(Sumber : iNews)

Jokowi, Jalan Tol dan Bus Sleeper

Opini

Saya memberikan apresiasi atas capaian Pak Jokowi tentang pembangunan jalan tol khususnya trans Jawa, meskipun target jalan tol ke Banyuwangi belum selesai. Sedang dalam proses untuk pembangunan dari Probolinggo ke Banyuwangi. Melalui pembangunan jalan tol trans Jawa ini, maka bepergian dengan bus malam terasa lebih nyaman. 11 sampai 12 jam Surabaya-Jakarta.

  

Saya memang lama sekali tidak naik bus, apalagi Surabaya-Jakarta. Pada tahun 1990 saya rutin setiap bulan pulang dari Jakarta ke Surabaya. Waktu itu mengikuti acara Program Latihan Penelitian Agama (PLPA) yang diselenggarakan berdasarkan atas kerja sama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Agama Republik Indonesia. Lumayan juga selama enam bulan. Tiga bulan di kelas untuk mempelajari teori dan metodologi dan tiga bulan full di lapangan. Ketepatan saya meneliti Tarekat Syatariyah di Mayong Jepara, Jawa Tengah. Penelitian etnografi ini kemudian berhasil dibukukan dengan judul “Tarekat Petani, Fenomenologi Tarekat Syatariyah Lokal” yang diterbitkan  LKIS, tahun 2014. 

  

Kemudian sewaktu saya mengambil program doctor di Universitas Airlangga,  saya juga harus menempuh Mata Kuliah Penunjang Disertasi (MKPD) di Universitas Gajah Mada. Diasuh oleh Dr. Irwan Abdullah (sekarang Prof. Irwan Abdullah) dan Dr. P.M. Laksono (sekarang Prof. Dr. P.M. Laksono).  Dari perkuliahan ini juga menghasilkan buku “Madzhab-Madzhab Antropologi” diterbitkan LKIS, tahun 2005. Saya wira-wiri Surabaya-Yogyakarta setiap dua pekan sekali. Berangkat dari Terminal Bungurasih jam 22.00 WIB dan sampai di Terminal Yogyakarta jam 04.00 WIB  pagi hari.

  

Lalu, lama sekali tidak naik bus. Pernah dua kali naik bus ke Tuban. Bus non ekonomi jurusan Surabaya-Semarang. Cepat juga. Selain itu saya rasa tidak pernah. Sekali waktu memang perlu untuk naik kendaraan umum untuk mengenang kembali masa-masa di mana saya mengejar-ngejar bus jurusan Tuban ke Surabaya pada hari Senin pagi kala saya dan keluarga bermukim di Tuban. Saya selalu naik bus Surabaya-Tuban pulang pergi kala masih menjadi Sekretaris Kopertais Wilayah IV, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT tahun 2000-an awal. Hanya sekali-kali saya membawa mobil dinas kala pulang ke Tuban. 

  

Pada hari Kamis, 27/06/2024, kembali saya mengenang naik bus Surabaya-Jakarta, hanya saja sekarang berbeda. Naik bus sleeper, PO. Juragan 99. Saya memang kepingin mencoba bus yang baru beroperasi pasca keberadaan jalan Tol Trans Jawa pada era Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Di masa lalu kala masih di jalanan umum atau lewat jalan non tol, maka perjalanan sekitar 14-15 jam. Maklum kendaran tidak bisa berjalan cepat sebab banyak kendaraan lain di jalanan. Tetapi berkat jalan tol, maka perjalanan relative terpangkas kira-kira dua atau tiga jam. Maklum bukan hari raya yang terbiasa macet berjam-jam. Saya berangkat dari Surabaya, tempat mangkal bus di jalan Bungurasih pukul 18.15 WIB dan sampai di tempat mangkal bus jam 04.30 WIB. Bus Juragan 99 berhenti di rumah makan di Ngawi, VIP Room,  jam 20.00 WIB untuk layanan makan dan minum. Tidak lama sekitar 30 menit. 

