Kearifan Ulama Kearifan Umat
OpiniSaya bukanlah ahli ilmu keislaman yang tuntas. Saya bukan ahli fikih, ahli ushul fiqh, ahli hadis, ahli tasawuf, apalagi ahli ilmu tafsir. Saya hanya pernah belajar tentang ilmu keislaman yang dasar-dasar saja. Makanya saya tidak layak menyandang label ulama dalam konteks ahli dalam ilmu keislaman. Jika boleh menyebut, maka saya hanyalah sedikit sekali menguasai ilmu agama dan tidak banyak menguasai ilmu-ilmu sosial. Orang yang seusia saya sudah sulit untuk melakukan pengembaraan keilmuan, sebagaimana mereka yang masih muda dan bertalenta. Jika saya terus menulis, maka hanyalah refleksi atas apa yang saya pahami dari dunia sekitar , terkait dengan fenomena sosial, budaya atau politik dalam kaitannya dengan kehidupan manusia pada umumnya.
Saya merasa perlu menulis tentang nuansa kehidupan sosial akhir-akhir ini, terutama riuh rendahnya kehidupan di era teknologi informasi dengan anak cucunya seperti media sosial, revolusi industri 4.0 bahkan suasana phubbing. Yakni masa di mana teman dekat sesama manusia bukan hadir secara fisikal tetapi teman dalam dunia maya. Istilah phubbing untuk menggambarkan orang yang berada di dalam waktu dan tempat yang sama dalam kebersamaan tetapi tidak saling bercanda dan berbicara dengan kawan atau sahabatnya tersebut. Mereka chatting kepada teman atau sahabat yang jauh, atau membuka kanal Youtube atau Twitter, IG, WA dan pesan-pesan lainnya.
Sesungguhnya ulama memiliki peran yang sangat penting di masa lalu. Para ulamalah yang mengobarkan semangat “jihad” dalam konteks perang di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Banyak perlawanan yang dilakukan oleh ulama, misalnya Pemberontakan Petani Banten, 1888 diinisiasikan oleh para ulama. Perang Diponegoro, tahun 1825-1830, juga dilakukan oleh para ulama. Perang Aceh juga dilakukan oleh para ulama. Mereka semua menyatakan bahwa perang itu adalah jihad fi sabilillah, sebab perang itu untuk membebaskan umat Islam dan semua orang yang berada di Nusantara agar bebas dan merdeka. Agar umat Islam dapat beribadah dan menentukan nasibnya sendiri dan bukan di tangan penjajah.
Pada proses kemerdekaan para ulama juga memiliki peran yang sangat signifikan. Merekalah yang menjustifikasi Pancasila sebagai dasar negara, NKRI dan UUD 1945. Bisa dibayangkan seandainya ulama Muhammadiyah dan NU tidak memberikan persetujuan tentang frasa “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai ganti “Ketuhahan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”, maka dipastikan Indonesia tidak seperti sekarang. Dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Bukti-bukti sejarah inilah yang memberikan legitimasi bahwa para ulama memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sesungguhnya kearifan ulama seperti ini yang dibutuhkan kapan dan di manapun. Bukan ulama yang selalu mendukung pemerintah tanpa reserve dan juga bukan ulama yang selalu berpikir negatif tentang pemerintah. Bukan Ulama yang menganggap bahwa semua yang dilakukan pemerintah benar dan juga bukan ulama yang berpandangan bahwa semua yang dilakukan pemerintah salah. Ulama adalah seseorang yang dapat menempatkan kedua kakinya dalam posisi yang netral atau independen. Dari situ maka akan dapat menyuarakan dengan kearifan mana yang harus diapresiasi dan mana yang harus dikritisi.
Saya kira selalu ada yang benar dan ada yang salah. Tidak semua salah dan juga tidak semua benar. Selalu ada situasi plus dan minus. Jika plus tentu harus diapresiasi dan jika minus tentu diperbaiki. Pemerintah itu ranah politik dan agama itu ranah pedoman. Jika agama tidak menawarkan negosiasi maka ranah politik selalu berada di dalam negosiasi. Jika masing-masing kemudian tidak saling memahami posisi ini, maka yang ada selalu dalam benturan. Maka ulama harus mencari jalan ketiga, yang bergerak di antara pedoman dan negosiasi. Itulah yang bisa saja disebut sebagai negosiasi politik berbasis etika. Jadi bukanlah politik tanpa etika.
Kearifan ulama adalah mearifan umat. Artinya bahwa para ulama merupakan referensi umat dengan kearifannya, sehingga masyarakat merasa bahwa yang dilakukan telah menjadi begian dari tindakan yang baik dan benar. Kita meyakini bahwa ketika seseorang dilabel dengan ulama dipastikan bahwa yang bersangkutan memiliki kelebihan dalam ilmu, pengamalan dan pengalaman dalam ilmu keislaman. Maknanya bahwa seorang ulama dipastikan memiliki kelebihan yang tidak dapat disamakan dengan orang awam, bahkan orang yang memiliki Ilmu pengetahuan tetapi tidak dalam konteks ilmu keislaman. Peribahasa Indonesia menyatakan “sebagaimana padi, semakin berisi semakin merunduk”. Jadi Ketika seseorang sudah berlabel kyai, ajengan, lora atau dengan istilah generik disebut sebagai ulama, maka dia akan semakin merundukkan mukanya, melembutkan ungkapannya, atau semakin tawadhu’.
Dengan demikian, seorang ulama dipastikan juga berilmu padi tersebut. Seorang ulama yang berilmu padi tentu tidak akan mencaci maki, menghina orang di depan orang banyak, tidak suka marah-marah, tidak suka berkata yang jelek, tidak akan melakukan tindakan yang mendegradasi label yang ada pada dirinya. Sebagai manusia tentu ada suasana yang membuatnya “marah”, atau membuatnya “jengkel” akan tetapi di dalam konteks ini maka yang terbaik adalah “diam”. Bukankah Nabi Muhammad SAW berkehendak “lebih baik diam”, atau dalam bahasa teks suci dinyatakan: “berbicaralah yang baik atau lebih baik diam”. Di dalam Bahasa Indonesia kemudian dikenal suatu pernyataan: “diam itu emas”.
Kita mendengar akhir-akhir ini betapa para ulama harus silang sengketa pendapat. Banyak orang yang disebut ustaz sebagai bagian dari ulama yang mengumbar pernyataan-pernyataan yang bisa memanaskan telinga, membuat hati mendidih karena marah. Pernyataan yang terunggah di media sosial tersebut tentu akan menjadi bahan bagi orang lain untuk antipati atau bahasa kerennya Islamphobia sebab di dalam interen umat Islam saja terjadi pertarungan atau pertengkaran yang tidak kunjung selesai.
Jika ini terus terjadi maka energi kita untuk membangun umat Islam agar menjadi umat yang baik, yang wasathan, yang berkekuatan secara ekonomi, politik dan socsal budaya pasti akan semakin jauh. Saya terus terang berpikir, “siapa dibalik dalang semua ini”. Adakah intern umat Islam sendiri atau memang ada faktor eksternal. Rasanya diperlukan kajian yang mendalam untuk memahami in order to motive atau because motif atas kekisruhan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

