(Sumber : Rakyat Merdeka)

Islam, Ulama dan Politik

Opini

Setiap menjelang pilihan presiden (pilpres), maka dunia ulama menjadi bahan perbincangan hangat. Hal ini terkait bagaimana peran ulama di dalam kancah politik. Ulama atau kyai dianggap bisa menjadi magnit dalam perhelatan politik. Tanpa ulama rasanya dunia politik akan menjadi hambar, seperti sayur kurang garam. Sungguh ulama memang dapat meramaikan perhelatan politik, terutama bagaimana para calon presiden (capres) saling berebut dukungan politik ulama atau kiai.

  

Secara konseptual ulama atau kiai memang memiliki umat. Kiai menjadi patron bagi masyarakat di dalam kehidupan. Itulah sebabnya, banyak kiai atau ulama yang langsung maupun tidak langsung ditarik ke dalam dunia politik, baik pada level nasional, regional maupun local. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kiai atau ulama memiliki pengaruh yang besar atas perilaku masyarakat bahkan juga prilaku politiknya.

  

Terkait dengan peran kiai, sebenarnya Islam sudah memberikan garis penting, bahwa para ulama adalah pewaris Nabi. Artinya bahwa para ulama adalah para pejuang yang meneruskan visi dan misi kenabian. Misi itu adalah bagaimana agar agama Islam yang telah dicontohkan Nabi Muhammad itu dilakukan oleh umat manusia. Baik ajaran Islam yang terkait dengan keesaan Allah atau ajaran teologis di dalam Islam, ritual atau dimensi peribadahan dan dimensi akhlak di dalam Islam. Menurut Syekh Mahmud Syaltut, bahwa Islam adalah aqidah wa syariah. Lalu tentu juga terdapat di dalamnya al akhlaq.

  

Jika memahami konteks peran Nabi Muhammad SAW dengan para ulama sebagai para pewarisnya, maka cakupan peran para ulama tersebut sangatlah luas. Bahkan dapat dinyatakan bahwa peran ulama itu meliputi semua urusan kehidupan manusia. Kehidupan keagamaan, social, ekonomi, budaya dan politik yang  menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

  

Akan tetapi jika dicarikan tipologi atas peran ulama di dalam kehidupan masyarakat, maka sekurang-kurangnya  terdapat tiga tipologi, yaitu: pertama, peran ulama sebagai penjaga moral atau etika kehidupan. Ulama merupakan orang yang memiliki standart moral yang dapat menjadi percontohan. Ulama tidak hanya menjadi panafsir ajaran agama akan tetapi juga pelaku ajaran agama. Paham dan perilakunya sangat standardized. Itulah sebabnya ulama bisa menjadi contoh di dalam kehidupan umat. Ulama menjadi tempat untuk bertanya tentang bagaimana kehidupan yang benar. Akhlaknya benar-benar akhlak yang terpuji atau akhlak yang mahmudah

  

Di dalam kehidupan,  ulama tersebut tidak tergoda oleh kehidupan duniawi yang nisbi atau kehidupan yang cenderung kepada duniawi. Ulama dengan kriteria seperti ini adalah mereka yang sudah tidak lagi terpana dengan kehidupan duniawi berupa harta dan kekayaan, pangkat dan jabatan. Mereka memang benar-benar menjadi suluh bagi kesulitan umat, menjadi api penggerak kebaikan dan menjadi teladan dalam kehidupan masyarakat. Peringkatnya berada di bawah nabi dalam beberapa tingkat. Mereka bukanlah orang yang menolak kekayaan tetapi hatinya sungguh tidak tertambat dengan kekayaan itu. Mereka justru menjadikan harta sebagai washilah agar cepat bertemu dengan Allah SWT. Contohnya adalah Syekh Hasan Syadzili, ulama tarekat Syadziliyah yang pedagang tetapi kecintaannya kepada Allah jauh lebih besar dibandingkan dengan kecintaannya pada keduniawian.  

  

Kedua, peran social terbatas. Seirama dengan segmentasi kehidupan yang semakin spesifik, maka peran ulama juga harus menyesuaikan dengan kepentingan dan disparitas social yang terjadi. Ada ulama yang selain menguasai ilmu keislaman dengan spesifikasi yang terbatas, maka juga memiliki keahlian atau kekhususan dalam penguasaan di area kehidupan social, misalnya bidang ekonomi, kesehatan, bimbingan keislaman, problem solving kehidupan social. Ada ulama yang menguasai ilmu keislaman, dan menjadi konsultan ekonomi, bahkan politik. Yang seperti ini, biasanya ulama atau kiai yang memiliki talenta dalam memahami apa yang bersifat metafisik, dan bahkan memahaminya dengan sangat mendasar. Ada kiai yang bisa menerawang masa lalu seseorang dengan sangat rinci, seperti membacakan riwayat seseorang di dalam kaca benggala yang besar. Kiai dengan tipe seperti ini seringkali bisa menjadi pemandu atau guidance bagi seseorang yang menginginkan masa depan yang lebih baik. Allah memang bisa saja memberikan kemampuan kepada hambanya untuk membaca sesuatu yang orang awam tidak mampu. Mereka orang yang linuwih.  Suatu contoh, Kiai di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan telah mengembangkan kopontren dan sekarang sudah merambah ke ritel berjejaring. Asetnya sudah mencapai trilyunan rupiah. 

  

Ketiga, kiai yang bergerak di dalam supporting politik. Ada yang terjun langsung dalam perpolitikan nasional atau local dengan menceburkan diri di dalam praktik politik, baik di partai politik maupun pejabat public. Semua memberikan nuansa politik praktis yang menguntungkan umat melalui kebijakan public yang dicetuskannya. Tetapi juga ada yang memberikan support pada politisi atau pejabat public melalui serangkaian keterlibatannya di dalam perhelatan politik. Ada banyak kyai yang melakukannya. Namun yang menarik, sebagaimana tulisan saya, bahwa keterlibatan kyai di dalam politik adalah untuk menjaga Islam wasathiyah. Di dalam pilpres 2024, maka para kyai tersebar di dalam berbagai paslon presiden dan wakil presiden, yang hakikatnya adalah untuk menjaga agar ke depan, presiden dan wakil presiden tetap menjaga keberadaan Islam rahmatan lil alamin. (nursyamcentre.com 21/12/2023). 

  

Secara empiris, keberadaan kiai dalam bidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan tidaklah memantik reaksi yang kuat, tetapi keberadaan kiai di dalam politik akan menjadikan perhelatan politik menjadi hingar bingar. Apapun yang terjadi bahwa kehadiran kiai atau ulama telah memberikan bukti bahwa para kyai sungguh memiliki literasi politik yang sangat tinggi dan hal ini tentu sangat menggembirakan. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.