(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Makna Baru Kepahlawanan: Hari Pahlawan 2024

Opini

Indonesia ternyata sudah memasuki kemerdekaannya yang ke 79 tahun. Beberapa tahun ke depan Indonesia akan memasuki 100 tahun Kemerdekaan Indonesia, 2045, yang ditandai dengan Bonus Demografi  dengan indikator semakin banyak generasi muda yang produktif yang berbanding terbalik dengan  generasi tua yang semakin sedikit. Hanya Indonesia yang di dalam satu abad kemerdekaannya mendapatkan Bonus Demografi. Indonesia menjadi negara yang semakin muda, sementara itu beberapa negara lainnya justru menjadi semakin menua. Jepang, Singapura, dan negara-negara barat akan mengalami negara yang menuju ketuaan.

  

Diperkirakan bahwa penduduk usia muda pada tahun 2045 akan mencapai angka di atas 70%. Sebuah komposisi penduduk yang sangat ideal sebab kebanyakan adalah generasi muda yang usia produktif, sehingga tidak menjadi beban negara. Mereka akan menguntungkan negara. Berbeda dengan negara-negara yang semakin menua, maka penduduknya akan menjadi beban negara dengan berbagai tunjangan hari tua yang mesti tidak dapat dihindarkan dan juga ketergantungan pada tenaga kerja yang berasal dari negara lain. 

  

Tanggal 10 November ditandai sebagai  peringatan hari Pahlawan. Suatu hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu sebuah perlawanan rakyat yang dilakukan di Kota Surabaya, tanggal 10 November 1945. Masyarakat bergerak secara serentak untuk melawan Belanda dan sekutunya untuk kembali menjajah Indonesia. Melalui pekikan Allahu Akbar, maka nyaris semua penduduk Surabaya dan sekitarnya melawan atas agresi Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Dibantu oleh tentara Inggris dan Amerika, Belanda melakukan perang di Surabaya, yang dilawanoleh rakyat  dengan segenap kekuatan. Tentara Belanda dan sekutunya menggunakan senjata modern, sementara rakyat menggunakan senjata seadanya. Bambu runcing, pentungan, dan apa saja yang bisa dipakai melawan tentara Belanda dan sekutunya digunakannya. Dengan senjata apa adanya tersebut, akhirnya pembela kemerdekaan dapat membunuh Jenderal Mallaby, komandan pasukan Inggris dan tentara sekutu. Gemuruh kalimat tauhid, Allahu Akbar,  menjadi penyemangat berperang tanpa ada  rasa ketakutan.

  

Di antara salah satu inspirasi yang mendasar agar rakyat melawan terhadap kolonial adalah seruan jihad yang dikumandangkan oleh para Kiai. Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari mengumandangkan seruan Resolusi Jihad untuk membela kemerdekaan Indonesia. Melalui seruan jihad ini, maka mereka merasakan berjuang untuk membela kemerdekaan Indonesia berbasis seruan agama. Kata jihad menjadi penting di tengah perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Inilah yang disebut sebagai harakah jihadiyah. Gerakan jihad atas keinginan untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir para penjajah. Perjuangan ini membuka mata dunia, bahwa Negara Indonesia memperoleh dukungan penuh dari rakyatnya.

  

Makna jihad di masa perang dengan di masa damai tentu berbeda. Harakah jihadiyah dalam konteks perang tentu diberlakukan dan menjadi “kewajiban” dalam keadaan peperangan untuk membela kebenaran. Rakyat Indonesia dengan dukungan ulama dan pemerintah melakukan jihad fi sabilillah dalam bentuk perang melawan kepada penjajah. Tetapi menjadi aneh, jika jihad di masa damai menggunakan perang sebagai instrumennya. Di kalangan teroris, jihad hanya memakai satu makna saja, yaitu perang. Tidak ada yang lain. Kapan dan di mana saja. Selama ada kemungkaran dalam konsepsi mereka maka perang dapat dilakukan. Di dalam pemahaman mereka, bahwa jihad adalah perang. Perang adalah jihad. Tidak ada makna jihad selain itu.

  

Pada era sekarang tentu tantangan jihad sungguh berbeda. Saya mencoba untuk mengidentifikasi tantangan jihad tersebut bagi generasi milenial. Ada tiga tantangan penting, yaitu: pertama, tantangan beradaptasi dengan teknologi informasi. Generasi milenial tidak bisa melawan atas teknologi informasi. Hal yang bisa dilakukan adalah adaptasi. Tantangan artificial intelligent tentu tidak kalah dibandingkan dengan tantangan menghadapi lapangan pekerjaan yang semakin kompleks. Pekerjaan bisa diambil alih oleh robot dengan berbagai variasinya. Lapangan pekerjaan semakin tersegmentasi. Semakin terbatas. Sementara itu keahlian robot dapat mengalahkan tenaga kerja manusia. Di sinilah arti pentingnya berpikir kreatif. Diyakini bahwa akan terdapat banyak peluang juga jika manusia bisa beradaptasi dengan teknologi informasi. Ada banyak peluang dengan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan manusia. 

  

Kedua, tantangan kerja keras dan konsistensi. Di antara ciri khas generasi milenial adalah dengan pencirian, misalnya generasi  latte factor, generasi strawberry, dan generasi sandwich   yang menggambarkan tentang kerentanan generasi milenial di dalam menghadapi tantangan  kehidupan. Generasi milenial merupakan generasi yang seharusnya memiliki keuletan dan ketelatenan yang sungguh-sungguh di dalam merenda kehidupan. itulah sebabnya generasi milenial harus memiliki kemampuan untuk berpikir  kritis untuk kepentingan memecahkan masalah dan juga kemampuan berpikir kreatif untuk menemukan inovasi baru. 

  

Ketiga, di tengah media social yang semakin massif, salah satu efek bagi  generasi milenial dapat mengakses segala informasi baik yang berkonten positif maupun negatif. Di antara yang negatif adalah konten yang berisi informasi seksualisme, pornografi dan pornoaksi, terorisme, dan kekerasan sosial. Generasi muda harus berkemampuan  untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Generasi muda harus cerdas dalam memanfaatkan  media social dan teknologi informasi. Dengan literasi media, mereka tidak akan jatuh ke dalam pelukan kaum teroris yang selalu berpendirian bahwa jihad adalah perang, tidak perduli dalam nuansa perang atau damai.

  

Oleh karena itu, diperlukan makna baru kepahlawanan, yaitu pahlawan dalam karya nyata untuk Indonesia. Bukan karya nyata hanya untuk diri, golongan,  suku dan agamanya, akan tetapi untuk Indonesia. Hal yang diperlukan untuk Indonesia Emas 2024 adalah pemahaman, sikap dan tindakan yang bercorak Keberagamaan, Keindonesiaan dan Kemoderenan. Agama dalam coraknya yang moderat dan bukan yang radikal. Generasi milenial harus tetap berada di dalam koridor sebagai bangsa Indonesia.  di dalam Islam dapat dirumuskan: Keislaman, Keindonesiaan dan Kemoderenan. Orang Islam Indonesia yang modern.

  

Makanya, tantangan teknologi informasi dengan berbagai turunannya harus tetap di dalam bingkai keIndonesiaan. Hanya dengan cara berpikir, bersikap dan bertindak seperti ini, makna kepahlawanan akan menuai kebenarannya. 

  

Walllahu a’lam bi al shawab.