Kala Ajaran Intoleran Dieliminasi di Saudi Arabia
OpiniPagi sebelum subuh, saya mendapatkan kiriman Tiktok melalui WA dari Cak Dhofir, Kanit I Bidang Pencegahan Ideologi Radikal Densu 88 Anti Teror, tentang pernyataan Mohammad Bin Salman (MBS), tentang bagaimana Kerajaan Arab Saudi melakukan “pemberangusan” atas ajaran Wahabi yang dianggapnya sebagai penghambat kemajuan dan pengimpor ajaran radikal di dunia. Pemerintah juga menghentikan donasi untuk Islam Rusia dalam kaitannya dengan ekspor Wahabisme dan juga di Swedia. Hal ini dipicu oleh dukungan Wahabisme di Saudi Arabia kepada ISIS beberapa tahun terakhir. Di dalam WA pagi itu Cak Dhofir menyatakan: “siap Prof. tugas kita ini tidak semakin ringan, ke depan umat Islam ini harus tahu yang sebenarnya bahwa kita sekarang ini sedang diadudomba sesama umat Islam”.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror memang sedang menggalakkan gerakan penanggulangan atas kekerasan agama selain tetap mempertahankan upaya untuk melakukan tindakan pengamanan atas individu yang sudah terpapar. Jadi, selain tindakan pengamanan atau hard power, juga dilakukan tindakan pencegahan atau soft power dalam mengeliminasi tindakan kekerasan beragama yang bisa membuat gaduh dan disharmoni bangsa. Perubahan paradigma ini tentu sangat penting untuk dicermati dan didukung oleh segenap komponen bangsa yang menginginkan persatuan dan kesatuan bangsa berdasar atas common platform Pancasila sebagai dasar negara.
Menu sahur yang luar biasa pagi ini. Saya dengarkan konten WA tersebut, dan saya memahami tentang upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Raja Salman, yang memang “geram” terhadap kelompok Wahabi karena dianggap sudah melampaui batas, utamanya terkait dengan dukungan ulama-ulama Wahabi kepada ISIS yang jelas dianggap oleh pimpinan kerajaan sebagai upaya dukungan atas bentuk kekerasan yang dilakukan oleh ISIS. Sebagaimana pernyataan Prof. Sumanto Al Qurtubi dalam diskusi di Percik ADP, bahwa pemerintahan Raja Salman memang sedang membersihkan Arab Saudi dari paham dan tindakan intoleran yang dilakukan oleh oknum-oknum anti negara. Ketika terjadi perdebatan apakah akan mengadopsi system demokrasi, maka pemikiran politiknya adalah lebih baik memilik system mamlakah tetapi rakyatnya sejahtera dibandingkan dengan system demokrasi yang rakyatnya tidak sejahtera. (nursyamcentre, 02/04/23).
Arab Saudi memang sedang berubah. Ada banyak perubahan yang dilakukan terutama untuk mengadaptasi atas modernisasi yang dianggap sebagai kaharusan dalam relasi internasional. Arab Saudi membuka peluang perubahan ekonomi yang biasanya bertumpu pada gas dan minyak bumi dengan ekonomi yang lebih luas. Bahkan juga membuka peluang investasi bagi pengusaha dari negara-negara asing. Itulah sebabnya, maka ada banyak tradisi negara asing, khususnya Barat yang diadaptasi. Termasuk rencananya untuk membuka rekreasi modern, IT modern dan pusat perkantoran modern. Itulah sebabnya, Pangeran MBS dianggap sebagai musuh dari para ulama Wahabi tradisional yang menganggap bahwa Pangeran MBS sudah melampaui batas.
Namun demikian, saat Wahabi dibersihkan di Saudi Arabia, maka saya memperkirakan akan terjadi eksodus besar-besaran ke luar negeri. Kaum Wahabi sudah menguasai pemahaman keagamaan di berbagai wilayah. Terutama umat Islam di negara-negara Barat. Umat Islam di Barat yang kebanyakan adalah imigran dari Timur Tengah kebanyakan membawa pemahaman keagamaan yang bercorak revivalisme. Dan sungguh membuat kekhawatiran, bahwa mereka mengincar Indonesia yang selama ini telah menjadi ajang pertarungan otoritas keagamaan. Kelompok Salafi Wahabi relative eksis dengan dukungan legislative, partai politik, pendidikan, lembaga keuangan syariah, generasi muda dan media social yang andal.
Kita masih bisa mengingat sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia adalah kala ulama-ulama tasawuf itu dipinggirkan di kerajaan Timur Tengah, maka kemudian menemukan lahan subur di Nusantara. Kedatangan mereka sedemikian welcome bagi masyarakat Indonesia, dan akhirnya Islam yang sekarang kita nikmati adalah Islam hasil kreativitas para Waliyullah yang mendakwahkannya di Nusantara.
Pemikiran akan masuknya ulama-ulama Salafi Wahabi di Indonesia memang masih merupakan hipotesis. Tetapi melihat geliat Gerakan Salafi Wahabi di Indonesia, maka bukan tidak mungkin bahwa Indonesia akan menjadi tujuan migrasi ulama-ulama Salafi Wahabi di masa yang akan datang. Dakwah salafi yang secara terang-terangan dan memperoleh dukungan sebagian masyarakat tentu merupakan indikasi bahwa mereka sudah eksis. Hanan Attaqi di Madura dan sebagian Jawa Timur, Khalid Basalamah yang terus menyerang tradisi Islam Indonesia, Jawwas yang menyerang praktik ibadah di Indonesia, dan “serangan” terstruktur dan sistematis atas pemahaman dan pengamalan Islam serta penguasaan sumber-sumber daya ekonomi syariah adalah bukti awal tentang “kebenaran” hipotesis yang saya kemukakan.
Oleh karena itu, jika tidak ingin melihat Indonesia di masa yang akan datang yang berada di dalam nuansa disharmoni dan konfliktual, maka ulama-ulama yang menggerakkan moderasi beragama harus menyatu. Jangan sampai dipecah belah satu dengan lainnya. Tantangan sudah berada di depan mata, dan kita tidak boleh lengah. Tali rafia tali sepatu. Masyarakat Indonesia harus bersatu.
Wallahu a’lam bi alshawab.