  

Kali ini saya tidak pergi sendiri tetapi dengan Indah, istri saya, anak-anak Yuvika Farnaz Adzkiya, Nisrina Arfa Al Abashi dan Elshanum Safina Adzkiya. Liburan. Kali ini memang saya mengajak anak-anak untuk rekreasi dengan jalan-jalan di Jakarta. Lama sekali Yuvika Fatnaz Adzkiya tidak ke Jakarta. Semenjak kepulangan saya ke Surabaya, pasca karir di Kementerian Agama Pusat, maka saya dan keluarga kembali ke Surabaya. Yuvika yang selama itu ikut saya di Jakarta, semenjak usia enam bulan sampai usia 4 tahun, tidak pernah ke Jakarta. Senang sekali mereka bertiga bisa naik bus sleeper. Katanya ingin lagi pergi dengan bus sleeper. 

  

Bus sleeper yang sangat baik. Jika saya diminta untuk memberikan nilai 0-10, maka pasti akan saya berikan angka 8. Sangat baik. Pelayanannya juga memadai. Per penumpang mendapatkan satu kamar istirahat. Ukuran dua meter dengan kursi sleeding yang bisa dinaikan dan diturunkan. Bisa untuk tidur dan nonton televisi. Tempat tidur disusun seperti ranjang susun dengan privasi yang baik. Lampu yang bisa disetel temaram layaknya berada di diskotik.  Desain atap kamar yang memadai. Ada panel control televisi, bantal dan guling serta selimut untuk menghangatkan badan. Tingkat kedinginan ruang juga bisa ditaur sesuai dengan selera. Selain itu juga snack, free WF dan air mineral.  Ukuran saya sederhana jika saya bisa tidur, maka naik bus sleeper tentu menjanjikan. Saya bersyukur bisa beristirahat pada perjalanan Surabaya-Jakarta. Jika ingin teh atau kopi hangat juga disediakan tempat, termasuk juga toilet yang relative bersih. Naik turun ranjang juga tidak sulit. Ketepatan saya berada di ranjang atas termasuk Yuvika dan Arfa. Sementara itu Indah dan Echa di ranjang bawah. Dasar anak-anak, maka mereka naik turun ranjang, ke bawah dan ke atas.

  

Bagi saya saja sebuah sensasi apalagi bagi ketiga anak-anak tersebut. Baginya tentu pengalaman yang tidak terlupakan. Semula mereka takut, terutama yang di tempat tidur atas. Tetapi lama-kelamaan nikmat juga seperti diayun-ayun. Mereka semua bisa tidur nyenyak, bahkan kala sudah sampai di Bekasi harus membangunkannya. Sungguh sebuah rihlah yang menyenangkan. 

  

Memang pasca peresmian jalan tol tersebut banyak bus sleeper yang hadir sebagai transportasi darat. Setiap perusahaan transportasi memiliki bus sleeper, seperti  PO Juragan Trans 99, PO Rosalia, PO Sinar Jaya, PO Tami Jaya, PO Agra Mas, dan PO Brilian. Kapasitas bus sebanyak 22 penumpang dalam varian usia. Ada yang muda dan senior. Jangan disebut tua. Saya yakin para penumpang memiliki pengalaman yang sama. Bahkan ada di antaranya yang sudah dua atau tiga kali naik bus sleeper. Jam 05.00 WIB saya dan keluarga meluncur ke rumah anak saya, Shietfa Dyah Elyusi  di Bekasi, tepatnya di perumahan  Grand Melati Recidence Bekasi diantarkan oleh Mas Ari staf pada Badan Penyelenggara  Jaminan Produk Halal atau BPJPH. Begitu sampai di rumah Bekasi, maka Eva dan Nasrul sudah siap menyambutnya. Demikian pula anak-anak, Sahif, Kifa dan Fathan. Luar biasa senangnya. Berangkatnya juga diantar oleh Ananda Evi dan Kiki. 

  

Hanya sayangnya  saya dan keluarga tidak sempat foto di Bus Sleeper PO Juragan 99 Trans. Padahal sebelumnya sudah ingat ingin foto untuk ilustrasi tulisan ini. Akan tetapi karena harus menurunkan koper dan barang-barang bawaan, akhirnya lupa tidak mengambil foto. Sungguh  sangat menyesal. Namun bertemu dengan anak dan cucu melebihi segalanya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.