(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Jangan Jadikan Pendidikan Tinggi untuk Mencetak Generasi Parafraser

Opini

Di dalam acara Zoom Meeting di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol, Padang, 31/10/2025, saya tekankan bahwa pendidikan tinggi harus menghasilkan sarjana yang thinkingfull bukan sarjana copy paste atau parafraser. Hal ini diindikasikan oleh realitas social, bahwa ada mahasiswa atau bahkan dosen yang melakukan kerja akademis dengan memanfaatkan artificial intelligent (AI) secara utuh, sehingga karya yang dihasilkannya merupakan karya yang tidak utuh pemikirannya. 

  

Bukan tidak boleh menggunakan AI dalam kerja akademik, misalnya penelitian, menulis artikel atau bahkan menulis buku, akan tetapi tetap saja harus menggunakan etika sebagaimana moralitas dalam berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Semua dosen tentu pernah untuk menggunakan, ChatGPT atau meta AI, akan tetapi sekedar untuk menemukan kata kunci yang penting di dalam kajiannya.

  

Secara definitif bahwa artificial intelligent (AI)  adalah kecerdasan buatan dalam bidang ilmu komputer dengan tujuan untuk menciptakan piranti dalam kecerdasan untuk membantu  kecerdasan manusia. Secara historis bahwa AI ditemukan oleh McCarty pada tahun 1950-an. Kemudian dilanjutkan dengan Alan Turing yang melakukan uji coba untuk menguji kemampuan teknologi yang memiliki kemiripan dengan kecerdasan manusia. Pada tahun 1980-an terdapat perkembangan yang memberikan harapan bahwa AI dapat dikembangkan untuk pengembangan manfaat AI untuk manusia. Tahun 2000-an, AI telah berkembang dengan sangat pesat dan tahun 2020-an, AI telah mengalami perkembangan yang melampaui ekspektasi manusia. (MetaAI diunduh 10/10/2025). 

  

Perkembangan IT memang mengagumkan. IT kemudian berkembang dengan Artificial intelligent, Virtual Reality, Augmented Reality dan big data. Pada Era Revolusi Industri 4.0, maka terjadi perubahan atau bahkan lompatan tentang perkembangan teknologi. ERI 4.0 menghadirkan yang disebut sebagai Artificial Intelligent (AI), Augmented Reality (AR) dan Big Data (BD). Semuanya bertujuan untuk membantu manusia dalam kerja di dalam profesionalitasnya.

  

AI dapat menggantikan peran manusia dalam banyak aspek kehidupan. China mengembangkan mobil tanpa sopir, Tesla mengembangkan helikopter tanpa pilot, China membuat perempuan pintar, dan sebagainya. AR dapat mengubah gambar sistem dalam tiga dimensi dalam realitas kekinian dan up to date. Menyanyi Rindu Rasul yang musiknya di Finlandia, penyanyi di Bandung dan pemain keybord di Jakarta. Real time. Big Data dapat menampung data dalam jumlah tidak terbatas yang kemudian dalam waktu sangat cepat dapat dipilah dan dikategorikan sesuai dengan keinginan. Data perbankan, data dalam WA, data dalam perusahaan dan sebagainya.

  

Berdasarkan riset Alvara juga diketahui bahwa di antara para pengguna AI dapat ditipologikan sebagai berikut:   1) AI Enthusiast, mereka memiliki pemahaman yang baik terhadap AI dan percaya bahwa AI bermanfaat untuk manusia, mereka juga pioner dalam menggunakan AI. 2) AI Adopter, mereka sedikit terlambat dalam menggunakan AI, tapi masih percaya kebermanfaatan AI. 3) AI Sceptisism, mereka menilai AI lebih banyak negatifnya dibanding sisi positifnya.

  

Berdasarkan tipologi di atas juga dipaparkan tentang penggunaan aplikasi pada masing-masing tipologi sebagai berikut: Tipologi AI Enthusiast menggunakan ChatGPT 63,3%, Luminar.ai 5,2%, Gemini 14,3%, Copilot 3,9%, lainnya 16,9% dan tidak satupun 26,0%. Pada tipologi AI Adopter menggunakan ChatGPT 35,6%, Gemini 9,0%, Luminar.ai 2,5%, Copy.ai 8,6%, lainnya 9,0% dan tidak satupun 46,2%. AI skepticism menggunakan ChatGPT 10,1%, Gemini 5,4%, Copy.ai 2,0%, Luminar.ai 2,0%, tidak satupun 1,3% dan Copilot 1,3%. (nursyamcentre.com, “Para Pengguna Artificial Intelligent”, 05/12/24). Ada akademisi yang permissive dalam menggunakan AI dalam kajian ilmiah.

