram oleh Imam Masjid, Mohammad Firdaus SHI, doa tersebut berbunyi:

  

“Allahumma ma ‘amiltu min ‘amalin min hadzihis sanati ma nahaitani ‘anhu wa lam atub minhu, wa hamaita fiha ‘alaiyya bi fadhlika ba’da qudratika ‘ala ‘uqubati, wa da’autani  ilat taubati min ba’di jara’ati ‘ala ma’shiyatika.  Fa inni astaghfiruka faghfirli wa ‘amiltu fiha mimma tardha ma wa’attani  ‘alaihits tsawaba, fa as’luka  ‘an tataqabbala minni wa la taqtha’ raja’i minka Ya Karim”. 

 

Artinya: “Ya Tuhanku , aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk kau larang sementara aku belum sempat bertaubat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu. Sementara kau mampu menyiksaku dan perbuatan (dosa) yang kau perintahkan untuk taubat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku mohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku.”

  

Pagi harinya, diselenggarakan acara tahtimul Qur’an untuk menyambut tahun baru hijriyah. Ba’da shubuh kita mulai membaca Qur’an satu juz masing-masing jamaah dan kemudian dishare kepada warga perumahan untuk mencukupkan sebanyak 30 juz. Kita berharap bahwa tahun ini akan menjadi lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.