Kebiadaban Israel Derita Palestina
OpiniSebagai negara yang bisa disebut sebagai state terrorism, maka apapun bisa dilakukan untuk mencapai tujuannya. Di manapun yang namanya terorisme pastilah tidak memiliki sedikitpun “perasaan” terhadap yang dianggap lawannya. Oleh karena pembantaian demi pembantaian yang dilakukannya terhadap warga Palestina seakan tiada kata henti. Bahkan nyaris setiap hari terdapat sejumlah kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap para pemukim di jalur Gaza. Mereka memang sangat bernafsu untuk menguasai jalur Gaza.
Israel pantaslah disebut sebagai negara terror, sebab yang dilakukan nyaris setiap saat tidak ada lain kecuali melakukan pembantaian demi pembantaian terhadap warga sipil di wilayah Gaza. Sangat sulit diketahui berapa banyak korban yang diakibatkan oleh kebrutalan Israel terhadap warga Palestina ini. Nyaris tiap hari hari terjadi kekerasan fisik dan sosial yang dilakukan terhadap warga Palestina terutama di wilayah yang diklaim sebagai wilayahnya, khususnya jalur Gaza.
Hari ini, 08 Mei 2021, kita kembali dikejutkan dengan pemberitaan di media sosial tentang kebrutalan tentara Israel yang melakukan penyerangan terhadap warga sipil Palestina yang sedang melakukan shalat tarawih. Sebagaimana video di media sosial, yang disiarkan oleh seorang warga negara Malaysia, maka terdapat sebanyak 178 orang jamaah shalat tarawih di Masjid Al Aqsha yang menjadi korban kekerasan, ada yang meninggal dan ada yang luka-luka. Saya mendengarkan video ini melalui tayangan YouTube yang diunggah melalui WAG para Profesor PTKIN. Tentu ada banyak komentar dan tanggapan tentang unggahan video ini.
Gambaran kebrutalan Israel terhadap warga Palestina sudah terlalu sering diberitakan baik melalui media televisi, kanal YouTube maupun media massa. Semua menggambarkan bahwa memang pantas jika Israel disebut sebagai negara teror dengan tingkat kekerasan yang luar biasa. Semuanya menggambarkan bahwa negara memang membiarkan para aparatnya, khususnya tentara Israel, untuk melakukan kekerasan fisik bahkan menembaki rakyat sipil yang tidak bersenjata. Sebagaimana yang bisa dilihat dalam tayangan YouTube tersebut, bahwa para tentara dengan sepaut lars memasuki masjid dan menginjak kepala jamaah shalat tarawih dan juga menginjak-injak kitab suci Al-Qur’an. Lalu,dengarkan himbauan kepada umat Islam di seluruh dunia melalui masjid atau surau agar menengadahkan tangan berdoa kepada Allah SWT agar kebiadaban Israel dikutuk oleh-Nya, dimohonkan agar para Imam dalam shalat wajib dan shalat tarawih membacakan qunut nazilah untuk meminta kepada Allah agar rakyat Palestina dijauhkan dari kedzaliman Israel. Juga agar masyarakat Muslim memberikan donasi kepada para penderita kekerasan tentara Israel.
Kekejian Israel ini tentu sudah mengundang simpati dari berbagai negara, termasuk negara Indonesia yang selalu mengecam dengan keras tentang kekerasan yang dilakukan oleh Israel. Namun demikian, himbauan dan kutukan tersebut selalu saja dianggap tidak ada artinya. Hal ini tentu terkait dengan dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Amerika selama ini menggunakan standar ganda atau double speaks. Ke luar seakan-akan mengecam Israel tetapi ke dalam mendukung luar biasa. Misalnya, ketika Israel menyerang rakyat Palestina dengan memasuki kawasan Palestina, maka hal tersebut tidak disebut sebagai invasi atau teror tetapi dianggap sebagai tindakan balasan terhadap rakyat Palestina yang menyerang Israel, tetapi sebaliknya jika rakyat Palestina melakukan balasan serangan dianggap hal tersebut sebagai tindakan kekerasan atau terorisme. Politik double standards atau double speaks inilah yang membuat Israel selalu berada di dalam posisi melakukan teror dan kekerasan terhadap rakyat Palestina.
Sesungguhnya Islam, Yahudi dan Nasrani disebut sebagai agama Semitis. Agama yang bersumber dari satu moyang, yaitu Nabi Ibrahim Alaihi Salam. Dari Nabi Ibrahim ini kemudian menjadi tiga cabang sesuai dengan jalur keturunannya, yang dari Nabi Ismail kemudian melahirkan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah akhir zaman, lalu dari Nabi Ishaq kemudian melahirkan Nabi Musa, yang melahirkan agama Yahudi, dan melalui Nabi Isa menjadi Nasrani. Jadi sebenarnya, Islam, Nasrani dan Yahudi itu berasal dari satu ajaran Nabi Ibrahim, yang di dalam konsepsi Islam disebut sebagai peletak agama yang Hanif atau agama tauhid pra-Islam.
Akan tetapi permusuhan antara Umat Islam dan Yahudi semakin menguat pasca pendirian Negara Israel yang disponsori oleh Barat, 14-Mei-1948. Para pelarian kaum Yahudi ini kemudian mendirikan negara di wilayah Israel sekarang dan menganggap bahwa wilayah-wilayah di sekitarnya adalah wilayah Bani Israel di masa lalu dan ingin direbutnya kembali. Faktor politik inilah yang menyebabkan terjadinya konflik demi konflik yang melibatkan antara Palestina dan Israel, sebab wilayahnya nyaris berhimpitan. Misalnya Yerusalem dianggap sebagai Ibu Kota Israel dan juga menjadi klaim bangsa Palestina. Faktor politik atau penguasaan atas wilayah inilah yang kemudian menjadi fakktor pertumpahan darah terus menerus dewasa ini.
Bangsa Palestina ini tidak memiliki kekuatan yang memadai kecuali dukungan yang diberikan oleh beberapa negara yang simpati atas perjuangan bangsa ini, sementara itu bangsa Israel memiliki sejumlah dukungan dari negara-negara adidaya dan juga perlengkapan persenjataan yang memadai. Inilah sebabnya, kekerasan demi kekerasan terhadap bangsa Palestina juga terus berlangsung dengan tanpa pembelaan yang memadai. Sejauh yang bisa dilakukan oleh negara pendukung Palestina adalah kutukan keras.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga nyaris tidak berbunyi meskipun PBB selalu mendengungkan upaya perdamaian dunia. Bahkan HAM internasional juga tidak melakukan apapun terhadap kekerasan ini. Semua sudah bersepakat dengan konsep double speaks policy, sehingga bangsa Palestina akan selalu menjadi penderita dalam relasi bangsa-bangsa di dunia.
Wallahu ‘alam bi al shawab.