  

Ada yang menggunakan AI bukan sebagai alat bantu tetapi sumber utama dalam penulisan kajian akademis. Misalnya: ada orang yang meneliti tentang “Respon Sosial Generasi Milenial atas Penggunaan AI” maka yang dilakukan adalah menanyakan semua tahapan penelitiannya dengan AI: Menentukan judul penelitian. Menentukan rumusan masalah. Membuatkan pertanyaan-pertanyaan penelitian atau guide interview. Membuatkan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang ditemukan. Menentukan tipologinya. Menentukan teori yang digunakan sebagai pisau analisis di dalam penelitiannya. Tuntas semuanya dari AI.


Baca Juga : Nasihat Habib Jafar Untuk Penanya “Kapan” di Hari Lebaran

  

Pendidikan memerlukan etika untuk melakukan tindakan akademis. Etika pendidikan adalah panduan yang berisi nilai dan norma yang disepakati untuk dilakukan oleh semua komponen pendidikan. Yaitu tenaga pendidik, mitra didik, tenaga kependidikan, pimpinan lembaga pendidikan dan siapa yang terlibat di dalam dunia pendidikan, misalnya birokrasi kependidikan. Etika tersebut mencakup: lingkungan pendidikan yang kondusif bagi pengembangan kapasitas kependidikan,  membangun trust kependidikan, yang meliputi semua komponen pendidikan. Mengembangkan karakter berbasis pada kejujuran,  transparansi, keadilan, persamaan dan tanggungjawab. Di antara etika pendidikan tersebut adalah mengembangkan sikap dan perilaku  di dalam produk karya ilmiah.

  

Akademisian perlu menjaga Etika sosial dan akademik untuk kehidupan bersama. Etika akademik merupakan inti dari kehidupan bersama secara akademik. Akademisi tidak boleh bohong. Harus menjaga diri dari hal-hal yang merusak citra diri dan citra akademik. Akademisi jangan  melakukan tindakan duplikasi, pemalsuan data dan produk akademis, serta melakukan plagiasi. Akademisi harus mengembangkan kejujuran akademis dalam kehidupan ilmiah. Akademisi harus mengembangkan perilaku amanah yang sesuai dengan kaidah akademis.

  

Oleh karena itu, jadikan AI sebagai supporting dalam penulisan karya akademis: disertasi, tesis, skripsi, artikel ilmiah dan penulisan buku, makalah atau kertas kerja. Jangan dijadikan AI sebagai sumber utama seluruh proses penulisan karya akademis, dan jangan dijadikan AI sebagai penolong seluruh proses penulisan karya akademik: disertasi, tesis, skripsi, artikel ilmiah dan penulisan buku, makalah atau kertas kerja. AI adalah mesin yang sesungguhnya diperlukan untuk membantu manusia di dalam banyak aspek kehidupan. Jadikan AI sebagai mitra positif untuk kepentingan penulisan akademik. Manusia lebih hebat dibanding AI karena memiliki etika dan moral yang bersumber dari ajaran agama.

  

Jika kita menggunakan AI dengan tanpa etika, sesungguhnya kita sedang menuju kepada kematian. “Killing  Thinking: The Death of Rationality.” Dan kemudian akan terjadi  “Killing Thinking: The Death of Expertise” dan akhirnya  “Killing Thinking: The Death of University.” Jika kita berlebihan dalam menggunakan AI dalam dunia akademik, maka akan mencetak generasi yang malas beripikir.

  

AI dapat mencetak manusia yang hanya copy paste. Generasi yang hanya mengkopi dan bukan generasi pemikir. AI dapat mencetak generasi parafraser, bukan generasi thinkingfull. AI membuat generasi ke depan tidak mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah dalam banyak hal. AI harus dimanfaatkan untuk kepentingan kebaikan dan bukan kepentingan pembunuhan atas diri sendiri.

  

Para pendidik harus cerdas dalam menghadapi penggunaan AI. Hindarkan tindakan permissiveness dalam penggunaan AI. Para pendidik harus tetap mengajarkan makna penting pendidikan sebagai instrumen pengembangan SDM. Para pendidik harus mengajarkan trust, amanah dan tanggung jawab di dalam dunia akademik. Para pendidik harus membangun lingkungan pendidikan yang penuh dengan makna bagi kehidupan. Para pendidik harus menjadi contoh  dalam dunia akademik yang produktif berbasis proses yang benar dan menghasilkan karya yang orisinal.

  

Agama adalah pattern for behaviour yang dapat menempatkan manusia dalam derajad dan martabat kemanusiaan yang tinggi. Agama di dalamnya terdapat ajaran etika dan moralitas dalam membangun relasi antar manusia dan juga alam. Agama sebagai ajaran yang suci melarang perbuatan yang bertentangan dengan kesuciannya. Agama secara teologis, sosiologis, antropologis dan psikhologis memberikan jaminan bahwa hidup yang baik adalah kehidupan yang nir-kebohongan dan mengedepankan kejujuran. Agama secara keseluruhan mengajarkan kebahagiaan dan bukan hanya kesejahteraan. Sa’idun fid daraini, bahagia dunia dan akhirat.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.