Jadilah Orang yang Menggembirakan: Pondok Pesantren Taman Adiluhung
OpiniSaya didapuk untuk menjadi penceramah di dalam acara kunjungan para anggota Jam’iyah Ngaji Qur’an, ibu-ibu keluarga besar UIN Sunan Ampel, di Semarang Jawa Tengah. Mereka berkunjung ke Rumah Ibu Prof. Dr. Zumrotul Mukaffa, MAg, tepatnya di Pondok Pesantren Taman Adiluhung Kenteng, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Pondok pesantren yang didirikan oleh Mas Agung dan Bu Prof. Zum.
Mereka datang dari Surabaya dengan menggunakan Bus, sebanyak 32 orang. Mereka adalah para Ibu yang selama ini tergabung di dalam kegiatan khatmil Qur’an. Sesekali mereka hadir di rumah-rumah anggota jamaah. Setelah lima bulan yang lalu, mereka bertemu di rumah Ibu Indah Nur, maka untuk awal tahun ini mereka bertemu di Rumah atau di Pesantren yang didirikan Bu Prof. Zumratul Mukaffa. Perjalanan panjang selama empat jam, seakan hilang di kala mereka sampai di pesantren tersebut. Hadir bersama saya di acara ini: Dr. H. Saiful Mujab,MA., Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, M. Farid Wajdi, SHI, MM., Direktur Bina Jaminan Produk Halal pada BPJPH dan beberapa staf Kemenag Jawa Tengah.
Saya menyampaikan tiga hal, yaitu: pertama, sudah selayaknya kita semua bersyukur kepada Allah, sebab bagaimanapun kita masih dikaruniai Kesehatan. Sehat adalah segala-galanya. Jika badan kita sehat, maka apapun makanan, minuman, buah-buahan dan sebagainya dapat kita makan. Tentu saja makanan bagi orang yang sudah berumur. Alhamdulillah kita pagi ini masih bisa makan durian. Ada durian hitam, yang buahnya berwarna kekuning-kuningan atau keemasan, rasanya manis dan ada pahitnya. Tetapi rasa manisnya dominan. Legit. Ada durian musanking dengan rasa manisnya.
Di dalam Islam terdapat satu ungkapan, qalbun salim fi jismin salim. Yang artinya: “hati yang sehat terdapat pada badan yang sehat”. Kita semua masih merasakan Kesehatan tersebut. Jika ada yang merasa linu atau badan capek-capek tentu saja merupakan kewajaran. Badan kita sudah lama dipakai. Sama seperti kendaraan jika sudah lama dipakai maka tentu diperlukan untuk diservis. Badan kita juga harus diupayakan untuk sehat dengan periksa ke dokter atau meminum obat yang sudah teruji untuk badan kita. Tetapi yang lebih utama adalah bersyukur kepada Allah atas kenikmatan ini. Yang terpenting bersyukur dan semoga dengan bersyukur akan menjadikan nikmat Allah akan semakin membesar. Semakin banyak.
Kedua, di dalam hidup ini, kita harus bisa menggembirakan orang lain. Gembirakan diri kita dan gembirakan orang lain. Jangan hidup dengan menyulitkan orang lain. Jika kita menyulitkan orang lain, maka akan ada orang lain yang menyulitkan. Permudah dan jangan persulit. Yassir wa la tu’assir. Jika kita berdoa maka doa tersebut adalah “Allahumma yassir wa la tu’assir. Yassir lama fi kulli amrina.”
Menjadi apapun maka yang terpenting adalah membahagiakan orang lain. Jika menjadi pimpinan, maka bahagiakan bawahan kita. Jika menjadi staf maka bahagiakan pimpinan dan kawan-kawan kita. Jika menjadi istri bahagiakan suami, dan jika menjadi suami bahagiakan istri kita. Jika menjadi janda bahagiakan anak-anak atau keluarga kita. Dan jika menjadi duda maka bahagiakan keluarga kita. Pokoknya menggembirakan orang lain adalah tugas kemanusiaan yang harus dilakukan.
Nabi Muhammad SAW menyatakan: “irhamu man fil ardi wa yarhamukum ma fis sama’” yang artinya: “berikan kasihmu atas apa yang ada di bumi dan akan mengasihimu apa yang ada di langit.” Apa yang di langit itu ada malaikat, ada arwah Nabi dan Rasul dan ada Allah SWT yang dilambangkan berada di atas atau di langit. Jadi kita diminta oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk mengasihi dan menyayangi yang di bumi, sehingga akan menyayangi kita siapa saja yang ada di langit. Inilah anjuran Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang sedemikian indah bagi kemanusiaan. Insyaallah kita sudah hidup dengan berusaha untuk menggembirakan orang lain. Jadikan hati kita untuk mensupport upaya menyenangkan orang lain.
Pagi tadi saya sungguh bahagia sebab bisa tertawa lebih dari 50 kali. Saya, Pak Mujab, Pak Ahmadi dan Mas Farid bisa tertawa dengan sangat meriah karena mengingat hal-hal di masa lalu. Jika dibandingkan dengan mendatangkan pelawak atau humoris, maka saya kira kalah jauh. Tertawa dengan semangat tanpa harus mengeluarkan uang untuk pelawak. Inilah yang saya maksudkan sebagai upaya untuk membahagiakan orang lain.
Ketiga, ada satu washilah yang perlu kita sadari, yaitu membaca shalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Siapa yang banyak dan ajeg membaca shalawat, maka yang bersangkutan akan dekat dengan Rasaulullah. Di dunia ini ada sebanyak 6 miliard manusia, dan yang beragama Islam sebanyak 1 miliard. Maka dari yang sebanyak umat Islam itu nanti akan berdesakan untuk mendekat kepada Rasulullah. Maka orang yang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW akan berdekatan dengan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, mari kita langgengkan membaca shalawat. Tidak harus banyak jumlahnya tetapi istiqamahnya. Walaupun sedikit tetapi istiqamah itu akan jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak tetapi jarang-jarang.
Oleh karena itu, tiga hal ini harus diperhatikan di dalam kehidupan: bersyukur, menggembirakan orang dan bershalawat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Semoga dengan upaya seperti ini, mudah-mudahan kita semua menjadi bagian dari orang yang mencintai kemanusiaan dan mencintai kepada Nabiyullah Muhammad SAW.
Wallahu’alm bi al shawab.

